Tampilkan postingan dengan label Fisiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisiografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2014

Fisiografi Pulau Sulawesi

Pulau Sulawesi dan sekitarnya termasuk dalam daerah yang kompleks akibat dari interaksi tiga lempeng, yaitu Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Bentuk pulau yang seperti huruf K dapat menunjukkan adanya kompleksitas geologi di Pulau Sulawesi. Berdasarkan kepada asosiasi batuan dan perkembangan tektonik fisiografi Pulau Sulawesi dapat dibagi menjadi :




Peta tektonostratigrafi yang disederhanakan (Hall, 2011)

(1) Busur volkanik Tersier Sulawesi  Lengan bagian barat, fisiografi ini berasal dari endapan gunung aktif dan memnjang mulai dari makasar hingga toli - toli

(2) Busur volkanik Kuarter Lengan bagian utara Minahasa-Sangihe, endapan gunung api yang memanjang dari toli - toli, gorontalo, manado, hingga kepulauan sangihe.

(3) Sabuk metamorfik Kapur-Paleogen Sulawesi bagian tengah, berupa batuan metamorf akibat tumbukan lempeng eurasian di barat denga lempeng australia hingga mengangkat kompleks melange di bagian pulau sulawesi.

(4) Sabuk ofiolit dan asosiasi sedimen pelagic berumur Kapur pada Sulawesi bagian timur, berupa batuan kerak samudra yang naik dan 

(5) Fragmen mikrokontinen berumur Paleozoik yang berasal dari benua Australia pada daerah Banda.

Referensi

Read More

Senin, 06 Januari 2014

Geologi Pulau Kalimantan

Pulau Kalimantan berada dibagian tenggara dari lempeng Eurasia. Pada bagian utara dibatasi oleh cekungan marginal Laut China Selatan, di bagian timur oleh selat Makassar dan di bagian selatan oleh Laut Jawa.

Geologi Pulau Kalimantan dapat dibagi menjadi beberapa bagian antara lain:


a. Bagian utara

     1. Komplek akresi Crocker-Rajang-Embaluh berumur Kapur dan Eosen-Miosen.
     2. Cekungan Melawi-Ketungai.
     3. Cekungan Kutai.
     4. Zona ofiolit-melange Lupar-Lubok Antu dan Boyan.

b. Bagian selatan 

   1. Schwanner Mountain berumur Kapur Awal-Akhir berupa batolit granit dan granodiorit yang menerobos batuan metamorf regional derajat rendah.
        2.  Tinggian Meratus di bagian tenggara Kalimantan
        3.  Cekungan Barito
        4. Cekungan Asem-asem


Tinggian Meratus merupakan sekuens ofiolit dan busur volkanik Kapur Awal. Cekungan Barito dan Cekungan Kutai dibatasi oleh Adang flexure.    


Gambar tatanan tektonik pulau kalimantan (Andang Bachtiar , 2006)


Read More

Selasa, 17 Desember 2013

Fisiografi Pulau Papua

Pualu papua memiliki bentuk yang menarik, dilihat dari bentuknya pualu Papua diibaratkat berbentuk seperti brunung. Pulau Papua (New Guinea Island) berada pada posisi 130O19’BT – 150O48’BT dan 00O19’LS  – 10O 43’LS. Pulau tersebut memiliki panjang sekitar 2400 km dan lebar sekitar 660 km. Secara umum Fisiografi Pulau Papua dibagi menjadi 3 bagian yaitu (Van, Bemmelen (1949) :


1. Bagian Peninsula Barat (kepala burung), yang terhubung dengan bagian badan utama dari pulau tersebut oleh bentuk leher yang menyempit. Terletak pada 1300 – 1350BT (panjang).
2. Bagian Daratan Utama (badan), yang terletak pada 1350 – 143,50BT (panjang).
3. Bagian Timur (ekor burung), yang terletak pada 143,50 – 1510(panjang).

Bentuk tersebut diyakini akibat adanya tumbukan antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik yang diduga berawal pada awal tersier dan berlangsung hingga sekarang. Wilayah itu dikenal dengan sebutan ”Orogen Melanesia.”



Pada peta diatas, tampak pembagian dari fisiografis regional dari pulau Irian Jaya (New Guinea) yang tampak seperti seekor burung. Pulau ini terbagi menjadi bagian-bagian seperti bagian kepala, leher, badan dan ekor.


Irian Jaya (sekarang Papua) merupakan bagian dari pulau Irian (New Guinea) yang terdiri dari Irian Barat dan Irian Timur (Papua). Struktur tertua di Papua dihasilkan dari pergerakan bumi pada massa palezoikum namun hanya sedikit data yang diperoleh dan kurang memberikan pengaruh pada fasa tektonik pulau itu. Adanya aktivitas tektonik pada Miosen Akhir yang menghasilkan orogen Melanesia, menyebabkan pola struktur pulau tersebut menjadi sangat rumit dan khas. Oleh karena itu, proses orogenesa tersebut telah menentukan fisiografi Papua seperti yang terlihat sekarang (Dow dan Sukamto, 1984; op cit Darman dan Sidi, 2000).
            Keunikan bentuk seperti burung dari pulau itu memberikan konfigurasi pada gaya deformasi yang berbeda secara lengkap dari kerak benua antara Papua barat dan Papua timur.

