Tampilkan postingan dengan label Gamping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gamping. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2014

Eksploitasi Liar Kars Pangkalan , Kabupaten Karawang Dihentikan

Penambangan Karst Pangkalan, Karawang
Pemprov dan Polda Jabar akhirnya menghentikan penambangan di Kars Pangkalan, Kabupaten Karawang. Sejumlah alat penambangan yang bernilai milyaran juga ikut disita. Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar yang iku meninjau mengataka 14 alat berat yang digunakan untuk menambang disita Polda Jabar bersama Polres Karawang.





Selain itu 11 penambang juga ikut diperiksa oleh Polda Jabar karena tidak mengantongi ijin dari pemerintah. Di Bumi Jawa Barat siapapun boleh berusaha asalkan mengikuti aturan yang ditetapkan ujar Deddy di Gedung Sate.

Pemprov Jabar sendiri akan menertibkan penambangan liar di lokasi tersebut sebab penambangan kawasan Kars Pangkalan semakin banyak bertambah jumlahnya. Sebenarnya penghentian ini bukan untuk melarang penambangan tetapi untuk menunggu ketetapan kawasan mana saya yang layak untuk di eksploitasi. Terlebih saat ini dari luas 1000 hektare Kars Pangkalan 300 hektar diantaranya sudah rusak.

Sementara itu Satpol PP Jabar terkesan berhati - hati dalam menertibkan bangunan liar di kawasan tersebut. Lembaga ini khawatir melanggar aturan penertiban bangunan. Kepala Satpol PP Jabar Udjwalaprana sigit mengatakan dalam penertiban bangunan liar, pihaknya mengedepankan prinsip kehati - hatian karena tak inin bertentangan dengan aturan hukum.



Sebenarnya polemik Karst Pangkalan tidak hanya kali ini saja tetapi telah terjadi bertahun lamanya . apalagi dulunya kawasan ini akan dijadikan sumber bahan baku semen Bosowa dan PT Jui Shin Indonesia. Penolakan ekslpoitasi kawasan ini berlandaskan aturan Gubernur Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2006

Menurut Budi  Bramantyo, pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan pengajar di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) kawasan karst di jabar perlu dilindungi karena memiliki sejarah geologi dan keunikan tersendiri.

Uniknya Karst Pangkalan

Secara geologis, Karst Pangkalan merupakan bentang alam yang terbentuk pada formasi batu gamping berumur Miosen Tengah-Akhir, kira-kira 10 - 15 juta tahun yang lalu yang dinamakan Formasi Parigi. Batuannya berupa batu gamping terumbu. Hal itu menunjukkan bahwa pada kala itu, daerah pangkalan merupakan laut dangkal yang ditumbuhi terumbu karang yang tumbuh subur pada kondisi iklim hangat dengan air laut yang jernih. Saat terangkat sekarang ini, terumbu itu telah berubah menjadi wilayah perbukitan dengan ketinggian 50 - 120 m di atas permukaan laut sekarang. 
Karst Pangkalan, sebagaimana Kawasan Karst Kelas I lainnya, mempunyai nilai-nilai sos-ek-dik-bud yang tidak dapat dipisah sendiri-sendiri. Kawasan ini yang tersebar luas di Desa Tamansari diketahui mempunyai banyak gua yang belum banyak diteliti. Gua-gua yang merupakan gua vertikal dan berupa lubang di permukaan tanah umumnya merupakan ladang panen sarang walet yang potensial untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Sedikitnya terdapat 17 gua dengan potensi sarang walet, yaitu Luweng Pangambuh, Cibunut, Cimiring, Sempit, Keman, Cisumur, Sitela, Gede, Sipeleng, Cileuwi, Haji, Situmeja, Silonong, Cibenda, Ja`in, Cikandil, dan Cimandor. Ada empat gua sebagai sarang lalay, yaitu di Luweng Bahu, Sikondang, Gua Lumpang, dan Masigit. Ada empat gua tempat masukan air dan sungai bawah tanah, yaitu di Luweng Gede, Cibadak, Baucinyusup, dan Sitamyang. Sebuah gua dikeramatkan oleh penduduk setempat yaitu di gua berbentuk ceruk Song Paseban.

