Senin, 05 Mei 2014

Geologi Cekungan Buli Bay (Halmahera - Maluku Utara)


Geologi Regional

Nama Cekungan : Paleogene Oceanic Fracture - Neogene Back Arc Basin.

Klasifikasi Cekungan : Cekungan sedimen dengan status belum ada penemuan.

Cekungan Buli Bay merupakan salah satu cekungan dikawasan timur Indonesia, terletak di sekitar Pulau Halmahera, pada koordinat 128.5°-130.4° BT dan 0°-1° LU 



Peta lokasi Cekungan Buli Bay.

Geometri Cekungan Buli Bay memanjang dengan arah barat - timur. Sebelah utara dan timur cekungannya dibatasi oleh Samudera Pasifik, sebelah barat dibatasi oleh tinggian Pulau Halmahera dan yang menjadi batas sebelah selatan dari cekungan ini adalah Laut Halmahera. Peta anomaly gaya berat menunjukan kontras densitas yang dapat dijadikan batas cekungan.


Peta anomaly gaya berat Cekungan Buli Bay.
Luas total Cekungan Buli Bay kurang-lebih 15.360 km2, keseluruhan cekungan ini menempati sebagian wilayah perairan di sebelah timur Pulau Halmahera. Batuan dasar cekungan ini berumur Tersier. Memiliki ketebalan sedimen antara 1 – 2 km dengan kedalaman cekungan antara 0 – 2000 m.

Tektonik dan Struktur Geologi

Halmahera terletak pada komplek tektonik dimana terdapat tiga lempeng utama yang saling berinteraksi. Lempeng-lempeng tersebut terdiri dari Lempeng Laut Filipina, Lempeng Australia, dan Lempeng Eurasia. Dibagian timurlaut, Lempeng Laut Filipina bergerak kearah barat. Kemungkinan pusat pemekaran berada di daerah Palung Ayu yang disubdusikan dibawah Halmahera bagian utara, sepanjang jalur pemekaran Palung Phillippine di bagian tenggara.

Lempeng Australia yang berada di sebelah selatan bergerak kearah timurlaut. Pergerakan ini mengarah ke Sesar Sorong yang merupakan batas sebelah selatan wilayah Halmahera. Sesar Sorong sendiri merupakan sesar geser mengarah mengiri.

Selama terjadinya proses tumbukan antara Lempeng Australia bagian utara dengan Lempeng Laut Filipina, fragmen-fragmen dari lempeng benua terbagi-bagi dan bergerak sepanjang Sesar Sorong di bagian barat. Batugamping autochtonous Miosen dari Lempeng Australia, kemungkinan diendapkan di lingkungan pemekaran cekungan, yang terbawa dan terbentuk pada pembentukan Cekungan Weda dan Cekungan Tomuri di bagian barat. Posisi tektonik dari cekungan selama proses tersebut adalah pada busur belakang dengan lokasi busur magmatik berada pada lengan bagian barat.

Lebih lanjut deformasi sesar mendatar berhubungan dengan zona active Sesar Sorong dan ini berhubungan dengan splay yang merupakan suatu sesar berpasangan. Kondisi tersebut mungkin menyebabkan pembukaan dari busur belakang seperti sebuah pull apart basin. Sejarah stratigrafi Halmahera merupakan hasil dari patahan dan pengangkatan sedimen-sedimen hasil fluktuasi genang laut. Sedimen-sedimen tersebut berpotensi sebagai batuan induk, reservoir, dan batuan penutup, yang penting dalam pembentukan dan penjebakan hidrokarbon.
Tektonik Halmahera (dimodifikasi dari Hamilton, 1979).

Stratigrafi Regional

Stratigrafi Cekungan Halmahera Timur diawali dengan pengendapan batuan dasar yang berupa batuan ophiolit, yang lebih dikenal dengan East Halmahera Ophiolite Batuan dasar ini diendapkan pada umur Jurasik Tengah. Pada umur Kapur Atas sampai Paleosen di cekungan ini diendapkan batugamping Formasi Gao. Formasi ini didominasi endapan batugamping. Batuan lain yang dijumpai pada endapan formasi ini adalah batupasir. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah lingkungan batial.

