Tampilkan postingan dengan label Stratigrafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stratigrafi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara (North West Java Basin)


Gambar 1. Lokasi Cekungan Jawa Barat Utara
Cekungan Jawa Barat Utara (North West Java Basin) merupakan salah satu cekungan yang terbukti memiliki kandungan minyak bumi. Cekungan ini sekarang dikelola oleh PT Pertamina. Cekungan Jawa Barat Utara terletak memanjang di bagian utara sejajar dengan pantai utara Jawa Barat. Di bagian utara dibatasi oleh Paparan sunda, bagian selatan oleh Cekungan Bogor, bagian timur oleh daerah pengangkatan Karimun Jawa dan bagian barat oleh Cekungan Sumatra Selatan.

Pada Cekungan Jawa Barat Utara terdapat dua sub cekungan utama, yaitu Cekungan Ardjuna dan Cekungan Sunda. Selain itu juga terdapat sub-sub cekungan lain, diantaranya Cekungan Ciputat, Pasir Putih, Vera, Billiton dan Jatibarang dengan tinggian-tinggian Tangerang, Rengasdengklok, Pamanukan dan Arjawinangun di antara sub-sub cekungan tersebut (Asril Sjahbuddin, 1985). 

Tektonik

Lempeng Sunda di sebelah timur dibatasi oleh kerak samudra, sebelah barat oleh kerak benua, sebelah selatan oleh kerak benua dan samudra berumur Kapur yang timbul selama umur Tersier (Pulunggono, 1985; Ponto dkk, 1988). Sejak awal Tersier, lempeng ini menunjam ke selatan dan mereda pada Oligosen (Ponto dkk, 1988).

Sistem subduksi yang terjadi sekarang di lepas pantai selatan Jawa bermula sejak akhir Oligosen (Hamilton, 1979). Tektonik ini dihasilkan oleh pergerakan lempeng Indo-Australia ke arah Utara dan pada Eosen-Oligosen membentuk struktur half-graben di sepanjang tepi selatan Lempeng Sunda (sekarang Sumatra dan Jawa) (Hall, 1997a, b; Longley, 1997; Sudarmono dkk, 1997). Pada awalnya kompleks half-graben ini berarah N45°E, bergerak semakin ke timur dengan arah N60°E, dan pada akhir Oligosen berarah N90°E (barat-timur) dan dipisahkan oleh zona sesar.

Struktur yang terbentuk di daratan Jawa akibat subduksi dari barat ke timur yaitu Tinggian Tangerang, Cekungan Ciputat, Tinggian Rengasdengklok, Cekungan Pasir Putih, Tinggian Pamanukan-Kandanghaur, Jatibarang Basin, and the Cirebon Trough (Reminton and Pranyoto, 1985; Adnan dkk, 1991).  Struktur yang terbentuk di lepas pantai antara lain Cekungan Sunda and Cekungan Asri, Seribu Platform, Cekungan Ardjuna, Tinggian F , Cekungan Vera, Cekungan Jatibarang, Cekungan Billiton, Busur Karimunjawa, dan Bawean Trough (Ponto dkk, 1988; Adnan dkk, 1991).

Pengendapan

Tipe pengendapan pada half-graben ini dimulai dari pengisian bahan klastik yang berasal dari punggungan half-graben ini, dimana terkadang half-graben ini diisi oleh danau air tawar (Bishop, 1988; Wicaksono and others, 1992). Sedimen yang tererosi dari pengangkatan lempeng Sunda mengisi cekungan ini dari utara. Ketika pengisian ini masih berlanjut, cekungan ini berkembang semakin besar dan pengisian berubah menjadi fase late-rift dan fase post-rift. Klastik yang berasal dari endapan pantai dan endapan delta dari daratan sunda mengelilingi dan mengisi cekungan lakustrin half-graben ini (Ponto dkk, 1988; Sudarmono dkk, 1997).

Pada akhir Oligosen, terjadi kenaikan muka air laut. Ini menyebabkan endapan laut dan endapan delta terakumulasi (Ponto dkk, 1988). Pada Cekungan Ardjuna dan Cekungan Jatibarang, berkembang endapan batubara yang tebal (Gordon, 1985; Ponto dkk, 1988). Fasies laut dangkal juga terjadi di Cekungan Vera yang awalnya terpisah dengan Cekungan Ardjuna.