Selain itu, kawasan karst ini mempunyai sedikitnya dua mata air potensial. Pertama adalah Ciburial yang mempunyai debit air lebih dari 5 liter/detik. Mata air ini dikelola oleh PDAM untuk didistribusikan di Kecamatan Pangkalan yang meliputi tiga desa besar, yaitu Ciptasari, Tamansari, dan Jatilaksana. Mata air lain sekalipun tidak sebesar Ciburial, banyak dijumpai di kaki-kaki perbukitan karst, misalnya Citaman, yang menjadi pemasok air bersih utama bagi kampung-kampung di sekitarnya.

Sumber:


Penambangan Karst Dihentikan, hal 8 , Jumat 5 September 2014
Read More

Senin, 25 Agustus 2014

Karst Sangkulirang - Mangkalihat Kalimantan Timur Diincar Industri Semen

Karst Sangluriang Diincar Industri Semen

Kawasan Hutan Karst Mangkalihat 

Investor semen mulai melirik Kalimantan Timur sebagai penghasil bahan baku semen. Kawasan Karst Mangkalihat – sangkulirang yang sedang diajukan ke UNESCO sebagai warisan dunia bisa menjadi target bila tidak dikawal.



Program Manager The Nature Conservacy (TNC) Niel Makinuddin mengatakan awal tahun ini 13 investor semen menunggu masuk kaltim. Kawasan Karst ini tengah diperjuangkan agar dapat menjadi salah satu warisan dunia karena memikiki kekayaan yang luar biasa berupa kekayaan arkeologis dan gua – guanya.  Gubernur kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengeluarkan Peraturan Gubernur no 67 tahun 2012 tentang Perlindungan Kawasan Karst. 

Pemprov Kaltim pun sudah mengajukan pada Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral agar segere menetapkan bentang alam Karst yang berada di dua kabupaten berau dan kutai timur  sebagai kawasan lindung. Aturan ini untuk melindungi Sangkulirang dan mangkalihat dan harus dikawal, daerah ini jangan hanya dilihat sebagai batu gamping tetepi ini merupakan kekayaan alam yang memberi kehidupan masyarakat dan paling cocok sebagai kawasan wisata ujar Niel.

Kawasan Karst ini menjadi sumber mata air dan pelindung kampung percontohan program penguranga emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan. Keindahan Karst dan bentang alam kampung hulu Sungai Lesan , Kecamatan Kelay, Berau ini perlahan dikenal turis asing.

Foro Perbukitan Karst di kawasan Mangkalihat

Kepala Kampung Merabu Franly A Oley berharap kawasan Karst Mangkalihat – Sangkulirang benar – benar dilindungi. April lalu Menteri Kehutanan mengeluarkan SK Hutan Desa . Dasar hukum perlindungan ini cukup kuat. Namun aturan ini juga dibarengi kominmen kuat semua pihak.

Sumber Harian Kompas 24 agustus 2014

Read More

Gencarnya Investasi Pabrik Semen di Indonesia (Konflik Sumber Daya - 2)

Ilustrasi Penambangan Karst di Aceh

Di tengah pertumbuhan ekonomi negara indonesia yang mencapai 6% pertahun, kebutuhan akan bahan baku bangunan terutama semen semakin meningkat. Diperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5-6% pertahun, kebutuhan akan semen diperkirakan meningkat sebesar 10 - 12 % pertahun. Hal ini mengakibatkan banyak pengusaha melirik indonesia sebagai salah satu tujuan investasi pabrik semen.

