Minggu, 17 November 2013

Potensi Asbes Di Indonesia

1. Pendahuluan 

Asbes merupakan mineral yang terdapat di alam. Asbes adalah istilah umum dari serat mineral yang terdapat di alam dan terdiri dari berberapa jenis seperti amosit, krosidolit, tremolit, antofilit, amfibol dan krisofil. Endapan asbes di Indonesia terdapat di beberapa lokasi, dan untuk pengembanganya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Mengingat hal tersebut, diperlukan informasi yang lengkap mengenai asbes di Indonesia. Kegunaan Asbes antara lain sebagai bahan baku industri, seperti industri barang dari karet, industri bahan bangunan, industri perlengkapan dan komponen kendaraan roda empat. Kebutuhan asebes sebagai bahan baku itu semakin meningkat dan diperlukan pengolahan asbes di Indonesia.

2. Kondisi Geologi Pembentukan Asbes

Asbes merupakan salah satu hasil dari transformasi batuan atau mineral lainnya. Ganesa asbes terbentuk kemungkinan lebih dari satu juta tahun yang lalu sehingga perlu dibedakan antara proses transformasi dengan kegiatan produksi asbes.
Variasi dari formasi asbes tidak terbentuk secara keseluruhan tetapi bersifat relatif dan saling mempengaruhi. Hal ini disebabkan antara lain oleh pergerakan tektonik lokal dan kondisi geologi, keadaan permukaan , rekahan, tekanan, keadaan temperatur, dan faktor intrusi lainnya. Proses transformasi membedakan dua kelompok asbes yaitu proses transformasi metamorfik serpentit dan jenis amfibol. Proses metamorfosa ini memperkaya material dengan SiO2.

Mineralogi
Asbes adalah istilah pasar untuk bermacam macam mineral yang dapat dipisah - pisahkan , sehingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya asbes dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu :
- Golongan Amfibol yaitu mineral Aktinolit, antofilit, amosit , tremolit, dan krosidolit.

- Golongan serpentinit yaitu minerla krisotil yang merupakan hidroksida dari magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11)H20.

Walaupun sudah jelas mineral asbes terdiri dari silikat kompleks tetapi sebenarnya silikat itu berasal dari molekul molekul Si4O11.

Beberapa komposisi mineral asbes adalah sebagai berikut :

Antofilit yaitu amfibol ortorombik dengan komposisi mineral (MgFe)II7(OH)2(SiO11)2.
Termolit komposisi mineralnya Ca2Mg5(OH)2(Si4O11)2.
Amosit adalah antofilit yang kaya akan besi atau feroantofilit dengan komposisi MgAlFe3(II)Fe(III)(OH)2(Si4O11)2.
Krosidolit disebut juga blue asbestos karena warna birunya termasuk dalam mineral Riebeckite yaitu suatu amfibol berbentuk monoklin. Komposisi kimianya Na2MgFe5(II)(OH)2 (SiO11)2.
aktinolit yaitu bila oksida datang menggantikan magnesium dari tremolit. Komposisi mineralnya C2(Mg,Fe)5 (OH) 2 (SiO11)2



Sifat Fisika dan Kimia

Sifat yang dimiliki suatu jenis mineral asbes dapat menentukan kualitas dari serabut asbes tersebut.

Sifat Fisika

Tegangan serabut asbes setelah pemanasan dan dalam campuran udara uap. Sifat utama dari asbes ialah penahan panas dan sifat ini tidak sama dengan setiap jenis asbes. Contoh blue asbestos pada suhu biasa lebih konstan kepadatannya daripada krisotil tetapi pada suhu lebih tinggi dari 200 C sebagian tegangan menjadi hilang, sedangkan krisotil sampai suhu 400 C hampir tidak terdapat kehilangan tegangan. Shingga krisotil lebih kuat dari asbestos  sampai suhu 400 C

Hasil Pengujian tegangan material , daya tahan material berat jenis dapat dilihat di bawah ini :

Krisotil berat jenis 2,5 gr/cm2 , tegangan 8-10 x 10.000 psi , panjang 22,4-30 km.
Antofilit berat jenis 3,2 gr/cm2, tegangan 4 , panjang 0,87 km
Amosit berat jenis 3,3 gr/cm2, tegangan 16 - 90 x 1000 psi, panjang 3,3 - 1,9 km
Blue asbestos berat jenis 3,4 gr/cm2, tegangan 1-3 x100.000 psi, panjang 22-66

Panjang daya datah krisotil (km) sama dengan kapas , rami manila, sutera. tegangan jenis dan panjang daya datah blue asbestos hanya dilampui oleh nilon dan kemungkinan rami eropa. Panjang daya tahan krisotil (kg/mm20 hanya dulampui oleh rami , nilon , dan blue asbestos.