Pada awal Miosen, terjadi kenaikan muka air laut di Cekungan Jawa Barat Utara, ini menyebabkan terendapkannya terumbu sehingga batuan karbonat mengisi cekungan ini. Terjadi juga pemekaran laut yang menyebabkan terendapnya serpih marin yang diduga berfungsi sebagai seal pada perangkap hidrokarbon.

Pada Miosen tengah, terjadi penurunan muka air laut yang menyebabkan terendapkannya endapan klastik laut dangkal, endapan pantai dan delta, endapan darat yang bergantian dengan perkembangan fase karbonat (Pertamina, 1996). 

Pada akhir Miosen terjadi penurunan muka air laut kembali, menyebabkan berkembangnya endapan karbonat dan terendapkannya sedimen laut (Pertamina, 1996). 

Selama Pleistosen, Lempeng Sunda sesekali muncul, dan serpih, klastik fluvial dan vulkanik terendapkan (Pertamina, 1996).

Kolom stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara

 

Read More

Minggu, 11 Mei 2014

Tektonik Cekungan Kutai

 Tektonik

Cekungan Kutai di sebelah utara berbatasan dengan Bengalon dan Zona Sesar Sangkulirang, di selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang, di barat dengan sedimen-sedimen Paleogen dan metasedimen Kapur yang terdeformasi kuat dan terangkat dan membentuk daerah Kalimantan Tengah, sedangkan di bagian timur terbuka dan terhubung denganlaut dalam dari Cekungan Makassar bagian Utara.


Elemen Struktur bagian timur Cekungan Kutai. (Beicip, 1992, op.cit. Allen dan Chambers, 1998. )
Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi fase pengendapan transgresif Paleogen  dan pengendapan regresif  Neogen. Fase Paleogen dimulai dengan ekstensi pada tektonik dan pengisian cekungan selama Eosen dan memuncak pada fase longsoran tarikan post-rift dengan diendapkannya serpih laut dangkal dan karbonat selama Oligosen akhir. Fase Neogen dimulai sejak Miosen Bawah sampai sekarang, menghasilkan progradasi delta dari Cekungan Kutai sampai lapisan Paleogen. Pada Miosen Tengah dan lapisan yang lebih muda di bagian pantai dan sekitarnya berupa sedimen klastik regresif yang mengalami progradasi ke bagian timur dari Delta Mahakam secara progresif lebih muda menjauhi timur. Sedimen-sedimen yang mengisi Cekungan Kutai banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel dengan pantai.  Intensitas perlipatan semakin berkurang ke arah timur, sedangkan lipatan di daerah dataran pantai dan lepas pantai terjal, antiklin yang sempit dipisahkan oleh sinklin yang datar. Kemiringan cenderung meningkat sesuai umur lapisan pada antiklin. Lipatan-lipatan terbentuk bersamaan dengan sedimentasi berumur Neogen. Banyak lipatan-lipatan yang asimetris terpotong oleh sesar-sesar naik yang kecil, secara umum berarah timur, tetapi secara lokal berarah barat.



Cekungan Kutai dari Oligosen akhir – sekarang. (Beicip, 1992, op.cit. Allen dan Chambers, 1998.)

Pada Kala Oligosen (Tersier awal) Cekungan Kutai mulai turun dan  terakumulasi sediment-sediment laut dangkal khususnya mudstone, batupasir sedang dari Formasi serpih Bogan dan Formasi Pamaluan. Pada awal Miosen, pengangkatan benua ( Dataran Tinggi Kucing) ke arah barat dari tunjaman menghasilkan banyak sedimen yang mengisi Cekungan Kutai pada formasi delta-delta sungai, salah satunya di kawasan Sangatta. Ciri khas sedimen-sedimen delta terakumulasi pada Formasi Pulau Balang, khususnya sedimen dataran delta bagian bawah dan sedimen batas laut, diikuti lapisan-lapisan dari Formasi Balikpapan yang terdiri atas mudstone, bataulanau, dan batupasir dari lingkungan pengendapan sungai yang banyak didominasi substansi gambut delta plain  bagian atas yang kemudian membentuk lapisan-lapisan batubara pada endapan di bagian barat kawasan Pinang. Subsidenceyang berlangsung terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam dan meyebabkan terbentuknya sesar-sesar pada sedimen-sedimen. Pengendapan pada Formasi Balikpapan dilanjutkan dengan akumulasi lapisan-lapisan Kampung Baru pada kala Pliosen. Selama Kala Pliosen, serpih dari serpih Bogan dan Formasi Pamaluan yang sekarang terendapkan sampai kedalaman 2000 meter, menjadi  kelebihan tekanan dan tidak stabil, menghasilkan pergerakan diapir dari serpih ini melewati sedimen-sedimen diatasnya menghasilkan struktur antiklin-antiklin rapat yang dipisahkan oleh sinklin lebih datar melewati Cekugan Kutai dan pada kawasan Pinang terbentuk struktur Kerucut Pinang dan Sinklin Lembak.

