Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2014

PT Pertamina Geotermal Energi Siap Produksi Listrik Dari PLTP Karaha Bodas Tahun 2015

Pembangkit Listrik Geotermal Di Gunung Salak , Jawa Barat (Ilustrasi)
PT. PGE Karaha Bodas dipastikan mulai beroperasi pada akhir tahun 2015 mendatang. Rencana ini sesuai dengan tahapan yag telah berjalan mulai dari tahapan persiapan, tahapan produksi telah dilaksanakan dan memberikan hasil yang memuaskan. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Karaha Bodas ini terletak di wilayah Kadipaten, Kabupaten Taskmalaya. Keberadaan pembangkit listrik ini diharapkan dapat menambah pasokan listrik di jaringan Jawa-Madura-Bali. Rencananya uji coba kali ini akan dioperasikan sebesar 30 MegaWatt dengan menggunaka jalur yang sudah ada di wilayah Kecamatan Cilau, Kabupaten Garut.

Keberadaan PLTP ini dipastikan akan dapat mendorong pendapatan daerah yang bersumber dari dana bagi hasil (DBH) dan bonus produksi sesuai dengan yang telah diatur oleh pemerintah pusat. Sehingga Pemkab Tasikmalaya akan mendapatkan tambahan pendapatan yang nantinya bisa disalurkan untuk pembangunan pemerintahan baru di kecamatan Singaparna. 

Selain itu secara tidak langsung masyarakat akan merasakan dampak positif dari terserapnya tenaga kerja , bantuan csr dari perusahaan dan termasuk bantuan pengembangan daerah baik berupa sarana fisik maupun sosial. Selain itu diharapkan dengan adanya PLTP ini kawasan hutan lindung yang berada di lokasi ini tidak mengalami kerusakan dan diharapkan akan tetap terjaga. Agar sumber mata air tetap terjaga sehingga kebutuhan air masyarakat sekitar tidak terganggu. 

Karena yang dikhawatirkan dalam kegiatan ini adalah dampak terhadap lingkungan berupa kerusakan lingkungan yang tiak bisa digantikan dengan nilai uang berapapun. Untuk itu diperlukan komitmen bersama semua pihak untuk menandatangani perjanjian sehingga perusahaan memperhatikan aspek lngkungan agar tidak terjadi bencana dan kerugian di masyarakat
Read More

Kamis, 17 Januari 2013

Geologi Regional Cibaliung, Banten







Menurut Van Bemmelen (1949) fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi enam zona, yaitu:
  •  Zona Gunungapi Kuarter,
  •  Zona Dataran Aluvial Utara Jawa Barat, 
  • Zona Antiklinorium Bogor, 
  • Kubah dan Punggungan pada Zona Depresi Tengah,
  •  Zona Depresi Tengah Jawa Barat, dan 
  • Pegunungan Selatan Jawa Barat (Gambar 1). 


 

Mengacu pada klasifikasi di atas, maka Cibaliung termasuk dalam Kubah dan Punggunan pada Zona Depresi Tengah Jawa Barat (Gambar 1). Kubah dan Zona Depresi Tengah merupakan daerah pegunungan yang memperlihatkan bentuk-bentuk kubah. Zona ini dikontrol oleh struktur dan litologi. Jenis litologi pembentuk morfologi zona ini terdiri atas batuan sedimen dan batuan beku. Morfologi zona ini juga dipengaruhi oleh struktur geologi seperti perlipatan, sesar, dan kekar

Van Bemmelen (1949) menyebut daerah penelitian sebagai Banten Block yang terdiri dari endapan Neogen dan terlipat kuat dan terobosan batuan beku. Daerah ini merupakan daerah yang relatif stabil sejak Tersier. Terdapat perbedaan arah struktur yang mencolok antara struktur-struktur di Banten Block yang didominasi arah utara-selatan dengan struktur-struktur Jawa yang didominasi arah barat-timur.   



