Tampilkan postingan dengan label Batubara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batubara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

10 Perusahaan Energi dan Tambang Terbaik Indonesia Tahun 2013 Versi Majalah Fortune

Perusahaan energi dan mineral merupakan salah satu penyumbang dalam neraca devisa negara. Terutama ekspor batubara dan mineral. Beberapa perusahaan masuk dalam 100 besar perusahaan terbaik indonesia versi Majalah Fortune. Berikut ini 10 besar perusahaan tersebut :

1. PT. Pertamina


Perusahan BUMN yang mengurusi masalah minyak dan gas ini berada di peringkat pertama 100 besar perusahaan Indonesia. Dengan pendapatan sebesar 740 T naik sebesar 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba BUMN ini mencapai 31 T. Pertamina saat ini gencar dengan akuisisi blok migas. Seperti saat akuisisi blok migas North West Java Basin dan blok migas di negara Aljazair.

Selain minyak dan gas pertamina juga mengincar pengembangan pembangkit panas bumi melalui anak perusahaanya Pertamina Geotermal.




2. PT. Adaro Energy Tbk.


Perusahaan tambang penghasil batubara ini menempati peringkat 14 dari 100 perusahaan terbaik indonesia. Sebagaian besar pendapatan PT. Adaro Energy Tbk. disumbang melalui anak perusahaanya PT. Adaro Indonesia dan Kontraktor pertambangan Sapta Indra Sejati (SIS) . Perusahaan yang didirikan Garibaldi Thohir, Teddy Rachmat ,Edwin Soeryadjaya,Sandiaga Uno,dan Benny Soebianto ini menghasilkan pendapatan sebesar 34 T turun sebesar 2%. Hal ini dikarenakan harga komoditas batubara setahun belakangan turun. Laba bersih PT. Adaro diperkirakan sebesar 2,4 T.


3. PT. Indo Tambangraya Megah



Perusahaan tambang batubara ini menempati peringkat 24 dari 100 perusahaan terbaik indonesia. Dengan pendapatan sebesar 1 % bila dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih PT. Indo Tambangraya Megah sebesar 2,3 T.


4. PT. Aneka Tambang (Antam) (Persero) Tbk


Perusahaan BUMN ini memenempati peringkat 52 dari 100 perusahaan terbaik indonesia.

Dengan pendapatan sebesar 11,2 t naik 8 % dibandingkan tahun sebelumnya. Besaran pendapatan ini didukung oleh hasil tambang berupa emas, nikel, dan bauksit. Untuk mineral emas sumbangan terbesar berasal dari Tambang Emas Pongkor dan Cibaliung. Antam juga memiliki 25% PT Nusa Halmahera Minerals yang mengoperasikan tambang emas Gosowong di Maluku Utara. 

Sedangkan Tambang Nikel antara lain berada di Pomala , 
Tapunopaka di Sulawesi Tenggara dan Buli di Maluku Utara.

Sedangkan tambang bauksit antara lain berada di : Tayan, Munggu Pasir, dan Mempawah (Kalimantan Barat). Untuk Laba bersih Antam hanya mendapatkan sebesar 409 Milyar. hal ini dikarenakan Antam fokus dalam pengembangan pabrik smelter, sehingga mengurangi laba bersih Antam.

Beberapa pembangunan pabrik smelter ini antara lain berada di : 

Proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan

Proyek FeNi Buli Halmahera Timur

Proyek Perluasan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP)

Proyek Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah.


5. PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.



Perusahaan BUMN ini bergerak di penambangan dan pemanfaattan Batubara. Lokasi kerja Bukit Asam ini berada di Pulau Sumatra. Perusahaan ini pada tahun 2013 berada di posisi ke 53 dengan pendapatan sebesar 11,2 T turun sebesar 3 % bila dibandingkan tahun sebelumnya. Hampir semua perusahaan batubara mengalami penurunan pendapatan. Hal ini dikarenakan lesunya dan turunnya harga komoditas 

batubara. 

Laba bersih Bukit Asam diperkirakan sebesar 1,8 T.



6. PT. Vale Indonesia Tbk.

Perusahaan asal brasil ini sebelumnya bernama Inco Indonesia yang menguasai pertambangan Nikel di Sorowako , Sulawesi Selatan. Perusahaan ini berada di posisi 64 dengan pendapatan sebesar 9,5 T naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan diperkirakan sebesar 402 M.


