Minggu, 16 Juni 2013

Geologi Struktur Daerah Jawa


     Geologi Struktur Daerah Jawa 

Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur.
Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) (Gambar 7).
 Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut – Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur – Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.


Gambar 7. Pola stuktur di Pulau Jawa berupa pola Meratus , pola Sunda dan arah Timur – Barat (Sujanto dan Sumantri , 1977 dalam Natalia dkk., 2010).

Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebarab singkapan batuan pra- Tersier di daerah KarangSambung.
 Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur. 

Pola Sunda berarah Utara - Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan.Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna.
 Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan (Gambar 8). Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.
Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir. 

Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994 dalam Natalia dkk., 2010 ). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.




Gambar 8. Pola struktur dan sesar di Pulau Jawa ( Natalia dkk., 2010)

Referensi ;

Natalia, Eka P., Taufiq Andhika , Roid Faqih M., Dharmaleksa S.E.P, Ade AkhyarNurdin , Belly Dharana Kertiyasa , Novianto Dwi Nugrohao, Bayu Hari Utomo. 2010.”Geologi Pulau  Jawa”. Univesitas Jenderal Soedirman : Purbalingga.
Read More

Stratigrafi Zona Rembang


2.2.3        Stratigrafi Zona Rembang

Pada Zona Rembang ini singkapan yang tersingkap sangat sedikit dan berdasarkan pada laporan yang dipublikasi tentang data bawah permukaan ( Kadar dkk., 1992 ; Kadar dan Sudijono , 1984 ; Nawawi dkk., 1996 ; Sharaf dkk., 2005 dalam Smyth dkk., 2005). Stratigrafi Zona Rembang ini terbagi menjadi 3 sistem (Gambar 6) yaitu:

a.       Sistem Pertama

Sedimen yang tertua pada sistem ini yaitu Pra – Formasi Ngimbang(pre-Ngimbang Formation) , karakter , umur dan asal sedimentasi tidak terlalu diketahui (Ebanks dan Cook , 1993 dalam Smyth dkk., 2005). Formasi Ngimbang terekam sebagai akibat terusan transgresi dari pasir daratan , kemudian laut dangkal limestone dan lempung laut dalam (Ebanks dan Cook , 1993 dalam Smyth dkk., 2005). Pasir pada Formasi Ngimbang terdiri dari kaya akan mineral kuarsa dan berasal dari sumber yang dekat. Sekuen Transgresi ini berhenti pada oligosen unconformity dan overlaydengan batuan karbonat dari Formasi Kujung. Lapisan dan tebal lapisan memiliki kemiripan orientasi , diperkirakan pada saat tersebut terjadi perubahan  muka air laut. Dibandingkan dengan peristiwa deformasi karena berhentinya pada sedimentasi.  

b.      Sistem Ke-Dua

Pada sistem ini didominasi oleh peningkatan karbonat dari Formasi Kujung dan Formasi Prupuh. Pengurangan sedimen klastik disebabkan oleh peningkatan muka air laut atau penurunan relief topografi pada sumber sedimentasi. Karonat pada Formasi ini memiliki beberapa lapisan abu vulkanik yang diperkirakan produk dari jatuhan vulkanisme dari pegunungan Selatan Jawa. Karbonat pada formasi ini dperkirakan berumur Oligo – Miosen.

 

c.       Sistem Ke-Tiga

Pada masa periode Early miosen terjadi perubahan sedimentasi yang signifikan . Pada atas lapisan Formasi Kujung terdapan unconformity yang terdiri atas series siliklastik dan batuan karbonat.  Sedimen dari Formasi Tuban dan Ngrayong berasal dari daratan (Ardhana dkk., 1993 dalam Smyth dkk., 2005). Formasi Ngrayong terbentuk dari sekuen daratan ke sedimentasi tepi laut, tediri atas kaya mineral kuarsa dan beberapa lapisan abu yang berasal dari aktifitas vulkanik selama sedimentasi.


Kolom Stratigrafi Zona Rembang


Referensi :
Smyt , H., Robert Hall , Joseph Hamilton , Pete Kinny. 2005. “ East Java cenozoic Basins , Volcanoes and Ancient Basement : Proceedings Indonesian Petroleum Association ke – 30.  
Read More

Stratigrafi Zona Kendeng


 Stratigrafi Zona Kendeng

            Zona Kendeng terdiri dari lebih dari 8000 meter sedimen (de Genevraye dan Samuel , 1972 dalam Smyth dkk. (2005)). Pada bagian utara Zona Kendeng ini terdapat lipatan dan dorongan yang besar sehingga  terbentuk depresi. Pada zona ini jarang ditemukan adanya singkapan. Pada Zona Kendeng ini Stratigrafinya dibagi atas 3 (Gambar 1) (Smyth dkk., 2005) yaitu :
a.       Sistem Pertama
Sedimen pada sistem ini tidak ditemukan tersingkap secara jelas tetapi sebagian terlihat di permukaan terbawa oleh beberapa lumpur vulkanik. Deskripsi dari fragmen tersebut “ Batupasir calcareousdengan terpilah baik dan konglomerat hubungan dengan Nummulites” (de Genevraye dan Samuel , 1972 dalam Smyth dkk., 2005). Pada sistem ini mirip dengan karakter sistem pertama zona Pegunungan Selatan.

b.      Sistem Ke-Dua dan Ke -Tiga 
Sistem ke-dua dan ke-tiga ini dicirikan dengan lapisan selang-seling antara batupasir vulkanik dengan pelagik mudstones.Batupasir terbentuk dari aktifitak vulkanik yang berasal dari arah selatan cekungan dan pelagik sedimen berasal dari utara dengan terpilah baik. Walaupun sedimen berada di bagian dalam cekungan , mudstonestetap memberikan signifikansi terhadap volcanogenic clays. Pada barat daya bagian dari Zona Kendeng terdapat  lapisan Lutut (van Bemmelen , 1949; Lunt dkk. 2000; dalam Smyth dkk. 2005) terdiri dari mineral kuarsa dan memiliki clasts basement terdiri dari batuan schist dan basalt. Daerah ini telihat sedikit tetapi menandakan adanya basement dan adanya pengangkatan (uplift) dan erosi selama Miosen Awal.
Sedimen pada sistem ini umumnya berasal dari Pegunungan vulkanik Selatan. Umur saat terjadi deformasi dan pengangkatan (uplift) Lipatan Kendeng diperkirakan pada umur Pliosen (de Genevraye dan Samuel , 1972 ; dalam Smyth dkk. 2005)


Gambar 1. Stratigrafi zona Kendeng (Smyth , 2005).


Referensi :
Smyt , H., Robert Hall , Joseph Hamilton , Pete Kinny. 2005. “ East Java cenozoic Basins , Volcanoes and Ancient Basement : Proceedings Indonesian Petroleum Association ke – 30.  
Read More