Senin, 08 April 2013

Batubara Sebagai Sedimen Organik




Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.

Contoh batuan batubara

Selain tumbuhan yang ditemukan bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada  umumnya sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan suatu batubara.
Secara umum, setelah sisa tanaman tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi, pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga memegang peranan yang sangat penting.

PENYUSUN BATUBARA


Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.

  1. Lignin

Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.

  1. Karbohidrat

Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung  polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.

  1. Protein

Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.

Material Organik Lain


1. Resin

Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.

2. Tanin

Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.

3. Alkaloida

Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.

4.Porphirin

Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses coalifikasi.

5. Hidrokarbon

Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.

Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)

Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.

PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA


Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan terbentuknya peat.

Pembentukan Lapisan Source

Teori Rawa Peat(Gambut) - Autocthon

Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.


Teori Transportasi - Allotocton

Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.

Proses Geokimia dan Metamorfosis

Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai macam proses. Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi temperatur dan tekanan yang normal dan juga melibatkan proses biokimia. Hasilnya adalah proses pembentukan batubara akan terjadi, dan bahkan akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari proses awal ini adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen. Setelah tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi oleh proses fisik dan kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan berperan penting karena kenaikan temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan tekanan memungkinkan reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses metamorfisme (temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara terus-menerus didalam waktu dalam skala waktu geologi.

HETEROATOM DALAM BATUBARA


Heteroatom dalam batubara  bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan.
Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 – 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara.
Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 – 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 - 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi.
Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 – 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.
Read More

Selasa, 05 Maret 2013

Geologi Militer


Pengertian Geologi Militer


Ilmu geologi merupakan ilmu dasar yang berperan dalam berbagai bidang terutama yang berhubungan dengan muka bumi, batuan dan hasil pelapukannya. Secara umum ilmu geologi berhubungan dengan sumberdaya mineral, sumberdaya energi, sumberdaya kewilayahan , dan kebencanaan geologi. Cabang – cabang geologi sangat banyak seperti , tambang , minyak bumi, pariwisata, teknik sipil, kesehatan, hukum dan militer. Salah cabang geologi yang berhubungan dengan militer disebut geologi militer. 

Sejarah Geologi Militer

Sejarah ilmu geologi militer telah ada sejak lama, salah satu  pemanfaatannya ilmu geologi yang dituliskan oleh Soen Tzu (Kitab seni berperang) yaitu dengan memanfaatkan kondisi bentang alam berupa lembah dan celah sempit sebagai tempat pertempuran. Pada tahun 1766 – 1824 Johann Samuel Gruner menulis memorandum hubungan antara geologi dan militer. Peran geologi pernah dipakai pasukan Perancis saat menyerang Mesir tetapi bukan sebagai saran militer tetapi sebagai ahli mineral untuk mendukung tentara dengan menjelajahi sumber daya geologi ( Rose , 2005).
Sedangkan pada saat perang dunia II , Amerika Serikat membentuk unit geologi militer yang berasal dari anggota USGS ( US Geological Service). Unit ini dibentuk pada tanggal 24 juni 1942 , 6 bulan setelah penyerangan Pearl Harbor. Anggota unit ini terdiri dari 88 geologis, 11 soil scientists, 6 pustakawan , 5 engineers, 3 editors, 1 penjelajah hutanr dan  43 asisten staff. Unit ini berperan sangat penting dalam menentukan asal dari balloonbombs Jepang. Bekerja sama dengan Kolonel Sidman Poole dari US Army Intelligence, Peneliti dari Unit Geologi Militer memulai analisa mikroskopik dan mineral dari butiran pasir yang terbawa. Pasir tersebut bukan berasal dari pantai amerika tetapi bukan juga berasal dari pantai pantai pasifik. Pasir tersebut berasal dari pantai Jepang. Selain itu Unit Geologi Militer ini juga menyediakan data tentang kondisi bentang alam (Terrains), lokasi suplai air, informasi material bangunan yang cocok dan informasi yang berguna lainnya.


Sejarah Geologi Militer di Indonesia

Geologi Militer di Indonesia berperan sejak zaman penjajahan belanda dan pendudukan tentara jepang. Peran geologi militer dimulai dengan penyedian peta – peta topografi untuk keperluan militer (Zakaria, 2010). Selain itu ilmu tentang geologi dapat digunakan sebagai tempat pertahanan / benteng dan gua – gua yang tersebar di Indonesia. Salah satu yang terkenal yaitu Gua Belanda dan Gua jepang yang berada di Taman Hutan Rakyat Djuanda (Tahura) Bandung. Serta berbagai sisa peninggalan yang tersebar di seluruh Indonesia seperti di Bukittinggi, Yogyakarta dan Biak (Papua).
Gua Belanda di Tahura, Bandung , Jawa Barat


Salah satu peninggalan Gua Jepang , Bukittinggi , Sumatra Barat


Peranan Geologi Militer di Abad 21


Kajian Geologi sangat diperlukan untuk berbagai kegiatan pertahanan dan penyerangan dalam suatu operasi militer. Kajian – kajian ini meliputi antara lain :

1.      Analisa Medan Wilayah 
2.      Analisa Infrastruktur Wilayah
3.      Penyedian Air Bersih 
4.      Inventaris Bahan Konstruksi 
5.      Analisa Prekdisi Kebencanaan

Analisa Medan Wilayah ini memerlukan terrain intelligence ( kecerdasan wilayah) berupa : penempatan dan penerjunan pasukan, rute dan pertemuan lokasi pasukan, penilian pergerakan pasukan dan perbekalannya serta penentuan daerah wilayah perang (Leith, 2002 dalam Zakaria 2010). Ilmu yang digunakan antara lain : geomorfologi, pemetaan, inderaja, Citra foo (Landsat, Lidar, Foto Udara) /remote sensing.