7. PT. Medco energy International Tbk.


Perusahaan milik Arifin Panigoro ini berada di posisi ke 65 dengan pendapatan sebesar 9,2 T naik 9 % bila dibandingkan tahun sebelumnya. Laba Bersih perusahaan ini sebesar 131 M.







8. PT. Harum Energy Tbk.

Perusahaan batubara ini berada di peringkat 66 dengan pendapatan sebesar 8,7 T turun 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan ini sebesar 435 M



9. PT. Energy Mega Persada Tbk.


Perusahaan Minyak dan Gas ini berhasil berada di peringkat 68 dengan pendapatan sebesar 8,4 T, naik 37% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih sebesar 1,7 T. Energi mega persada sangat aktif dalam akuisisi blok migas terutama di luar negeri .




10. PT. Timah (Persero) Tbk.

Di peringkat 10 satu - satunya perusahaan mineral timah yang masuk 10 besar perusahaan tambang dan energi terbaik. PT. Timah berada di posisi 84 dengan pendapatan sebesar 5,8 T turun 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih Bumn ini sebesar 515 M. Penurunan pendapatan ini dikarenakan cadangan timah di daratan mulai menipis. diharapkan ke depanya produksi timah akan beralih dari darat ke laut. 




Selamat untuk 10 perusahaan tamabng terbaik versi Majalah Fortune. Semoga kinerjanya semakin meningkat.
Read More

Rabu, 25 Desember 2013

Apa itu CBM (Coal Bed Methane) ?

CBM telah dikenal lama oleh para pekerja tambang batubara terutama pada penambangan bawah tanah (underground) sebagai gas tambang. Gas tambang ini sering kali mencelakai pekerja tambang. Gas tambang / CBM ini dianggap sebagai penyebab ledakan dan longsor di dalam tambang batubara.


Saat ini Gas tambang ini dapat dimanfaatkan dan diambil sebagai energi gas. Sehingga gas tambang ini tidak mencelakai para pekerja tambang. Selain itu gas tambang metana yang keluar merusak atmosfer dapat dicegah


CBM juga dikenal sebagai coal seam gas (CSG) atau coal seam natural gas (CSNG). Batubara memiliki lapisan-lapisan berisi gas alam dengan kandungan utamanya metana atau methane (CH4) yang disebut CBM. CBM (Coal Bed Methane) adalah gas metana yang dihasilkan selama proses pembatubaraan dan (tetap) terperangkap dalam batubara. Gas tersebut dapat terbentuk secara biogenik maupun thermogenik (dalam eksplorasi CBM yang dicari adalah thermogenik). Ciri fisiknya gas ini: tak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tapi ketika bercampur dengan udara bisa tiba-tiba meledak (mudah terbakar).


CBM terbentuk bersama air, nitrogen dan karbondioksida ketika material tumbuhan tertimbun dan berubah menjadi batubara karena panas dan proses kimia selama waktu geologi yang sering disebut dengan coalification.
  

Gambar 1. Proses Pembatubaraan



Produksi pada methane dari lapisan batubara dibagi menjadi 3 tipe proyek :


1.            Coal bed methane


2.            Coal mine methane


3.            Enhanced coal bed methane.

Setiap proyek memiliki kesempatan dan persoalan-persoalan yang berbeda




Gambar 2. Tipe Pengembangan CBM

Karakter dari batubara yang baik untuk produksi CBM :

  1. Kandungan gas tinggi :15m3-30m3 per ton
  2. Permeabilitas yang baik : 30mD-30mD.
  3. Dangkal : lapisan batubara < kedalaman 1000m. Tekanan pada kedalaman yang berlebih terkadang sangat tinggi dan telah mengalami penguapan. Hal ini disebabkan tekanan tinggi menyebabkan adanya struktur cleat yang menyebabkan penurunan permeabilitas. 
  4. Ranking batubara : kebanyakan proyek  CBM memproduksi gas dari batubara bituminus, tetapi hal ini dapat mungkin terjadi di Antrasit. Semakin bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous rank, lalu berkurang hingga antrasit. Jadi, dari low rank coal pun sudah punya CBM (umumnya kualitas batubara di Indonesia kita adalah low rank). Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal.