Sudana dan Santosa (1992) dalam Peta Geologi Lembar Cikarang skala 1:100.000 membagi stratigrafi regional daerah penelitian ke dalam tujuh formasi, yaitu:

Formasi ini terdiri dari dua bagian, bagian bawah terdiri dari litologi breksi aneka bahan, lava andesit, batupasir, batulempung, batugamping, konglomerat, aglomerat dan tuf; bagian atas terdiri dari tuf dasit, lava andesit, dan tuf breksi. Umurnya diduga Miosen Awal.
Formasi Cimapag dapat disebandingkan dengan Formasi Cikancana di Lembar Ujungkulon yang berumur tidak lebih tua dari Miosen (Atmawinata, 1986 dalam Sudana dan Santosa, 1992). Tebal satuan ini diperkirakan 400 m. Formasi ini ditindih tak selaras oleh Formasi Bojongmanik dan setempat diterobos oleh andesit-basalt (Sudana dan Santosa, 1992).
Satuan ini terdiri dari litologi berupa breksi gunungapi, tuf, lava, andesit-basal, dan kayu terkersikkan. Formasi ini diduga berumur Miosen Akhir berdasarkan sebagian dari satuan batuan ini yang menjemari dengan Formasi Bojongmanik. Tebal Formasi Honje diperkirakan berkisar dari 500–600 m. Sebarannya terdapat di sekitar Gn. Honje, Gn. Tilu, dan daerah Citerureup; setempat diterobos batuan andesit-basalt (Sudana dan Santosa, 1992).

2.3         Formasi Bojongmanik
Formasi Bojongmanik terdiri dari litologi berupa perselingan batupasir dan batulempung bersisipan napal, batugamping, konglomerat, tuf, dan lignit. Fosil-fosil foraminifera yang ditemukan pada satuan ini menunjukkan umur Miosen Akhir-Pliosen atau pada zonasi Blow N16–N19. Selain fosil foraminifera ditemukan juga pecahan moluska, ostrakoda, ekinoid, dan kerang dengan lingkungan pengendapan darat hingga laut dangkal. Tebal formasi ini diperkirakan mencapai 400 m (Sudana dan Santosa, 1992).
Formasi ini terdiri dari tuf, tuf berbatuapung, batupasir tuf, batulempung tuf, tuf breksi, dan napal. Satuan ini umumnya berlapis baik dan tebalnya diperkirakan ±250 m, ditindih tak selaras oleh Formasi Bojong dan satuan batuan yang lebih muda. Fosil-fosil foraminifera dalam formasi ini menunjukkan umur relatif Pliosen (N19-N21). Dalam formasi ini dijumpai pula fosil moluska, kerang-kerangan dan ostrakoda. Lingkungan pengendapannya adalah darat-laut dangkal (Sudana dan Santosa, 1992).
Batuan terobosan berupa andesit dan basalt yang diduga berumur Pliosen. Satuan ini menerobos Formasi Cimapag dan Formasi Honje (Sudana dan Santosa, 1992).
Formasi ini terdiri dari litologi berupa batupasir gampingan, batulempung karbonan, napal, lensa batugamping, tuf, dan gambut. Formasi ini umumnya berlapis baik, tebalnya antara 150-200 m, ditindih tak selaras oleh satuan batuan yang lebih muda. Fosil-fosil foraminifera yang ditemukan pada formasi ini menunjukkan umur relatif Pleistosen atau N22. Lingkungan pengendapannya adalah litoral luar (Sudana dan Santosa, 1992).

Batuan gunungapi Kuarter terdiri dari litologi breksi gunungapi, aglomerat, dan tuf. Satuan ini tebalnya diperkirakan lebih dari 100 m dan umurnya diduga Pleistosen (Sudana dan Santosa, 1992). Berdasarkan Sudana dan Santosa (1992), daerah Sindanglaya dan sekitarnya termasuk ke dalam dua satuan batuan, yaitu Formasi Bojongmanik dan Formasi Honje. Formasi Honje merupakan nama formasi baru yang diusulkan Sudana dan Santosa tahun 1992 untuk endapan volkanik dengan lokasi tipe terletak di Pegunungan Honje, Cimanggu, Banten Selatan.


Daerah penelitian terletak di bagian tengah busur magmatik Sunda–Banda (Carlile dan Mitchell, 1994 dalam Angeles, dkk., 2002). Area ini merupakan daerah transisi sesar geser lateral berarah baratlaut (di Sumatera) sampai sesar kompresi berorientasi timur–barat (di Jawa) (Angeles, dkk., 2002). Menurut Sudana dan Santosa (1992), struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian berupa kelurusan dan sesar normal berarah timurlaut-baratdaya. Struktur tersebut diduga ada hubungannya dengan zona graben daerah Krakatau di Selat Sunda yang merupakan depresi kegiatan gunungapi tektonik (Zen, 1983 dalam Sudana dan Santosa, 1992).

Daftar Pustaka
Sudana, D. & Santosa, S. (1992). Geology of the Cikarang Quadrangle, Java: Pusat
       Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung, 13 pp.
Van Bemmelen , 1949.The Geology of Indonesia vol. 1 A. Government Printing Office, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. 1A, Netherlands
 


 





Read More