-          Di Papua Timur, deformasi diihasilkan pada jalur deformasi dengan lebar 300 km, dengan arah barat – timur yang meluas sampai ke Papua Nugini dan mencakup hampir semua pegunungan yang menyusun badan burung. Jalur ini disebut New Guinea Mobile Belt.


-          Di Papua Barat, terdapat penyesuaian kerak sepanjang rekahan kerak utama yang melewati jalur sesar naik (mobile belt).
Read More

Rabu, 11 Desember 2013

Fisiografi Pulau Sumatra

Fisografi Regional

Secarah umum Fisiografi Pulau Sumatra dibagi menjadi beberapa bagian antara lain :

1 . Zona Kepulauan Busur muka : Merupakan kepulauan yang terangkat akibat adanya interaksi lempeng india australia dan lempeng euarasia. Memanjang mulai dari pulau nias, simelue dan tanimbar.

2. Zona Semangko : Merupakan daerah yang memnjang dari utara – selatan akibat dari terbentuknya sesar sumatar / sesar semangko.


3. Zona Jajaran Barisan : Zona Ini memanjang sepanjang sesar semangko

4. Zona dataran Rendah dan berbukit : Fisiografi daerah ini berupa dataran lembah dan terdiri dari cekungan sedimen

5. Zona Pegunungan Tiga Puluh

6. Zona Paparan Sunda 

Fisiografi Pulau Sumatra

Read More

Selasa, 09 Juli 2013

Fisiografi Pulau Halmahera, Maluku Utara

Geologi daerah Pulau Halmahera dibagi menjadi dua mendala yaitu mendala geologi dan mendala fisiografi. Berdasarkan Peta Geologi lembar Ternate, Maluku Utara yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, fisiografi Pulau Halmahera dibagi menjadi 3 (tiga) bagian utama, yaitu Mendala Halmahera Timur, Halmahera barat, dan Busur Kepulauan Gunung Api Kuarter.

a.      Mendala Fisiografi Halmahera Timur
Mendala Halmahera Timur meliputi lengan timur laut, lengan tenggara, dan beberapa pulau kecil di sebelah timur Pulau Halmahera. Morfologi mendala ini terdiri dari pegunungan berlereng terjal dan torehan sungai yang dalam, serta sebagian mempunyai morfologi karst. Morfologi pegunungan berlereng terjal merupakan cerminan batuan keras. Jenis batuan penyusun pegunungan ini adalah batuan ultrabasa. Morfologi karst terdapat pada daerah batugamping dengan perbukitan yang relatif rendah dan lereng yang landai.
b.      Mendala fisiografi Halmahera Barat
Mendala Halmahera Barat bagian utara dan lengan selatan Halmahera. Morfologi mendala berupa perbukitan yang tersusun atas batuan sedimen, pada batugamping berumur Neogen dan morfologi karstdan dibeberapa tempat terdapat morfologi kasar yang merupakan cerminan batuan gunung api berumur oligosen.
c.       Mendala busur kepulauan gunung api kuarter
Mendala ini meliputi pulau-pulau kecil di sebelah barat pulau Halmahera. Deretan pulau ini membentuk suatu busur kepulauan gunung api kuarter. Sebagian pulaunya mempunyai kerucut gunung api yang masih aktif.


Read More

Kamis, 17 Januari 2013

Geologi Regional Cibaliung, Banten







Menurut Van Bemmelen (1949) fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi enam zona, yaitu:
  •  Zona Gunungapi Kuarter,
  •  Zona Dataran Aluvial Utara Jawa Barat, 
  • Zona Antiklinorium Bogor, 
  • Kubah dan Punggungan pada Zona Depresi Tengah,
  •  Zona Depresi Tengah Jawa Barat, dan 
  • Pegunungan Selatan Jawa Barat (Gambar 1). 


 

Mengacu pada klasifikasi di atas, maka Cibaliung termasuk dalam Kubah dan Punggunan pada Zona Depresi Tengah Jawa Barat (Gambar 1). Kubah dan Zona Depresi Tengah merupakan daerah pegunungan yang memperlihatkan bentuk-bentuk kubah. Zona ini dikontrol oleh struktur dan litologi. Jenis litologi pembentuk morfologi zona ini terdiri atas batuan sedimen dan batuan beku. Morfologi zona ini juga dipengaruhi oleh struktur geologi seperti perlipatan, sesar, dan kekar

Van Bemmelen (1949) menyebut daerah penelitian sebagai Banten Block yang terdiri dari endapan Neogen dan terlipat kuat dan terobosan batuan beku. Daerah ini merupakan daerah yang relatif stabil sejak Tersier. Terdapat perbedaan arah struktur yang mencolok antara struktur-struktur di Banten Block yang didominasi arah utara-selatan dengan struktur-struktur Jawa yang didominasi arah barat-timur.   



