Tampilkan postingan dengan label formasi halang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label formasi halang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2014

Stratigrafi Regional Karanganyar , Jawa Tengah


Stratigrafi daerah penelitian telah banyak ditulis oleh peneliti terdahulu (Djuri dkk.,  1996). Stratigrafi daerah ini tersusun oleh batuan yang berumur dari Tersier hingga Kuarter, yang terdiri atas Formasi Rambatan; Formasi Halang; batuan terobosan; Formasi Kumbang; Formasi Tapak; Formasi Kalibiuk; Anggota Atas dan Bawah; Formasi Ligung; Satuan Tuff; Satuan Lava Andesit; Satuan Klastika Gunungapi, Satuan Batuan Hasil Gunungapi Tak Terpisahkan, dan satuan yang dianggap sebagai satuan paling muda adalah Endapam Danau dan Satuan aluvial





Batuan Terobosan

Batuan ini terdiri profir mikrodiorit yang berwarna ciklat berbintik coklat tua dan hitam, pejal, lapuk, bertekstur holokristalin subdiabas porfirit dengan fenokris feldspar dan mineral-mineral femis yang sebagian telah lapuk sehingga terbentuk rongga-rongga. Batuan terobosan ini juga terdiri dari diorit yang berbutir sedang-kasar. Menurut Djuri dkk. (1996), batuan terobosan ini berumur Miosen Akhir.

Formasi Rambatan
Formasi Rambatan ini terdiri dari serpih, napal dan batupasir gampingan. Napal berselang-seling dengan batu pasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak dijumpai lapisan tipis klasit yang tegak lurus dengan kemiringan lapisan. Banyak mengandung foraminifera kecil. Tebal lapisan sekiar 300 meter. Menurut Djuri dkk. (1996), Formasi Rambatan ini berumur Miosen Tengah dan diendapkan pada lingkungan dengan mekanisme arus turbidit sistem kipas bawah laut (Kertanegara dkk., 1987). Diatasnya diendapkan secara selaras Formasi Halang, tetapi setempat menjemari (Kertanegara dkk., 1987).

Formasi Halang
Formasi ini terdiri dari batupasir, andesit, konglomerat tufan dan napal yang bersisipan batupasir andesit. Terdapat bekas jejak cacing pada bagian atas lapisan batupasir. Formasi ini mengandung foraminifera kecil yang menunjukan umur Miosen Atas (Condon dkk., 1975 op.cit. Santoso dan Murtolo, 1994). Formasi ini memiliki umur Miosen Tengah –Miosen Akhir (Djuri dkk., 1996). Formasi ini memiliki ketebalan 300-500m dan diendapkan dalam mekanisme arus turbidit pada sistem kipas bawah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan volkanisme (Kertanegara dkk., 1987). Diatasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Kumbang.

Formasi Kumbang
Bagian bawah dari formasi ini terdiri dari breksi dengan komponen yang menyudut, ditemukan lapisan lava andesit, sedangkan diatasnya terdiri dari tuf yang berselang-seling dengan breksi dan batupasir tufan. Formasi ini berumur Miosen Tengah (Djuri dkk., 1996) dan memiliki ketebalan mencapai 750 m.

Formasi Tapak
Batuan penyusun formasi ini berupa batupasir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat, setempat dijumpai breksi. Dibagain atasnya terdiri atas batupasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung pecahan moluska. Formasi Tapak mengandung dua anggota, yaitu Anggota Breksi dan Anggota Batugamping. Anggota Breksi terdiri dari breksi gunungapi dengan massadasar batupasir tufan, di beberapa tempat terdapat kalsit yang mengisi celah-celah. Anggota Batugamping terdiri atas lensa-lensa berwarna kelabu kekuningan, tidak berlapis. Formasi ini memiliki ketebalan 500 m, memiliki umur Miosen Tengah-Pliosen Awal (Djuri dkk., 1996), diendapkan secara tidak selaras diatas Foramsi Kumbang dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal-laut dalam (Kertanegara dkk., 1987). Diatasnya diendapkan selaras Formasi Kalibiuk.

Formasi Kalibiuk
Formasi ini tersusun oleh napal lempungan bersisipan batupasir, kaya akan moluska. Formasi Tapak dan Kalibiuk setara dengan Bodas Series (Neritic Molasse Facies) terdiri dari batugamping napalan dengan komposisi batugamping terdiri dari koral dan moluska. Bagian atas dari batugamping terdiri dari napal kelabu yang mengandung moluska dan menjadi sisipan pada lapisan batupasir, tuf kasar, dan pada bagian bawah terdapat sisipan breksi andesit. Umur dari formasi ini diperkirakan Pliosen Akhir dengan tebal sekitar 175 meter (Djuri dkk., 1996).

Formasi Ligung
Formasi Ligung terdiri dari Anggota Atas dan Anggota Bawah. Anggota bawah Formasi Ligung terdiri dari lempung tufan, batupasir tufan berlapis silang-siur, konglomerat dan lignit; mengandung sisa tumbuhan. Anggota Atas Formasi Ligung terdiri dari aglomerat andesit, breksi dan tuff kelabu. Formasi Ligung terbentuk dalam peralihan darat ketika terjadi pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Umur dari Formasi ini Pliosen Akhir-Plistosen Awal (Djuri dkk., 1996).