Hal ini diakibatkan karena pembangunan infrastuktur di indonesia semakin berkembang. Berbagai proyek seperti Jalan Tol Trans Jawa, Bandara , Pelabuhan, pembangkit listrik dan pembangunan smelter mineral menjadi prioritas utama pemerintah melalui program MP3EI (Masterplan Percepatan, Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia). 


Berbagai perusahaan mencoba mencukupi kebutuhan bahan baku tersebut dengan mendirikan pabrik pengolahan semen. Perusahaan ini bukan hanya dalam negeri melainkan juga dari luar negeri. Perusahaan terbesar China Anhui Conch Cement bahkan merencanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2015. Selain Anhui terdapat beberapa perusahaan asing lainnya yang tertarik menginvestasikan modalnya di indonesia antara lain China Trio Int engineering co Ltd  yang membangun parik di Tanjung , Kalsel. SDIC China yang membangun pabrik 1 juta ton di Papua. Siam Cement (Thailand) membeli pabrik semen Boral (Jaya Readymix) berkapasitas 1,8 juta ton di Sukabumi. Wilmar (Semen Merah Putih) yang membangun pabrik semen berkapasitas 1,2 juta ton / tahun di Bayah , Banten. PT Jui Shin Indonesia yang berkapasitas 2,5 juta ton di karawang dan Semen Grobogan / Gajah Tunggal (China Triumph Int Co. Ltd.) yang membangun pabrik dengan kapasitas 1.5 juta ton/tahun di Grobogan , Jawa Tengah. 


Hal ini menarik karena sebagian besar merupakan perusahaan asal China. Padahal  China sendiri merupakan negara dengan produksi dan konsumsi terbesar di dunia dengan produksi sebesar 2.21 milyar ton paa tahun 2012 atau sekitar 56% produksi dunia. Menurut penelitian Yu Lei dkk. (MIT press, 2014) industri semen merupakan salah satu penyumbang terbesar polusi udara di China. Saat ini China memiliki kualitas udara terburuk akibat dari pencemaran udara yang salah satunya berasal dari industri semen. Menurut Yu Lei  (2014) polusi yang dikeluarkan oleh industri semen antara lain berupa Sulfur Dioksida (SO2) , Nitrogen Oksida (NOx), Karbon Monoksida (CO, dan debu. Sumbangan polusi paling besar berupa CO2 dan debu yang memiliki kandungan berupa logam berat seperti Cromium (Cr), Nikel (Ni), Timbal (Pb), dan Merkuri (Hg). 


Pencemaran udara yang  terlalu tinggi membuat pemerintah China untuk memperketat aturan tentang produksi semen mulai akhir 2013 dan merencanakan mengurangi produksi semen itu hingga 37 juta ton pada tahun 2015 (Reuters, 27 Desember 2013). Musim investasi semen di China kemungkinan akan berubah akibat kebijakan tersebut dan akan pindah ke Indonesia. Menurut peneliti School of Democratic Economics Hendro Sangkoyo perubahan ini dapat dilihat berupa pengalihan ekonomi. Dengan  membuang ekonomi yang kotor ke luar negeri salah satunya Indonesia. sedangkan negara China memilih untuk mengkonservasi bentang alam kars karena adanya kepentingan perdagangan karbon.

Menurut Rektor Undip Semarang Prof. Sudharto P Hadi dalam kasus Semen Rembang , beliau mendukung pendapat Ketua Badan Geologi Surono. Kalau berada di Zona Cekungan Air Tanah (CAT) jelas tidak boleh ditambang ujar Doktor Ilmu Lingkungan ini. Pendapat ini juga diamini oleh Geolog dari UPN Veteran Jogyakarta , Eko Teguh yang mendukung Badan Geologi. Badan Geologi bukan hanya alat Industri , melainkan alat negara untuk mensejahterakan rakyat dan karena itu harus berpijak kepada pembangunan berkelanjutan. Eko juga mengakatakan bahwa eksploitasi karst yang baik harus mengelola air tanahnya. Karst yang terbentuk jutaan tahun dari batuan karang lautan yang terangkat tidak tumbuh lagi. Berbeda dengan reservoir air tanah yang berasal dari tubuh gunung api yang mengeluarkan material vulkanik.