     Pada prinsipnya, sejumlah banyak cbm tersimpan dalam coal matrix secara adsorption, yang arti mudahnya adalah 'gas menempel di dalam pori-pori coal matrix' (ada juga sih cbm sebagai free gas atau gas yang tidak menempel pada coal matrix). Cara terkandungnya cbm ini berbeda dengan cara tersimpannya conventional gas. conventional gas tersimpan secara compressed (sebenarnya sama saja dengan free gas). Jadi, lapisan batubara pada target eksplorasi cbm selain berperan sebagai reservoir, juga berperan sebagai source rock (tidak ada migrasi seperti pada conventional gas). 

     CBM dapat keluar (desorption) dari coal matrix melalui cleat (bidang rekahan dengan merendahkan pressure (air) pada target lapisan. Hubungan antara kuantitas cbm yang tersimpan dalam coal matrix terhadap pressure dinamakan Kurva Langmuir Isotherm (proses tersebut berada pada suhu yang konstan terhadap perubahan pressure). Tekanan tersebut direndahkan dengan cara memompa air (dewatering). Jadi, sejumlah banyak air juga akan diproduksikan dan ini menyebabkan kalau mengeksploitasi CBM akan berhadapan dengan environmental challenge, karena banyaknya air yang diproduksi.

    Gamabr 3. Bidang Rekahan di Bidang Batubara
Read More

Senin, 08 April 2013

Batubara Sebagai Sedimen Organik




Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara.

Contoh batuan batubara

Selain tumbuhan yang ditemukan bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada  umumnya sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan suatu batubara.
Secara umum, setelah sisa tanaman tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi, pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga memegang peranan yang sangat penting.

PENYUSUN BATUBARA


Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.

  1. Lignin

Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.

  1. Karbohidrat

Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung  polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.

  1. Protein

Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.

Material Organik Lain


1. Resin

Resin merupakan material yang muncul apabila tumbuhan mengalami luka pada batangnya.

2. Tanin

Tanin umumnya banyak ditemukan pada tumbuhan, khususnya pada bagian batangnya.

3. Alkaloida

Alkaloida merupakan komponen organik penting terakhir yang menyusun batubara. Alkaloida sendiri terdiri dari molekul nitrogen dasar yang muncul dalam bentuk rantai.

4.Porphirin

Porphirin merupakan komponen nitrogen yang berdasar atas sistem pyrrole. Porphirin biasanya terdiri atas suatu struktur siklik yang terdiri atas empat cincin pyrolle yang tergabung dengan jembatan methin. Kandungan unsur porphirin dalam batubara ini telah diajukan sebagai marker yang sangat penting untuk mendeterminasi perkembangan dari proses coalifikasi.

5. Hidrokarbon

Unsur ini terdiri atas bisiklik alkali, hidrokarbon terpentin, dan pigmen kartenoid. Sebagai tambahan, munculnya turunan picene yang mirip dengan sistem aromatik polinuklir dalam ekstrak batubara dijadikan tanda inklusi material sterane-type dalam pembentukan batubara. Ini menandakan bahwa struktur rangka tetap utuh selama proses pematangan, dan tidak adanya perubahan serta penambahan struktur rangka yang baru.

Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral)

Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.

PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA


Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan terbentuknya peat.

Pembentukan Lapisan Source

Teori Rawa Peat(Gambut) - Autocthon

Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.


Teori Transportasi - Allotocton

Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.

Proses Geokimia dan Metamorfosis

Setelah terbentuknya lapisan source, maka berlangsunglah berbagai macam proses. Proses pertama adalah diagenesis, berlangsung pada kondisi temperatur dan tekanan yang normal dan juga melibatkan proses biokimia. Hasilnya adalah proses pembentukan batubara akan terjadi, dan bahkan akan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Hasil dari proses awal ini adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses biokimia mendominasi, yang mengakibatkan kurangnya kandungan oksigen. Setelah tahap biokimia ini selesai maka berikutnya prosesnya didominasi oleh proses fisik dan kimia yang ditentukan oleh kondisi temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan berperan penting karena kenaikan temperatur akan mempercepat proses reaksi, dan tekanan memungkinkan reaksi terjadi dan menghasilkan unsur-unsur gas. Proses metamorfisme (temperatur dan tekanan) ini terjadi karena penimbunan material pada suatu kedalaman tertentu atau karena pergerakan bumi secara terus-menerus didalam waktu dalam skala waktu geologi.

HETEROATOM DALAM BATUBARA


Heteroatom dalam batubara  bisa berasal dari dalam (sisa-sisa tumbuhan) dan berasal dari luar yang masuk selama terjadinya proses pematangan.
Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 – 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara.
Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 – 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 - 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi.
Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 – 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut.
Read More