Sifat kimia

Mineral asbes dapat dibedakan berdasarkan komposisi kimianya. suatu penelitian kimia analitis telah dilakukan terhadap krisotil Shabani dari Afrika selatan, terdapat perbedaan antara mineral krisotil terhadap serpentin dengan batuan induknya yang terdapat pada dinding atas dan bawah dari krisotil yang batuan sekitarnya tidak memiliki nilai komersial.

Asbes dalam asam pada berbagai suhu dan konsentrasi

Asbes dalam asam seperti HCOOH, H2SO4, H3PO4, HNO3, HCl dan asam citrik pada suhu yang berbeda akan terpengaruh beratnya. Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
Pengaruh asam terhadap krisotil , tidak pernah lebih dari 605 sedangkan untuk blue asbestos  lebih rendah dari 20%. Pada suhu 20 C blue asbestos kurang dipengaruhi oleh asam - asam anorganis dibandingkan dengan asam organis terhadap krisotil pada suhu yang sama. Pengaruh asam citrik buatan dan bukan buatan akan sama besar. Jika beratnya bertambah akan mempengaruhi tegangannya. Di atas 50 C blue asbestos lebih banyak dipengaruhi oleh asam citrik daripada asam formic. Terhadap krisotil asam - asam organis yang mendidih sangat merusak sehingga dalam keadaan panas akan kehilangan tegangan asbes.

Cara membedakan asbes dengan cairan Yodium
untuk membedakan jenis asbes yang satu dengan jenis lainnya, dapat dilakukan dengan menggunakan cairan Yodium yang diteteskan pada serabut asbes sampai menghasilkan warna. Dengan melihat reaksi warna Yodium pada gelas objekti diketahui bahwa krisotil sangat cepat diberi warna , kecepatan perwarnaan tidak sama untuk setiap asbes. Pengaruh cairannyodium pada serabut krisotil, memungkinkan adanya suatu sifat tertentu dari asbes. Demikian pula hanlnya , pada serpentin yang masif dan minerl - mineral sejenis seperti Mg silikat. Penelitian menunjukkan bahwa harga brucite atau Mg(OH)2 dan serpentin yang diwarnai cairan yodium serta perlakuan serpentin terhadap cairan yodium dapat diterangkan dengan dehidrasi.

Daya serap serat asbes
Daya serap serat asbes yaitu dengan adsorbsi yodium oleh krisotil. salah satu contoh adalah adsorbsi karbohidrat
Read More

Senin, 04 November 2013

Geologi Pulau Sumba

Pendahuluan

Pulau Sumba memiliki posisi yang khas terkait dengan busur Sunda-Banda yang merepresentasikan sebuah potongan terisolasi dari kerak benua terhadap busur kepulauan vulkanik aktif (Sumbawa, Flores) dalam cekungan muka busur, terletak di bagian utara pada transisi antara Palung Jawa (bidang subduksi) dengan Timor Trough (bidang kolisi). Hal tersebut tidak menunjukkan efek kompresi kuat, berbeda dengan pulau-pulau sistem busur sebelah luar (Savu, Roti, Timor), sedangkan unit magmatik menjadi bagian yang substansial pada stratigrafi Kapur Akhir hingga Paleogen.

Secara batimetri, Sumba merupakan punggungan yang memisahkan cekungan muka busur Savu (kedalaman > 3000 m) di timur dan cekungan muka busur Lombok (kedalaman > 4000 m) di barat. Studi seismik refraksi menunjukkan (Barber et al., 1981) bahwa Sumba merupakan kerak benua dengan tebal 24 km (Chamalaun et al., 1981). Berdasrkan studi tektonik yang dilengkapi data paleomagnetik dan geokimia, beberapa ahli menganggap Sumba merupakan mikrokontinen atau fragmen kontinen (Hamilton, 1979; Chamalaun dan Sunata, 1982; Wensink, 1994, 1997; Vroon et al., 1996; Soeria-Atmadja et al., 1998).

Tiga model geodinamik untuk Sumba telah dikemukakan oleh Chamalaun et al. (1982) dan Wensink (1994) yaitu sebagai berikut: (1) Semula Sumba merupakan bagian dari Kontinen Australia yang telah terpisah ketika cekungan Wharton telah terbentuk, terapung dan bergerak ke arah utara kemudian terperangkap di belakang Palung Jawa bagian timur (Audley-Charles, 1975; Otofuji et al., 1981); (2) Sumba pernah menjadi bagian dari Paparan Sunda yang kemudian terapung dan bergerak ke arah selatan selama pembukaan Cekungan Flores (Hamilton, 1979; Von der Borch et al., 1983; Rangin et al., 1990); dan (3) Sumba merupakan salah satu mikrokontinen atau bagian dari kontinen yang lebih besar di dalam Tethys, yang kemudian terfragmentasi (Chamalaun dan Sunata, 1982).


