Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2014

Potensi Zeolit di Indonesia

Mineral Zeolit
Zeolit alam merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi , dengan unsur utama yang terdiri dari kation alkali dan alkali tanah. Senyawa ini berstruktur tiga dimensi dan mempunayi pori yang dapat diisi oleh molekul air.
Mineral zeolit yang paling umum dijumpai adalah klinoptirotit, yang mempunyai rumus kimia (Na3K3) (Al6Si30O72).24H2O. Ion Na+ dan Ka+ merupakan kation yang dapat dipertukarkan , sedangkan atom Al dan Si merupakan struktur kation dan oksigen yang akan membentuk struktur tetrahedron pada zeolit. Molekul - Molekul air yang terdapat dalam zeolit merupakan molekul molekul yang mudah lepas.
Zeolit alam terbentuk dari reaksi antara batuan tufa asam berbutir halus dengan air pori atau air meteorik. Penggunaan Zeolit adalah untuk bahan baku water treatment, pembersih limbah cair, limbah rumah tangga, industri pertanian , perternakan , perikanan , industri kosmetik , farmasi dan lain lain.




Potensi Penyebaran di Indonesia

Batuan pembawa mineral zeolite
Potensi penyebaran Zeolit di indonseia paling utama berada di daerah Jawa Barat dan Lampung.
Di Provinsi Lampung berada di daerah Campang Tiga, dan Talang Baru dengan total potensi sebesar 127 juta ton terdiri dari sumberdaya terukur sebesar 27 juta ton dan sumberdaya tereka sebesar 100 juta ton.
Sedangkan di Jawa Barat - Banten berada di daerah Sukabumi, Bogor dan Lebak (Banten) dengan total sumberdaya sebesar 26,452 juta ton terdiri dari sumberdaya terukur  sebesar 182 ribu ton dan sumberdaya tereka sebesar 25,243 juta ton.

Tambang Zeolite , Sierra County , Amerika (Ilustrasi tambang zeolite)

Sedangkan daerah lain yang berpotensi antara lain Ngendut , Kalitengah (Jawa Timur) sumberdaya hipotetik sebesar 1 juta ton, Polmas (Sulsel) sumberdaya tereka sebesar 2,4 juta ton, Ende (NTT) sumberdaya hipotetik sebesar 50 juta ton.

Produksi dan Konsumsi

Berdasarkan data BPS tahun 2002 diperkirakan diproduksi sebesar 60 ribu ton dengan konsumsi sebesar 57,474 ribu ton yang terdiri dari sektor pertanian sebesar 20 ribu ton, kimia sebesar 17 ribu ton, pakan ternak 6 ribu ton, pupuk sebesar 5,9 ribu ton , dan kosmetik sebesar 3 ribu ton.  Peluang pemanfaatan bahan galian zeolit ini sangat terbuka karena baru sedikit yang diproduksi dari cadangan yang ada. Selain itu tingkat konsumsi zeolit semakin meningkat terutama sektor industri.

Sumber
Data Produksi dan Konsumsi Zeolit , 2002 "Badan Pusat Statistik"
Kajian data Pertambangan " 2003' Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral
Read More

Minggu, 14 Juli 2013

Sejarah Tektonik Sundaland

Sundaland merupakan istilah geologi untuk menyebut daerah di semenanjung asia tenggara meliputi semenanjung Malaka, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatra, dan Pulau Jawa. Istilah sundaland ini juga dikenal sebagai sunda shelf (Paparan Sunda) (gambar 1).



Gambar 1. Lokasi Sundaland dan tektonik yang berkembang saat ini (Modifikasi dari davies 1984 dalam Sudarmono dkk. , 1997)


Davies ( 1984 dalam Sudarmono dkk., 1997) menyatakam bahwa  sundaland ini dibatasi oleh palung jawa dan palung sumatra yang berasal dari subduksi benua indo – australia ke dalam  benua asia di bagian selatan dan bagian barat disebut juga sebagai Western Margins. Sedangkan pada bagian utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan dan Indocina. Pada bagian timur dibatasi oleh Kalimantan Timur , Selat Makassar dan Jawa Timur disebut juga sebagai Eastern Margins. Peristiwa tektonik yang besar terjadi pada saat tersier dapat dibagi atas 2 tektonik besar yaitu pemisahan lempeng india dan afrika yang bergerak ke arah utara pada saat akhir kapur dan berlanjut dengan kolisi india dengan benua eurasia pada saat 50 juta tahun yang lalu.

Evolusi Tektonik Sundaland

Pembentukan tektonik dari Sundaland tidak terlepas dari sejarah tektonik yang terjadi. Menurut Hutchison (1973) Evolusi Tektonik yang terjadi dapat dibagi beberapa bagian

a.      Pada Zaman Karbon – Perm
Subduksi terjadi di sebelah barat Sumatera yang menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik dengan komposisi berkisar antara dasit sampai andesit di daerah yang membentang di Dataran Tinggi Padang, Batang Sangir dan Jambi (Klompe et all., 1961; dalam Hutchison, 1973). Batuan intrusif yang bersifat granitik terbentuk di Semenanjung Malaysia, melewati Pulau Penang, dan diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau ( Gambar 2).