Referensi :

Allen, G.P., dan Chambers,J.L.C.,1998, Sedimentation in the Modern and Miocen Mahakam Delta. IPA, hal. 156-165
Read More

Jumat, 02 Mei 2014

Geologi Cekungan Kau Bay (Halmahera - Maluku Utara)

Geologi Regional Cekungan Kau Bay (Halmahera , Malaku Utara)


Nama cekungan polyhistory               : Paleogene Oceanic Fracture - Neogene  Back Arc Basin

Klasifikasi cekungan                           : Cekungan Sedimen Dengan Status Belum Ada Penemuan Hidrokarbon


Cekungan Kau Bay merupakan salah satu cekungan dikawasan timur Indonesia. Lokasinya berada disebelah utara Pulau Halmahera, pada koordinat 128° - 129° BT dan 2.5° - 1° LU.


Lokasi Cekungan Kau Bay
Cekungan ini menempati wilayah perairan dan sebagian kecil menempati wilayah daratan di utara Pulau Halmahera. Luas total cekungannya sekitar 7.621 km2, dengan luas daratan 975 km2 dan luas lautan 6.646 km2. Batuan dasar cekungan berumur Jurasik, ketebalan sedimennya 1 – 3 km dan kedalaman cekungan 0 – 3.000 m
Peta Anomali Gaya Berat Cekungan Kau Bay
Geometri cekungan berbentuk ireguler memanjang dengan arah timurlaut - baratdaya. Sebelah utara cekungan dibatasi oleh tinggian Morotai, disebelah timur dibatasi oleh Samudera Pasifik, sedangkan sebelah barat dan selatan cekungan dibatasi oleh tinggian Pulau Halmahera. Peta anomali gaya berat menunjukan kontras densitas yang dapat dijadikan batas cekungan 

Tektonik Regional


Pulau Halmahera terletak pada komplek tektonik dimana terdapat tiga lempeng utama yang saling berinteraksi. Lempeng-lempeng tersebut terdiri dari Lempeng Laut Filipina, Lempeng Australia, dan Lempeng Eurasia . Dibagian timur laut, Lempeng Laut Filipina bergerak kearah barat. Kemungkinan pusat pemekaran berada di daerah Palung Ayu yang disubdusikan dibawah Halmahera bagian utara, sepanjang jalur pemekaran Palung Filipina di bagian tenggara.

Peta Tektonik Pulau Halmahera

Lempeng Australia yang berada di sebelah selatan bergerak kearah timurlaut. Pergerakan ini mengarah ke Sesar Sorong yang merupakan batas sebelah selatan wilayah Halmahera. Sesar Sorong sendiri merupakan sesar geser mengarah mengiri.
Selama terjadinya proses tumbukan antara Lempeng Australia bagian utara dengan Lempeng Laut Filipina, fragmen-fragmen dari lempeng benua terbagi-bagi dan bergerak sepanjang Sesar Sorong di bagian barat. Batugamping autochtonous Miosen dari Lempeng Australia, kemungkinan diendapkan di lingkungan pemekaran cekungan, yang terbawa dan terbentuk pada pembentukan Cekungan Weda dan Cekungan Tomori di bagian barat. Posisi tektonik dari cekungan selama proses tersebut adalah pada busur belakang dengan lokasi busur magmatik berada pada lengan bagian barat.

