Selasa, 28 Mei 2013

Pengendapan Sedimentasi Aluvial Fan

Bentuk Endapan aluvial fan
  
 Bentuknya menyerupai onggokan atau seperti kipas, terbentuk pada daerah lereng dari daerah pegunungan atau sepanjang patahan. Merupakan tipikal dari daerah yang agak kering dan sedikit vegetasi, sehingga jika terjadi banjir akan mengalami longsor atau menjadi aliran lumpur dan kemudian diendapkan pada kipas tersebut melalui kombinasi antara gravitasi dan kepekatannya.

              Litologi

Umumnya merupakan klastik kasar yang diwakili oleh konglomerat dan breksi serta jarang terdapat batupasir dan batulanau. Secara fisik dan kimiawi, endapannya masih belum dewasa. Mineraloginya masih mirip dengan batuan sumbernya. Kemungkinan berwarna merah.

              Geometri

Berbentuk onggokan atau berbentuk kipas. Dapat juga berbentuk lonjong karena terjadi pertemuan atau penumpukkan beberapa kipas tersebut. Dapat dikenali pada seismik dengan bentukan drape.

              Struktur Sedimen

Memiliki siklus menghalus keatas dan mengerosi lapisan bawahnya, mungkin saja muncul crossbedding. Umumnya struktur sedimen yang ada berupa chaotic.

              Arah Arus Purba

Pada beberapa lokasi akan ada beberapa variasi kemiringan lapisan yang akan memperlihatkan lereng purba (paleoslope) sepanjang bagian atas dari lapisan fan ini. Perbandingan kemiringan pada beberapa lokasi ini akan memperlihatkan pola yang cukup jelas.

              Fosil

Umumnya tidak terdapat fosil pada lingkungan ini, kecuali fragmen tumbuhan yang pada beberapa tempat akan terakumulasi cukup banyak. Meski demikian dapat ditemukan pula rombakan dari fosil yang lebih tua akibat dari debris.

              Respon dari electric log

Mineraloginya akan memberikan respon yang mirip dan susah dibedakan dari sumber sedimennya. Porositas umumnya rendah karena pemilahannya buruk.
 

Endapan aluvial fan di Death Valley, CA

 Gambar di atas merupakan endapan aluvial fan di Death Valley, CA-. Endapan ini mencerminkan topografi yang dangkal, di mana konglomerat tertimpa aliran piroklastik (warna putih).

 Referensi

  Principles of  Stratigraphy and Sedimentology.
 Koesoemadinata, R.P. 1985. Prinsip-Prinsip Sedimentasi. Bandung : ITB
 Walker. 1982. Facies Models.
 



Read More

Selasa, 14 Mei 2013

Konsep Eksplorasi



Sebagai suatu industri yang padat modal, padat teknologi, dan padat sumberdaya, serta mengandung resiko yang tinggi, maka industri pertambangan menjadi hal yang sangat unik dan membutuhkan usaha yang lebih untuk dapat menghasilkan sesuatu yang positif dan menguntungkan. Banyaknya disiplin ilmu dan teknologi yang terlibat di dalam industri ini mulai dari geologi, eksplorasi, pertambangan, metalurgi, mekanik dan elektrik, lingkungan, ekonomi, hukum, manajemen, keuangan, sosial budaya, dan komunikasi, sehingga menjadikan industri ini cukup kompleks.

Karena yang menjadi dasar dalam perencanaan aktivitas pada industri pertambangan adalah tingkat kepastian dari penyebaran endapan, geometri badan bijih (endapan), jumlah cadangan, serta kualitas, maka peranan ilmu eksplorasi menjadi hal yang sangat penting sebagai awal dari seluruh rangkaian perkerjaan dalam industri pertambangan.

Agar kegiatan eksplorasi dapat terencana, terprogram, dan efisien, maka dibutuhkan pengelolaan kegiatan eksplorasi yang baik dan terstruktur. Untuk itu dibutuhkan pemahaman konsep eksplorasi yang tepat dan terarah oleh para pelaku kegiatan eksplorasi, khususnya yang meliputi disiplin ilmu geologi dan eksplorasi tambang.

Kalau kegiatan eksplorasi menjanjikan adanya suatu harapan bagi pelaku bisnis pertambangan, barulah kegiatan industri pertambangan dapat dilaksanakan. Kegiatan eksplorasi dilakukan karena ada tujuan (goal) yang diharapkan oleh badan/pihak perencana eksplorasi tersebut.

Sebagai contoh :

q    Pada badan pemerintah, dengan tujuan pengembangan wilayah (daerah), maka kegiatan eksplorasi diarahkan untuk pendataan potensi sumberdaya bahan galian, sehingga kegiatan eksplorasi tersebut lebih bersifat inventarisasi sumberdaya mineral.

q    Pada perusahaan eksplorasi, dengan tujuan pengembangan potensi mineral tertentu, maka kegiatan eksplorasi diarahkan untuk dapat mengumpulkan data endapan tersebut selengkap-lengkapnya, sehingga data endapan yang dihasilkan mempunyai nilai yang dapat dianggunkan atau dijual kepada pihak lain (junior company).

q    Pada perusahaan pertambangan, dengan tujuan pengembangan dan penambangan mineral tertentu, maka kegiatan eksplorasi diarahkan untuk dapat mengumpulkan data endapan tersebut untuk mendapatkan nilai ekonominya sehingga layak untuk ditambang dan dipasarkan sebagai komoditi tambang.

Secara umum, dalam industri pertambangan kegiatan eksplorasi ditujukan sebagai berikut :

q    mencari dan menemukan cadangan bahan galian baru,

q    mengendalikan (menambah) pengembalian investasi yang ditanam, sehingga pada suatu saat dapat memberikan keuntungan yang ekonomis (layak),

q    mengendalikan (penambahan/pengurangan) jumlah cadangan, dimana cadangan merupakan dasar dari aktivitas penambangan,

q    mengendalikan atau memenuhi kebutuhan pasar atau industri,

q    diversifikasi sumberdaya alam,

q    mengontrol sumber-sumber bahan baku sehingga dapat berkompetisi dalam persaingan pasar.

Dilihat dari pentingnya hal tersebut di atas, terdapat 5 (lima) hal penting yang harus diperhatikan, yaitu :

q    Pemahaman filosofi eksplorasi dan cebakan bahan galian

q    Pengetahuan (dasar ilmu dan teknologi) yang terkait dalam pekerjaan eksplorasi,

q    Pemahaman konsep dan metode eksplorasi,

q    Prinsip dasar dan penerapan metode (teknologi) eksplorasi,


q    Pengambilan keputusan pada setiap tahapan eksplorasi.
Read More