Gambar 2. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Karbon Akhir sampai Perm Awal (Hutchison, 1973)

b.      Pada Zaman Perm – Trias Awal

Pada Zaman Perm, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan plutonik dan volkanik dari Karbon Akhir. Sistem busur-palung yang bekerja di Sumatra masih tidak mengalami perubahan (Gambar 2 dan 3). Batuan volkanik dan piroklasik berkomposisi andesitik sampai riolitik menyebar di bagian barat dari Sumatera Tengah.


Gambar 3. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Perm sampai Trias Awal (Hutchison, 1973)


c.      Pada Zaman Trias Akhir Jura Awal

Dari Trias Akhir sampai Jura Awal, subduksi di Sumatra terus berlangsung dan menghasilkan kompleks ofiolit Aceh di bagian utara dan kompleks ofiolit  Gumai-Garba di selatan. Kedua ofiolit tersebut menurut Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) berumur Trias. 


Gambar 4. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Zaman Trias Akhir sampai Jura Awal (Hutchison, 1973)

 Pada Jura Tengah sampai Kapur Tengah, terjadi pengangkatan di wilayah Semenanjung Malaysia, menyebabkan perubahan lingkungan sedimentasi pada daerah tersebut dari lingkungan laut menjadi lingkungan darat, ditandai dengan endapan tipe molasse dan sedimentasi fluviatil. Volkanisme di kawasan Sumatra dan sekitarnya kurang aktif pada selang waktu ini. Selama Jura dan Kapur, kawasan Sumatra dan sekitarnya terkratonisasi, dan sistem pensesaran strike slip  terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam Hutchison, 1973). Pensesaran strike slip ini akibat dari tumbukan lempeng Indian dengan Eurasia.

d.      Pada Zaman Kapur Akhir – Tersier Awal

Pada Kapur Akhir, zona subduksi bergerak ke arah barat Sumatra, sepanjang pulau-pulau yang saat ini berada di barat Sumatra seperti Siberut. Ofiolit dari subduksi ini sendiri oleh Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) diperkirakan berumur Kapur Akhir sampai Tersier Awal.
Di bagian utara Sumatra terdapat Intrusi Granitik Tersier sedangkan di selatan terdapat Adesit Tua dan Intrusi Granit Miosen Awal. Pola dari sistem palung busur di Sumatra pada saat itu digambarkan pertama kali oleh Katilli (1971; dalam Hutchison, 1973) seperti pada gambar 5. Subduksi yang berada di barat Sumatra menerus ke selatan Jawa Barat, lalu berbelok ke timur laut menuju arah Pegunungan Meratus di Kalimantan Timur.


Gambar 6. Sketsa tektonik Sundaland dan sekitarnya pada saat ini (Hutchison, 1973)



Sedangkan berdasarkan rekronstruksi Hall dkk. (2009)evolusi Sundaland dapat dibagi menjadi beberapa bagian antara lain:

a.       Pada Jurasic Akhir(150 MA)

Diperkirakan Blok Banda yang sebelumnya bergabung dengan Gondwana  terpisah dan menjauhi Sula Spur. Blok Argo lalu terpisah kemudian melalui proses pemekaran (spreading).
Pemekaran berkembang ke barat menerus sampai pada margin dari Greater India 2. Busur kepulauan dan fragmen-fragmen benua bergerak menjauh dari Gondawa sebagai hasil darirollback dari subduksi ( Gambar 7).




Gambar 7. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Jura Akhir (150 MA) (Hall dkk. 2009)

b.       Pada Kapur Awal (135 MA)
Kemudian pada 135 juta tahun yang lalu (Kapur Awal – Gambar 8), India mulai terpisah dari Australia dan Papua yang masih bergabung dengan Antartika. Pemekaran di Ceno Tethys memiliki orientasi rata-rata NW-SE. Blok Argo dan Busur Woyla bergerak ke Asia Tenggara.


Gambar 8. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Awal  (135 MA) (Hall dkk. 2009)

c.       Pada Kapur Awal (110 MA)
Sekitar 25 juta tahun kemudian (Kapur Awal – Gambar 9) India terpisah dari Australia. Blok Argo mendekati Sundaland dan pemekaran pada Ceno-Tethys yang berarah NW-SE berhenti. Pusat pemekaran antara India-Australia berkembang ke arah utara. Terjadi subduksi di bagian selatan Sumatra dan tenggara Kalimantan.


Gambar 9. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Awal  (110 MA) (Hall dkk. 2009)

d.       Pada Kapur Tengah (90 MA )

Pada 90 juta tahun yang lalu (Kapur Tengah – Gambar 10), Blok Argo mendekati Kalimantan sebelah barat laut Kalimantan dan Busur Woyla mendekati tepian Sumatra. Koalisi-koalisi tersebut menyebabkan subduksi yang berlangsung sebelumnya berhenti. India terus bergerak ke utara melalui subduksi pada Busur Incertus. Australia dan Papua mulai bergerak perlahan menjauhi Antartika. 