Lebih lanjut deformasi sesar mendatar berhubungan dengan zona aktif Sesar Sorong dan ini berhubungan dengan splay yang merupakan suatu sesar berpasangan. Kondisi tersebut mungkin menyebabkan pembukaan dari busur belakang seperti sebuah pull apart basin. Sejarah stratigrafi Halmahera merupakan hasil dari patahan dan pengangkatan sedimen-sedimen hasil fluktuasi genang laut. Sedimen-sedimen tersebut berpotensi sebagai batuan induk, reservoir, dan batuan penutup, yang penting dalam pembentukan dan penjebakan hidrokarbon.

Sedimentasi dan Stratigrafi

Stratigrafi Cekungan Kau Bay diendapkan diatas batuan dasar berumur Jurasik. Litologi batuan dasarnya terdiri dari ofiolit. Sedimentasi cekungan ini diawali dengan pengendapan secara tidak selaras batugamping Formasi Gau pada umur Kapur; batuannya terdiri atas endapan batupasir dan batugamping. Diatas batugamping Formasi Gau diendapkan breksi Formasi Dodogo berumur Paleosen.



Peta Geologi Pulau Halmahera
Pada umur Eosen Awal diatas Formasi Dodogo diendapkan Formasi Paniti. Formasi Paniti ini memiliki endapan berupa batupasir konglomeratan, batulanau, batulempung, batugamping, dan dijumpai pula endapan batubara. Diperkirakan formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
Pada umur Eosen Tengah di Cekungan Kau Bay diendapkan napal Formasi Onof. Kemudian pada Awal Miosen diendapkan secara tidak selaras Formasi Jawali dengan endapannya berupa konglomerat; konglomerat Formasi Jawali berasal dari daerah fluvial. Formasi Subaim diendapkan diatas Formasi Jawali pada umur Miosen Awal – Miosen Tengah. Formasi ini terdiri dari endapan batugamping masif dan perlapisan batugamping koral. Lingkungan paparan laut dangkal menjadi tempat pengendapan formasi ini.
Diatas Formasi Subaim diendapkan Formasi Soolat pada umur Pliosen. Formasi ini terdiri dari endapan batulempung gampingan dan perlapisan batugamping yang pada tempat-tempat tertentu dijumpai berlapis dengan batupasir dan konglomerat.


Stratigrafi Cekungan Kau bay

Batugamping Formasi Wasile diendapkan pada umur Pliosen. Formasi ini diendapkan selaras diatas Formasi Soolat, dengan batuannya berupa batupasir turbidit dan terdapat pula konglomerat yang menggambarkan bagian dari suatu prograding kipas bawah laut. Pada umur Pleistosen pada Cekungan Halmahera ini diendapkan batugamping terumbu, dan kemudian diendapkan endapan alluvial pada umur Holosen.
Sistem Petroleum
Dalam mempelajari suatu cekungan sangatlah penting untuk diketahui sistem petroleum dari cekungan tersebut. Terbentuknya hidrokarbon di suatu cekungan dikontrol oleh beberapa faktor, tergantung posisinya terhadap batas lempeng. Dengan menggunakan analog dari Cekungan Salawati berikut adalah sistem petroleum untuk Cekungan Kau Bay. 

Batuan Induk 
Batuan induk yang potensial di daerah Kepala Burung diharapkan terbentuk di cekungan Halmahera Selatan. Dua interval batuan induk yang menghasilkan minyak di daerah Kepala Burung Papua berupa serpih pada Formasi Ainim yang memiliki kecenderungan untuk menghasilkan gas dan sedikit minyak. Batuan berumur Jura Awal-Tengah dari Formasi Yefbie yang ekivalen dengan Formasi Kopai dari Kelompok Lower Kembelangan yang mengindikasikan kecenderungan yang lebih banyak menghasilkan minyak dibanding dengan batuan induk Permian; serpihnya memiliki TOC 6,2 % berasal dari material sapropel yang dapat menghasilkan minyak dan gas. Batuan induk Tersier yang ada pada cekungan-cekungan di daerah Kepala Burung melibatkan Grup Upper Kembelangan (Paleosen-Eosen) yang mengandung TOC sekitar 0.6-1.2% yang berasal dari material sapropel dan cenderung menghasilkan minyak. 