Menurut Sudharto daya dukung lingkungan mestinya jadi dasar bagi industri semen. Kajian Lingkunga Hidup Strategis harus dilakukan dengan mengintegrasikan aspek lingkungan sejak tahapan awal perencanaan. Khusus untuk Pulau Jawa sudharto mengatakan penambangan karst di pulau Jawa harus dikaji lebih serius karena daya dukung ekologi jaya yang menyusut, kepadatan penduduk yang sangat tinggi sehingga memicu konflik sosial. Dampak lingkungan berkaitan dengan dampak sosial. Ketika sawah tempat bergantung hidup hilang, lalu mata pencarian tergangg pasti ada masalah. Padahal sebagian besar perusahaan semen mengincar Kawasan Karst Di jawa sebagai bahan baku. Karena kedekatannya dengan pasar Jawa menjadi prioritas pembangunan pabrik semen hal ini diakibatkan karena transportasi menjadi biaya paling besar dalam produksi semen yang mencapai 20%. 


Hal ini diamini Hendro yang mengatakan bahwa produksi semen lebih di utamakan untuk memenuhi pasar real estate kota dibandingkan sebagai kebutuhan infrastruktur dasar. Bahkan industri semen mulai menyasar kepada pangsa ekspor. Jika konsisten dengan pembangunan yang adil seharusnya pabrik semen didirikan di tanah Papua, yang harga 1 zak mencapai 1 juta rupiah dibandingkan di Pulau Jawa.

Lalu masih berlanjutkah , Penambangan Karst Di Pulau Jawa ? 


Kawasan Karst Citatah , Cianjur , Jawa Barat


Diolah dari Harian Kompas Edisi 20 Agustus 2014 hal 14 Rubrik Iptek dan Lingkungan Hidup

Read More

Rabu, 20 Agustus 2014

Pabrik Semen Rembang , Untuk Siapa ? (Konflik Sumber Daya - 1 )



Sekitar 2 bulan ini warga daerah Gunem Rembang, Jawa Tengah resah diakibatkan adanya ijin penambangan batu gamping untuk dijadikan pabrik semen. Penambangan ini dilakukan oleh PT semen Indonesia untuk mencukupi kebutuhan pabriknya. Sebagian besar warga ini menolak adanya penambangan di daerah ini karena dikuatirkan akan terjadi kerusakan lingkungan. Warga yang sebagian besar merupakan petani ini mengkuatirkan hilangnya mata air di wilayah ini.


Seperti diketahui bahan baku semen berasal dari batugamping yang menyimpan mata air tanah. Daerah ini dikenal dengan kawasan Karst. Secara umum kawasan karst merupakan hasil geologi dari batuan gamping yang telah terlarutkan oleh air tanah sehingga menjadikan adanya gua – gua bawah tanah. Gua – gua inilah yang menjadikan sumber mata air bagi penduduk sekitar.



Berdasarkan geologi daerah ini merupakan daerah cekungan air tanah Watuputih. Daerah ini merupakan bagian dari daerah resapan /imbuhan air tanah CAT watuputih, akuifer di daerah ini dibawa oleh Formasi Paciran. Pada survei Badan Geologi di daerah ini ditemukan adanya enam gua dengan mata air. Berdasarkan PP No. 43/2008 daerah resapan / imbuhan harus dikonservasi dan dilarang untuk penambangan. Peraturan ini diamini oleh Ketua Badan Geologi Surono yang mengirim surat kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sayangnya  Gubernur Jawa Tengah tidak setuju dengan rekomendasi ini dan menyarankan agar masyarakat yang menolak untuk menggugat ke PTUN. 