Sudana dan Santosa (1992) dalam Peta Geologi Lembar Cikarang skala 1:100.000 membagi stratigrafi regional daerah penelitian ke dalam tujuh formasi, yaitu:

Formasi ini terdiri dari dua bagian, bagian bawah terdiri dari litologi breksi aneka bahan, lava andesit, batupasir, batulempung, batugamping, konglomerat, aglomerat dan tuf; bagian atas terdiri dari tuf dasit, lava andesit, dan tuf breksi. Umurnya diduga Miosen Awal.
Formasi Cimapag dapat disebandingkan dengan Formasi Cikancana di Lembar Ujungkulon yang berumur tidak lebih tua dari Miosen (Atmawinata, 1986 dalam Sudana dan Santosa, 1992). Tebal satuan ini diperkirakan 400 m. Formasi ini ditindih tak selaras oleh Formasi Bojongmanik dan setempat diterobos oleh andesit-basalt (Sudana dan Santosa, 1992).
Satuan ini terdiri dari litologi berupa breksi gunungapi, tuf, lava, andesit-basal, dan kayu terkersikkan. Formasi ini diduga berumur Miosen Akhir berdasarkan sebagian dari satuan batuan ini yang menjemari dengan Formasi Bojongmanik. Tebal Formasi Honje diperkirakan berkisar dari 500–600 m. Sebarannya terdapat di sekitar Gn. Honje, Gn. Tilu, dan daerah Citerureup; setempat diterobos batuan andesit-basalt (Sudana dan Santosa, 1992).

2.3         Formasi Bojongmanik
Formasi Bojongmanik terdiri dari litologi berupa perselingan batupasir dan batulempung bersisipan napal, batugamping, konglomerat, tuf, dan lignit. Fosil-fosil foraminifera yang ditemukan pada satuan ini menunjukkan umur Miosen Akhir-Pliosen atau pada zonasi Blow N16–N19. Selain fosil foraminifera ditemukan juga pecahan moluska, ostrakoda, ekinoid, dan kerang dengan lingkungan pengendapan darat hingga laut dangkal. Tebal formasi ini diperkirakan mencapai 400 m (Sudana dan Santosa, 1992).
Formasi ini terdiri dari tuf, tuf berbatuapung, batupasir tuf, batulempung tuf, tuf breksi, dan napal. Satuan ini umumnya berlapis baik dan tebalnya diperkirakan ±250 m, ditindih tak selaras oleh Formasi Bojong dan satuan batuan yang lebih muda. Fosil-fosil foraminifera dalam formasi ini menunjukkan umur relatif Pliosen (N19-N21). Dalam formasi ini dijumpai pula fosil moluska, kerang-kerangan dan ostrakoda. Lingkungan pengendapannya adalah darat-laut dangkal (Sudana dan Santosa, 1992).
Batuan terobosan berupa andesit dan basalt yang diduga berumur Pliosen. Satuan ini menerobos Formasi Cimapag dan Formasi Honje (Sudana dan Santosa, 1992).
Formasi ini terdiri dari litologi berupa batupasir gampingan, batulempung karbonan, napal, lensa batugamping, tuf, dan gambut. Formasi ini umumnya berlapis baik, tebalnya antara 150-200 m, ditindih tak selaras oleh satuan batuan yang lebih muda. Fosil-fosil foraminifera yang ditemukan pada formasi ini menunjukkan umur relatif Pleistosen atau N22. Lingkungan pengendapannya adalah litoral luar (Sudana dan Santosa, 1992).

Batuan gunungapi Kuarter terdiri dari litologi breksi gunungapi, aglomerat, dan tuf. Satuan ini tebalnya diperkirakan lebih dari 100 m dan umurnya diduga Pleistosen (Sudana dan Santosa, 1992). Berdasarkan Sudana dan Santosa (1992), daerah Sindanglaya dan sekitarnya termasuk ke dalam dua satuan batuan, yaitu Formasi Bojongmanik dan Formasi Honje. Formasi Honje merupakan nama formasi baru yang diusulkan Sudana dan Santosa tahun 1992 untuk endapan volkanik dengan lokasi tipe terletak di Pegunungan Honje, Cimanggu, Banten Selatan.


Daerah penelitian terletak di bagian tengah busur magmatik Sunda–Banda (Carlile dan Mitchell, 1994 dalam Angeles, dkk., 2002). Area ini merupakan daerah transisi sesar geser lateral berarah baratlaut (di Sumatera) sampai sesar kompresi berorientasi timur–barat (di Jawa) (Angeles, dkk., 2002). Menurut Sudana dan Santosa (1992), struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian berupa kelurusan dan sesar normal berarah timurlaut-baratdaya. Struktur tersebut diduga ada hubungannya dengan zona graben daerah Krakatau di Selat Sunda yang merupakan depresi kegiatan gunungapi tektonik (Zen, 1983 dalam Sudana dan Santosa, 1992).

Daftar Pustaka
Sudana, D. & Santosa, S. (1992). Geology of the Cikarang Quadrangle, Java: Pusat
       Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung, 13 pp.
Van Bemmelen , 1949.The Geology of Indonesia vol. 1 A. Government Printing Office, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. 1A, Netherlands
 


 





Read More