Gambar 10. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Kapur Tengah  (90 MA) (Hall dkk. 2009)

e.       Pada Kapur Akhir ( 70 MA)

Pada Kapur Akhir, India bergerak cepat ke utara dikarenakan pemekaran yang cepat di bagian selatan dan terbentuk sesar-sesar tranform. Tidak ada pergerakan yang signifikan antara Australia dengan Sundaland serta tidak terjadi subduksi di bawah pulau Sumatra dan Jawa (Gambar 11). 



f.       Pada Eosen Awal  ( 55 MA)

Sekitar 55 juta tahun yang lalu (Eosen Awal – Gambar 12), pergerakan Australia-Sundaland menyebabkan terbentuknya subduksi sepanjang barat tepi Sundaland, di bawah Pulau Sumba dan Sulawesi Barat, dan mungkin menerus ke utara. Batas antara lempeng Australia-Sundaland pada bagian selatan Jawa merupakan zona strike-slip sedangkan pada selatan Sumatra berupa zona strike-slip tangensional. Busur Incertus dan batas utara dari Greater India bergabung dan terus bergerak ke utara.




Gambar 12. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Eosen Awal  (55 MA) (Hall dkk. 2009).


g.       Pada Miosen Tengah ( 45 MA)
Pada 45 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Gambar 13), Australia dan Papua mulai bergerak dengan cepat menjauhi Antartika. Terbentuk cekungan di sekitar daerah Celebes dan Filipina serta jalur subduksi yang mengarah ke selatan pada proto area Laut Cina Selatan. Pada 35 juta tahun yang lalu , daerah Sundaland mulai berotasi berlawanan dengan arah jarum jam, bagian timur Kalimantan dan Jawa secara relatif bergerak ke utara. Rotasi tersebut berlangsung disebabkan karena adanya interaksi lempeng India ke Asia.

h.       Pada pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah – Gambar 14), bagian kerak samudra pada Blok Banda yang berumur lebih tua dari 120 juta tahun yang lalu mencapai jalur subduksi pada selatan Jawa. Palung berkembang ke arah timur sepanjang batas lempeng sampai bagian selatan dari Sula Spur. Australia dan Papua mendekat ke posisi sekarang ini dan lengan-lengan dari Sulawesi mulai bergabung. 


Gambar 14. Sketsa Tektonik Sundaland dan sekitarnya pada Miosen Tengah  (15 MA) (Hall dkk. 2009).

Kesimpulan                                                                          
Berdasarkan data Geologi evolusi tektonik sundaland merupakan gabungan dari sisa – sisa fragment dari benua gondwana yang terpisah akibat spreading. Bagian – bagian ini kemudian bergabung dengan sebagian dari benua Eurasia. Selain itu pergerakan dari Fragment Benua Gondwana mengakibatkan subduksi di selatan Eurasia berubah pergerakanya. Kemudain akibat dari collision benua Eurasia dan lempeng India mengakibatkan terjadinya sesar – sesar dan rotasi yang berlawanan dengan arah jarum jam.


Daftar Pustaka


Hall, R., Clements, B., Smyth, H. R. Sundaland: Basement Character, Structure and Plate    Tectonic Development. Proceedings, Indonesian Petroleum Association, Thirty-Third Annual Convention & Exhibition, May 2009.

Hutchison, C. S. 1973. Tectonic Evolution of Sundaland: A Phanerozoic Synthesis.     Proceedings Regional Conference on the Geology of South East Asia, Geological Society of Malaysia. Vol. 6. Hal. 61-86.

Sudarmono , Suherman T, dan Benny Eza. 1997. Paleogene Basin Development in Sundaland   and its’s Role to the Petroleum Systems in Western Indonesia. Proceedings of an International Conference on Petroleum Systems of SE Asia and Australasia.


Read More

Minggu, 16 Juni 2013

Geologi Struktur Daerah Jawa


     Geologi Struktur Daerah Jawa 

Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur.
Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) (Gambar 7).
 Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut – Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur – Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.


Gambar 7. Pola stuktur di Pulau Jawa berupa pola Meratus , pola Sunda dan arah Timur – Barat (Sujanto dan Sumantri , 1977 dalam Natalia dkk., 2010).

Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebarab singkapan batuan pra- Tersier di daerah KarangSambung.
 Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur. 

Pola Sunda berarah Utara - Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan.Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna.
 Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan (Gambar 8). Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.
Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir. 

Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994 dalam Natalia dkk., 2010 ). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.




Gambar 8. Pola struktur dan sesar di Pulau Jawa ( Natalia dkk., 2010)

Referensi ;

Natalia, Eka P., Taufiq Andhika , Roid Faqih M., Dharmaleksa S.E.P, Ade AkhyarNurdin , Belly Dharana Kertiyasa , Novianto Dwi Nugrohao, Bayu Hari Utomo. 2010.”Geologi Pulau  Jawa”. Univesitas Jenderal Soedirman : Purbalingga.
Read More