Breksi Formasi Dodoga diendapkan pada umur Paleosen. Formasi ini didominasi oleh endapan breksi. Diperkirakan endapan ini diendapakan pada lingkunagan bathyal sampai deep marine (laut dalam). Diatas breksi Formasi Dodoga diendapkan endapan batugamping Formasi Gelendongan. Formasi ini diendapakan pada umur Eosen. Batuannya didominasi oleh endapan batugamping, dengan lingkungan pengendapan nya adalah deep marin (laut dalam).

Formasi Paniti diendapkan pada umur Eosen diatas endapan batugamping Formasi Gelendongan secara tidak selaras. Formasi Paniti memiliki litologi yang terdiri dari batupasir, batulempung, dan sedikit batugamping. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal.

Kemudian pada umur Oligosene diendapkan secara tidak selaras Formasi Jawali dengan endapannya berupa konglomerat. Konglomerat Formasi Jawali diendapkan pada lingkungan transitional. Formasi Subaim diendapkan diatas Formasi Jawali pada umur Miosen. Formasi ini terdiri dari endapan batugamping massive dan perlapisan batugamping koral. Lingkungan paparan laut dangkal menjadi tempat penngendapan formasi ini. Pada umur Pliosen pada sedimentasi cekungan ini terjadi perubahan fasies dari Formasi Subaim menjadi endapan Formasi Soolat. Formasi ini terdiri dari endapan batulempung gampingan, serpih dan sedikit batugamping. Pada umur Kuarter di cekungan ini diendapkan endapan Quarternary Reff. Formasi ini terdiri dari endapan batugamping dengan lingkungan pengendapan nya adalah laut dangkal.

Stratigrafi Cekungan Halmahera Timur (dimodifikasi dari Pertamina-BEICIP, 1992).

Sistem Petroleum

Sejarah tektonik dan sedimentasi cekungan sangat penting diketahui untuk menentukan hidrokarbon potensial di suatu cekungan. Evolusi cekungan merefleksikan pergerakan dan interaksi dari lempeng. Analisis cekungan merupakan suatu proses dengan tujuan mengetahui karakteristik dari suatu cekungan sebagai tempat endapan sedimen yang mungkin terdapat unsur-unsur penting untuk terakumulasinya hidrokarbon. Unsur-unsur penting tersebut seperti keberadaan batuan induk, reservoir, batuan penutup, pola struktur untuk migrasi hidrokarbonnya, dan jebakan.

Batuan Induk

Batuan induk yang potensial di daerah Kepala Burung diharapkan terbentuk di cekungan Halmahera Selatan. Dua interval batuan induk yang menghasilkan minyak di daerah Kepala Burung Papua berupa serpih pada Formasi Ainim yang memiliki kecenderungan untuk menghasilkan gas dan sedikit minyak. Batuan berumur Jura Awal-Tengah dari Formasi Yefbie yang ekivalen dengan Formasi Kopai dari Kelompok Lower Kembelangan yang mengindikasikan kecenderungan yang lebih banyak menghasilkan minyak dibanding dengan batuan induk Permian; serpihnya memiliki TOC 6,2 % berasal dari material sapropel yang dapat menghasilkan minyak dan gas. Batuan induk Tersier yang ada pada cekungan-cekungan di daerah Kepala Burung melibatkan Grup Upper Kembelangan (Paleosen-Eosen) yang mengandung TOC sekitar 0,6-1,2% yang berasal dari material sapropel dan cenderung menghasilkan minyak.

Reservoir

Karbonat berumur Miosen (Formasi Subaim) yang ada pada Teluk Weda memiliki ketebalan hingga 700 kaki berdasarkan refleksi dari karakter seismik. Batuan karbonat ini diharapkan diendapkan pada lingkungan dangkalan dengan energi tinggi dan dapat berupa gundukan rendah karena batuan dengan tipikal sama yang ditemukan di Cekungan Salawati memiliki properti reservoir yang baik. Potensi reservoir yang lain dimiliki oleh batupasir yang berada di bagian paling atas Grup Weda (Formasi Soolat) yang pada umumnya tipis dan mengandung fragmen litik.
 

Perangkap 


Jebakan hidrokarbon di Cekungan Halmahera Selatan adalah jebakan stratigrafi, struktur dan kombinasi keduanya yang terbentuk pada fase syn-rift dan tereaktivasi pada fase tektonik tumbukan.