Satuan Tuff
Satuan ini terdiri dari perlapisan batupasir tufan berlapis, pasir tuf, konglomerat dan breksi tufan.

Satuan Lava Andesit dab Batuan Klastika Gunungapi
Satuan batuan ini terdiri dari lava andesit hipersten, setempat mengandung hornblenda dan basal olivin. Selain itu juga terdapat aliran lava dan beberapa breksi piroklastika dan lahar.

Hasil Gunungapi Tak Terpisahkan
Satuan ini terdiri dari atas breksi, lava, lapili dan tuf yang berasal dari Gunung Slamet dan beberapa pusat erupsi disebelah baratnya. Selain itu terdapat pula aliran lava andesitan berongga

Satuan Aluvial
Satuan ini terdiri atas lanau, pasir, kerikil, kerakal dengan tebal kurang dari 150 m.


Gambar. Stratigrafi  Geologi Karanganyar



 
Read More

Sabtu, 25 Juni 2011

Geologi Regional Karang Sambung, Kebumen, Jawa Tengah



Daerah Karangsambung, Kabupaten Kebumen , Jawa Tengah( Gambar 1) merupakan salah satu tempat tersingkapnya batuan campuran , yaitu komplek Melange Lok ulo yang berumur Kapur Akhir sampai Paleosen ( Asikin , 1974 , Wakita dkk., 1994 dalam Harsolumakso dan Noeradi, 1996).   Satuan ini merupakan hasil dari proses subduksi antara lempeng Indo – Australia dengan lempeng benua Asia Tenggara (Asikin, 1974 dalam Harsolumakso dan Noeradi , 1996). Kemudian di atasnya diendapkan satuan yang lebih muda terdiri batulempung dengan fragmen asing yang bercampur d idalamnya yang dianggap sebagai olissostrom (Asikin 1974; Asikin dkk., 1992 dalam Harsolumakso dan Noeradi , 1996). Kemudian diatasnya diendapkan  breksi dari Formasi Waturanda dan Perselingan Batupasir – Batulempung dari Formasi Panasogan ( Asikin 1974 dalam Hadiyansyah , 2005).

Fisiografi Regional 


Secara fisiografi daerah Jawa Tengah dibagi  menjadi enam satuan yaitu ( van Bemmelen , 1949 dalam Hadiyansyah, 2005) :  

 
Gambar 2. Fisiografi Jawa Tengah ( van Bemmelen , 1949 dalam hadiyansyah , 2005).




a.       Dataran Aluvial Jawa utara

b.      Satuan Gunungapi Kuarter
c.       Antiklinorium Bogor-Serayu Utara – Kendeng
d.      Depresi Jawa Tengah
e.       Pegunungan Serayu selatan dan,
f.       Pegunungan Selatan Jawa.
 


Stratigrafi Regional


Stratigrafi daerah Karangsambung dari tua ke muda yaitu : Komleks Melange Lok Ulo, Formasi Karangsambung , Formasi Totogan, Formasi Waturanda , Formasi Penosogan , Formasi Halang dan aluvial ( Gambar 3)
  Gambar 3. Stratigrafi daerah Karangsambung (modifikasi Harsolumakso dkk., 1996
dari Asikin dkk., 1992 dalam Hadiyansyah, 2005).
 Kompleks Melange terdiri atas blok – blok berbagai ukuran dari batuan sedimen pelagis, batuan beku basaltis dan batuan metamorf yang tercampur secara tektonik dalam matriks batuan pelitik (Asikin, 1974 dalam Prasetyadi, 2007). Sedangkan formasi Karangsambung dan Formasi Totogan umumnya terdiri dari percampuran sedimenter fragmen – fragmen dan blok – blok (olisolit) seperti batupasir, batulanau , kongomerat, dan batugamping Nummulites dalam masadar lempung  dan diinterpretasikan sebagai endapan olistostrom (asikin, 1974 dalam Prasetyadi, 2007 ).Menumpang selaras di atas formasi totogan adalah formasi waturanda yang terdiri dari batupasir dan breksi volkanik. Formasi Waturanda ditumpangi secara selaras oleh formasi Penosogan yang terdiri dari perselingan napal dan batupasir gampingan (asikin dkkk., 1992 dalam Prasetyadi ,2007).


Struktur Regional 




Struktur utama yang ada di karangsambung dapat dibagi menjadi 3 struktur utama ,  yaitu :

a.       Arah timurlaut – Baratdaya yang ditunjukkan oleh arah umum sumbu panjang boudin, berkembang di kelompok batuan Pra – Tersier (Harsolumkso dkk., 1995 dalam Prasetyadi, 2007 ).

b.      Arah Timur – Barat yang ditunjukkan oleh arah umum struktur lipatan yang berkembang di batuan Tersier,

c.       Arah Utara – Selatan berupa sesar yang memotong batuan Pra – Tersier dan Tersier (Asikin dkk.,1992 dalam Prasetyadi, 2007)

Struktur utama ini dapat dilihat pada peta geologi daerah Karangsambung (Gambar 4.)

Gambar 4. Peta Geologi Karangsambung (modifikasi dari Asikin dkk., 1992 dan
Condon dkk., 1996 dalam Prasetyadi, 2007).


 

Read More