Reservoir
Endapan-endapan Formasi Pre-Oha (Paleogen), Formasi Superak (Miosen), Formasi Dufuk (Miosen Akhir), Formasi Subaim (Miosen), dan Formasi Wasille (Pliosen). Batuan reservoirnya terdiri dari batupasir dan konglomerat - batupasir alas serta batugamping.

 Batuan Penyekat
 Serpih yang berasal dari Formasi Soolat, Formasi  Dufuk, Formasi  Akelamo ; intraformasi. 

Jebakan Petroleum
Jebakan hidrokarbon di Cekungan Halmahera Selatan adalah jebakan stratigrafi, struktur dan kombinasi keduanya yang terbentuk pada fase syn-rift dan tereaktivasi pada fase tektonik collision. 




DAFTAR PUSTAKA

Darman, Herman dan Sidi, Hasan, F., 2000, An Outline of The Geology of Indonesia, Ikatan Ahli Geology Indonesia, Jakarta, hal 131-140.
Hall, Robert, 1999, History of Collision in the Halmahera Region, Indonesia,  Proceeding Indonesia Petroleum Association, 27th Annual Convention Proceedings.
Hamilton, W., 1979. Tectonics of the Indonesian Region: United States Geological Survey Professional Paper 1078.
Kartaadipura, Witoelar L., Ahmad, Zainal., dan Reymond, Andre., 1982, Deep-Sea Basin in Indonesia, Proceeding Indonesia Petroleum Association, 11th Annual Convention Proceedings, hal 53 – 81.
LEMIGAS, 2006, Kuantifikasi Sumberdaya Hidrokarbon, Volume II, Bab II Geologi Regional Indonesia Timur, LEMIGAS, Jakarta, hal 19-20.
Letouzey, Jean, Guignard, Jean, Clarens de Philippe, 1983, Structure of The North Banda-Molucca Area From Multichannel Seismic Reflection Data, Proceeding Indonesia Petroleum Association, 12th Annual Convention Proceedings, hal. 143 - 156.
PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification and Exploration Play-types in Indonesia, Volume II, Halmahera Basin, PERTAMINA, Jakarta, hal 229 – 230.

Read More

Minggu, 16 Maret 2014

Stratigrafi Regional Karanganyar , Jawa Tengah


Stratigrafi daerah penelitian telah banyak ditulis oleh peneliti terdahulu (Djuri dkk.,  1996). Stratigrafi daerah ini tersusun oleh batuan yang berumur dari Tersier hingga Kuarter, yang terdiri atas Formasi Rambatan; Formasi Halang; batuan terobosan; Formasi Kumbang; Formasi Tapak; Formasi Kalibiuk; Anggota Atas dan Bawah; Formasi Ligung; Satuan Tuff; Satuan Lava Andesit; Satuan Klastika Gunungapi, Satuan Batuan Hasil Gunungapi Tak Terpisahkan, dan satuan yang dianggap sebagai satuan paling muda adalah Endapam Danau dan Satuan aluvial





Batuan Terobosan

Batuan ini terdiri profir mikrodiorit yang berwarna ciklat berbintik coklat tua dan hitam, pejal, lapuk, bertekstur holokristalin subdiabas porfirit dengan fenokris feldspar dan mineral-mineral femis yang sebagian telah lapuk sehingga terbentuk rongga-rongga. Batuan terobosan ini juga terdiri dari diorit yang berbutir sedang-kasar. Menurut Djuri dkk. (1996), batuan terobosan ini berumur Miosen Akhir.

Formasi Rambatan
Formasi Rambatan ini terdiri dari serpih, napal dan batupasir gampingan. Napal berselang-seling dengan batu pasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak dijumpai lapisan tipis klasit yang tegak lurus dengan kemiringan lapisan. Banyak mengandung foraminifera kecil. Tebal lapisan sekiar 300 meter. Menurut Djuri dkk. (1996), Formasi Rambatan ini berumur Miosen Tengah dan diendapkan pada lingkungan dengan mekanisme arus turbidit sistem kipas bawah laut (Kertanegara dkk., 1987). Diatasnya diendapkan secara selaras Formasi Halang, tetapi setempat menjemari (Kertanegara dkk., 1987).