Analisa Insfrastruktur Wilayah ini diperlukan sebagai tapak benteng pertahanan atau daerah yang memiliki kelemahan geologi. Kelemahan geologi ini dapat menjadi senjata yang menguntungkan bagi musuh , begitupun sebaliknya. Oleh karena itu perlu diminimalisir , dicegah, dan dihindari. Ilmu yang digunakan antara lain : Geologi Teknik, Geomekanika, Geologi Struktur, Geotektonik dll.

Penyedian Air Bersih ini sangat diperlukan dalam kegiatan sehari – hari termasuk dengan kegiatan militer. Aspek geologi yang diperlukan ini antara lain : Stratigrafi, Hidrogeologi, dan geofisika.
Inventaris Bahan Konstruksi diperlukan untuk membangun wilayah yang dikuasai oleh operasi militer. Infrastruktur tersebut antara lain jalan, jembatan, gedung, terowongan, benteng dsb.  Pembangunan konstruksi ini memerlukan aspek geologi antara lain : Petrologi, Geologi bahan Konstruksi, Geologi Teknik, Geomekanika, dsb.

Analisa Prediksi Kebencanaan diperlukan untuk menghindari dan mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan oleh alam (Tsunami, Longsor, Gempa Bumi, Lentusan Gunung api dl) maupun akibat dari musuh. Saat yang dilakukan oleh pasukan inggris saat menyerang bendungan jerman dalam perang dunia II. Sehingga menyebabkan banjir bandang yang menewaskan ribuan orang, menghancurkan industri perang jerman dan infrastruktur lainnya. Ilmu geologi yang digunakan ini antara lain : Mitigasi Bencana Geologi, Geologi Struktur, Vulkanologi, Geologi Teknik dsb.

Referensi :


Zakaria, Z. 2010. Pendidikan Geologi Militer di Indonesia, Suatu Tantangan bagi Pusdiklat Geologi dan Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Sains Kebumian.



Read More

Kamis, 28 Februari 2013

Melirik Potensi Energi Geotermal di Malang Raya


Saat ini semakin dengan menurunnya energi hidrokarbon (oil dan gas) diperlukan energi alternatif sebagai penganti energi tersebut. Salah satu energi yang ramah lingkungan yaitu energi panas bumi / geotermal energy. Energi ini dihasilkan dari panas bumi yang disimpan dalam batuan. Geotermal sendiri dapat ditemukan di daerah vulkanik/ gunung api dan daerah yang memiliki gradient geotermal yang tinggi.
Di daerah Malang Raya sendiri dikelilingi oleh Gunung Api.
Di daerah timur terdapat G. bromo dan semeru. Sedangkan di Barat dibatasi G. Arjuna dan Welirang. Beberapa gunung berapi tersebut menghasilkan manifestasi panas bumi berupa uap dan air panas. Mata air panas ini  kemudian dimanfaatkan sebagai pemandian air panas, salah satu yang terkenal yaitu wisata air panas cangar dan air panas songgoriti. Energi Geotermal di daerah malang masih hanya dimaksimalkan sebagai daerah wisata, sedangkan untuk pembangkit listrik geotermal belum dikembangkan.
Saat ini pemerintah tengah menggalakan energi geotermal sebagai pengganti energi fosil untuk pembangkit tenaga listrik. Salah satu daerah prospek tersebut berada dalam wilayah Malang Raya yaitu : Kabupaten Malang dan Kota Batu


Data pada tahun 2012 terdapat 3 daerah prospek yaitu daerah Cangar (Cadangan 110 Mwe), G. Arjuna – Welirang (cadangan 130 Mwe), dan Songgoriti – Kawi (Sumberdaya 25 Mwe).
 
Sayangnya dari ke -3 daerah tersebut belum satupun yang berstatus sebagai WKP (Wilayah Kerja Pertambangan). Ketiga daerah tersebut masih berstatus sebagai daerah survei yang dinilai kelayakannya dari segi geologi, ekonomi dan lingkungan untuk dilajutkan sebagai daerah berstatus WKP. 
Berita terakhir prospek arjuno – welirang siap diajukan sebagai WKP. Izin eksplorasi energi panas bumi (geotermal) di kawasan Gunung Arjuna dan Gunung Welirang, Jawa Timur, segera turun. 
"Kami mendapatkan kepastian dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai izin eksplorasi panas bumi di Gunung Arjuna dan Gunung Welirang segera turun," kata Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) Jatim, Tutut Tri Herawati di Surabaya, Rabu (24/3) (Dikutip dari Forum Konsultasi Penghasil Migas).  
Sebagai Masyarakat Malang sebaiknya berperan aktif dalam pengembangan energi alternatif ini, sehingga terasa dampak ekonomi dan lingkungan yang lebih baik. Sehingga masyarakat daerah penghasil energi tidak hanya sebagai penonton tetapi sebagai pelaku pengembangan energi ini.


Read More

Selasa, 12 Februari 2013

Tahap eksplorasi pendahuluan



Dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian yang diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi pendahuluan juga mempunyai skala yang relatif kecil, yaitu 1 : 50.000 sampai 1 : 25.000. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :




A.            Studi literatur



Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta-peta yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama, laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan disurvei.




Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya, studi faktor-faktor geologi regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan.




B.            Survei dan pemetaan



Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting.



Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).



Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).



Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.
Read More