Stratigrafi

            Stratigrafi Sumba telah banyak didiskusikan oleh beberapa ahli (van Bemmelen, 1949; Laufer dan Kraeff, 1957; Burollet dan Salle, 1982; Chamalaun et al., 1982; Von der Borch et al., 1983; Fortuin et al., 1992; Effendi dan Apandi, 1994; Abdullah, 1994; Fortuin et al., 1994, 1997). Pulau Sumba tersusun dari sedimen tidak termetamorfosis hingga sedikit termetamorfosis berumur Mesozoikum, secara tidak selaras dilapisi oleh endapan berumur Tersier dan Kuarter yang sedikit sekali terdeformasi; ketebalan total mencapai lebih dari 1000 m (van Bemmelen, 1949). Teras-teras terumbu karang yang menutupi tepi bagian yang mengarah ke laut dari Formasi Sumba berumur Neogen, hampir secara kontinu tersingkap ke permukaan di sepanjang pantai barat, pantai utara dan pantai timur Sumba (Hamilton, 1979).

  1. Seri Mesozoikum

Batuan berumur Mesozoikum tersingkap ke permukaan terutama di sepanjang pantai seperti bagian selatan dari Sumba Barat (Patiala, Wanokaka dan Konda Maloba) dan pada bagian selatan dari Pegunungan Tanadaro (Sungai Nyengu dan Labung). Tipe sedimen berupa batulanau karbonatan dengan batulempung vulkanogenik, terkadang menunjukkan gejala-gejala metamorfisme tingkat rendah, berlapis dengan batupasir, konglomerat, batugambing dan runtuhan vulkaniklastik. Secara keseluruhan terpotong oleh intrusi berumur Kapur Akhir dengan kisaran komposisi dari mikrogabro hingga diorit-kuarsa, dan juga oleh dykes granodioritic serta kalk-alkalin berumur Paleogen. Sedimen menunjukkan struktur slump berskala besar dan perekahan yang kuat. Sedimen tersebut merupakan Formasi Lasipu (Prasetyo, 1981). Kumpulan mikrofosil di dalam beberapa sampel mengindikasikan umur Coniacian hingga Campanian Awal (Burollet dan Salle, 1982); banyak Inoceramus sp. hadir. Material-material detrital salah satunya memberikan kesan asal-muasal dari kontinen, atau lingkungan busur kepulauan; hal tersebut tampak terlihat pada kipas bawah laut berumur Mesozoikum dengan endapan laut dangkal (Von der Borch et al., 1983) atau lingkungan batial laut terbuka (Burollet dan Salle, 1982).

  1. Seri Paleogen

Selama Paleogen, Sumba merupakan bagian dari busur magmatik yang dikarakterisasi oleh seri batuan vulkanik kalk-alkalin (Sumba Barat) dan sedimen laut dangkal. Endapan yang berhubungan termasuk tuf, ignimbrit, greywackes, sisipan batugamping foraminifera, napal, mikro-konglomerat dan batulempung. Batuan tersebut secara tidak selaras dilapisi batuan berumur Mesozoikum dan bergiliran secara tidak selaras dilapisi oleh Seri Neogen.

  1. Seri Neogen

Seismik refleksi lepas pantai menunjukkan sedimen laut dalam berumur Neogen membentuk sikuen sedimenter awal dari cekungan muka busur yang menghilang ke arah punggungan (Fortuin et al., 1992; Van der Werff et al., 1994a, b; Van der Werff, 1995; Fortuin et al., 1997). Kejadian mereka merefleksikan posisi stabil dari Punggungan Sumba di dalam cekungan muka busur sejak inisiasi sistem palung-busur Sunda selama Oligosen Akhir dan Miosen Awal (Silver et al., 1983; Reed, 1985; Barberi et al., 1987). Sedimen Neogen di Sumba memperlihatkan dua fasies yang berbeda: pada bagian barat, mereka direpresentasikan kebanyakan oleh batugamping terumbu, batugamping bioklastik, batugamping chalky dan napal, berlapis dengan napal tufaan, sedangkan sedimen dari bagian timur Sumba didominasi endapan turbidit vulkanik dengan perlapisan kapur pelagic dan batugamping chalky (Fortuin et al., 1994). Pada bagian pusat Sumba, fasies sedimenter tersebut menunjukkan hubungan menjari. Batuan tersebut umumnya tidak terganggu secara tektonik.

  1. Seri Kuarter


Keseluruhan pulau telah mengalami pengangkatan dengan cepat terhadap elevasinya sekarang, seperti yang diindikasikan oleh teras-teras berumur Kuarter yang mencapai ketinggian tidak kurang dari 500 m (Jouannic et al., 1988), dengan kecepatan rata-rata 0.5 mm/tahun pada bagian utara dan tengah Sumba (Pirazzoli et al., 1991). Teras-teras tersebut terdiri dari batupasir, konglomerat, napal dan batugamping terumbu menonjol yang secara tidak selaras dilapisi sedimen berumur Neogen dengan kemiringan relatif tidak curam di sepanjang pantai barat, pantai utara dan pantai timur. Secara lokal, endapan berumur Kuarter diendapkan secara tidak selaras di atas batuan berumur Mesozoikum di sepanjang pantai baratdaya.    
Read More