Formasi Halang
Formasi ini terdiri dari batupasir, andesit, konglomerat tufan dan napal yang bersisipan batupasir andesit. Terdapat bekas jejak cacing pada bagian atas lapisan batupasir. Formasi ini mengandung foraminifera kecil yang menunjukan umur Miosen Atas (Condon dkk., 1975 op.cit. Santoso dan Murtolo, 1994). Formasi ini memiliki umur Miosen Tengah –Miosen Akhir (Djuri dkk., 1996). Formasi ini memiliki ketebalan 300-500m dan diendapkan dalam mekanisme arus turbidit pada sistem kipas bawah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan volkanisme (Kertanegara dkk., 1987). Diatasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Kumbang.

Formasi Kumbang
Bagian bawah dari formasi ini terdiri dari breksi dengan komponen yang menyudut, ditemukan lapisan lava andesit, sedangkan diatasnya terdiri dari tuf yang berselang-seling dengan breksi dan batupasir tufan. Formasi ini berumur Miosen Tengah (Djuri dkk., 1996) dan memiliki ketebalan mencapai 750 m.

Formasi Tapak
Batuan penyusun formasi ini berupa batupasir kasar berwarna kehijauan dan konglomerat, setempat dijumpai breksi. Dibagain atasnya terdiri atas batupasir gampingan dan napal berwarna hijau yang mengandung pecahan moluska. Formasi Tapak mengandung dua anggota, yaitu Anggota Breksi dan Anggota Batugamping. Anggota Breksi terdiri dari breksi gunungapi dengan massadasar batupasir tufan, di beberapa tempat terdapat kalsit yang mengisi celah-celah. Anggota Batugamping terdiri atas lensa-lensa berwarna kelabu kekuningan, tidak berlapis. Formasi ini memiliki ketebalan 500 m, memiliki umur Miosen Tengah-Pliosen Awal (Djuri dkk., 1996), diendapkan secara tidak selaras diatas Foramsi Kumbang dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal-laut dalam (Kertanegara dkk., 1987). Diatasnya diendapkan selaras Formasi Kalibiuk.

Formasi Kalibiuk
Formasi ini tersusun oleh napal lempungan bersisipan batupasir, kaya akan moluska. Formasi Tapak dan Kalibiuk setara dengan Bodas Series (Neritic Molasse Facies) terdiri dari batugamping napalan dengan komposisi batugamping terdiri dari koral dan moluska. Bagian atas dari batugamping terdiri dari napal kelabu yang mengandung moluska dan menjadi sisipan pada lapisan batupasir, tuf kasar, dan pada bagian bawah terdapat sisipan breksi andesit. Umur dari formasi ini diperkirakan Pliosen Akhir dengan tebal sekitar 175 meter (Djuri dkk., 1996).

Formasi Ligung
Formasi Ligung terdiri dari Anggota Atas dan Anggota Bawah. Anggota bawah Formasi Ligung terdiri dari lempung tufan, batupasir tufan berlapis silang-siur, konglomerat dan lignit; mengandung sisa tumbuhan. Anggota Atas Formasi Ligung terdiri dari aglomerat andesit, breksi dan tuff kelabu. Formasi Ligung terbentuk dalam peralihan darat ketika terjadi pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Umur dari Formasi ini Pliosen Akhir-Plistosen Awal (Djuri dkk., 1996).

Satuan Tuff
Satuan ini terdiri dari perlapisan batupasir tufan berlapis, pasir tuf, konglomerat dan breksi tufan.

Satuan Lava Andesit dab Batuan Klastika Gunungapi
Satuan batuan ini terdiri dari lava andesit hipersten, setempat mengandung hornblenda dan basal olivin. Selain itu juga terdapat aliran lava dan beberapa breksi piroklastika dan lahar.

Hasil Gunungapi Tak Terpisahkan
Satuan ini terdiri dari atas breksi, lava, lapili dan tuf yang berasal dari Gunung Slamet dan beberapa pusat erupsi disebelah baratnya. Selain itu terdapat pula aliran lava andesitan berongga

Satuan Aluvial
Satuan ini terdiri atas lanau, pasir, kerikil, kerakal dengan tebal kurang dari 150 m.


Gambar. Stratigrafi  Geologi Karanganyar



 
Read More