Bagi warga sekitar yang merupakan petani, daerah resapan/ imbuhan ini sangat penting sebagai sumber mata air pertanian mereka. Selama ini  kebutuhan hidup warga sekitar dapat dipenuhi dari pertanian. Dari sekitar 5000  meter persegi dapat ditanami tanaman padi, palawija, dan tembakau secara bergantian sepanjang tahun. Hal ini diutarakan oleh Koordinator aliansi warga rembang peduli pegunungan kendeng  Joko Prianto. Bahkan kalau pembangunan pabrik ini untuk kesejahteraan masyarakat, kesejahteraan apa lagi yang dicari? Semua kesejateraan warga rembang berasal dari tanah dan sumber mata air yang melimpah. Bahkan menurut Joko, orang desa seperti kami paling hanya jadi satpam di pabrik. Lebih baik kami jadi petani di tanah kami sendiri.


Dalam pertemuan terakhir dengan PT Semen Indonesia Ketua Badan Geologi Surono menyarankan agar mencari lahan lain. Daerah Cekungan air tanah (CAT) Watuputih yang memiliki luas 32,26 km persegi sangat sempit sebagai daerah imbuhan / resapan sehingga sangat terpengaruh dengan adanya kegiatan penambangan. Sementara itu menurut Gunretno, petani dan tokoh muda Sedulur Sikep yag sukses menggagalkan rencana pabrik semen di Sukolilo Pati, mengatakan bahwa Indonesia tanpa pabrik semen tida akan ambru tetapi tanpa tanpa pangan pasti ambruk.


Konflik antara pabrik semen dan masyarakat ini bukan merupakan pertentangan antara warga desa yang menolak adanya industrialisasi, tetapi kegagalan pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat dan lingkungan melainkan kepada kepentingan pengusaha dan para pemodal (kapitalis).


Lalu kebijakan pembangunan pabrik semen ini untuk siapa? 





Diolah dari artikel iptek, lingkungan , dan kesehatan. Harian Kompas 19 agustus 2014 hal. 14
Read More

Sabtu, 02 Agustus 2014

Semen Indonesia Investasikan 3,7 T di Pabrik Semen Rembang



PT Semen Indonesia hingga Juli 2014 mengalami kenaikan penjualan di pasar dalam negeri sebesar 0,3 % menjadi 14,42 juta ton dari periode tahun 2013 sebesar 14,37. Penjualan ini ditopang olaeh pabrik semen gresik sebesar 7,8 juta ton naik 4,2 % dibandingkan tahun lalu sebesar 7,49 juta ton. Penjualan tertinggi kedua ditopang oleh semen tonasa sebesar 2,92 juta ton, naik 0,6 % dibandingkan tahun lalu sebesar 2,9 juta ton. Sementara penjualan semen padang sebesar 3,69 juta ton mengalami penurunan sebesar 7,1% dari sebelumnya 3,99 juta ton.

Ditengah gencarnya isu masyarakat ekonomi asia (MEA), Semen Indonesia terus meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini perseroan fokus dalam pembangunan 2 pabrik semen di padang dan rembang  yang masing - masing berkapasitas 3 juta ton / tahun. Investasi perseroan dalam pembangunan pabrik rembang mencapai 3,717 Trilliun. sedangkan untuk pabrik Indarung VI Padang mencapai 3,25 Trilliun. Hal ini menunjukan bahwa pembangunan pabrik cukup efisien dan memiliki prospek yang sangat baik.

Aktivitas produksi di Pabrik Semen Indonesia
 Saat ini , desain kapasitas produksi semen indonesia mencapai 31,8 juta ton. dengan ekspansi pabrik di sejumlah wilayah , desain kapasitas produksi diharapkan mencapai 39,3 juta ton pada tahun 2016 dan menjadi 40,8 juta ton pada tahun 2017.
Read More