Batuan Penyekat / Seal 

Serpih tebal intraformasional yang ada di cekungan Bintuni diharapkan hadir juga di Cekungan Halmahera untuk menutupi reservoir Pra-Tersier. Penyekat yang diharapkan hadir untuk batuan karbonat terumbu berumur Miosen adalah serpih karbonatan dan batulempung karbonat laut dalam. Bagian Top dari batuan penyekat untuk batuan karbonat yang ada pada paparan akan disediakan oleh unit yang sama untuk unit batugamping terumbu yang lebih tua sementara untuk batugamping yang lebih muda ditutupi oleh sedimen klastik berukuran halus pada Grup Weda. Unit-unit ini ekivalen dengan Formasi Klasaman dan Klasafet yang menutupi reservoir Formasi Kais di Cekungan Salawati. Batuan penutup lain yang ada pada cekungan ini adalah batugamping terumbu yang memiliki kisaran umur Pliosen. Berdasarkan identifikasi seismik batuan penutup dari batugamping terumbu memiliki resiko kebocoran karena hanya ditutupi oleh sedimentasi tipis Plistosen.   

Pembentukan Minyak, Migrasi, dan Akumulasi

Properti batuan tiap horizon di Cekungan Buli Bay diambil dari Cekungan Salawati karena kurangnya data. Untuk model sistem petroleumproperti batuannya diambil dari sumur TBF 1-X di Cekungan Salawati. Minyak di berada dalam kondisi mlai matang (ekivalen dengan RO 0,5 - 0,7%) pada 23,34 jtl (Awal Miosen) dan mencapai top Formasi Roabiba pada 21,02 jtl.. Waktu pembentukan menengah (RO 0,7-1,0%) tercapai pada 19,54 jtl (Awal Miosen) belum mencapai Formasi Roabiba hingga saat ini.


DAFTAR PUSTAKA 

Darman, Herman dan Sidi, Hasan, F., 2000, An Outline of The Geology of Indonesia, Ikatan Ahli Geology Indonesia, Jakarta, hal 131-140
Hall, Robert, 1999, History of Collision in the Halmahera Region, Indonesia,  Proceeding Indonesia Petroleum Association, 27th Annual Convention Proceedings
Hamilton, W., 1979. Tectonics of the Indonesian Region: United States Geological Survey Professional Paper 1078.
Kartaadipura, Witoelar L., Ahmad, Zainal., dan Reymond, Andre., 1982, Deep-Sea Basin in Indonesia, Proceeding Indonesia Petroleum Association, 11th Annual Convention Proceedings, hal 53 - 81
LEMIGAS, 2006, Kuantifikasi Sumberdaya Hidrokarbon, Volume II, Bab II Geologi Regional Indonesia Timur, LEMIGAS, Jakarta, hal 19-20
Letouzey, Jean, Guignard, Jean, Clarens de Philippe, 1983, Structure of The North Banda-Molucca Area From Multichannel Seismic Reflection Data, Proceeding Indonesia Petroleum Association, 12th Annual Convention Proceedings, hal. 143 - 156
PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification and Exploration Play-types in Indonesia, Volume II, Halmahera Basin, PERTAMINA, Jakarta, hal 229 – 230







Read More

Jumat, 02 Mei 2014

Geologi Cekungan Kau Bay (Halmahera - Maluku Utara)

Geologi Regional Cekungan Kau Bay (Halmahera , Malaku Utara)


Nama cekungan polyhistory               : Paleogene Oceanic Fracture - Neogene  Back Arc Basin

Klasifikasi cekungan                           : Cekungan Sedimen Dengan Status Belum Ada Penemuan Hidrokarbon


Cekungan Kau Bay merupakan salah satu cekungan dikawasan timur Indonesia. Lokasinya berada disebelah utara Pulau Halmahera, pada koordinat 128° - 129° BT dan 2.5° - 1° LU.


Lokasi Cekungan Kau Bay
Cekungan ini menempati wilayah perairan dan sebagian kecil menempati wilayah daratan di utara Pulau Halmahera. Luas total cekungannya sekitar 7.621 km2, dengan luas daratan 975 km2 dan luas lautan 6.646 km2. Batuan dasar cekungan berumur Jurasik, ketebalan sedimennya 1 – 3 km dan kedalaman cekungan 0 – 3.000 m
Peta Anomali Gaya Berat Cekungan Kau Bay
Geometri cekungan berbentuk ireguler memanjang dengan arah timurlaut - baratdaya. Sebelah utara cekungan dibatasi oleh tinggian Morotai, disebelah timur dibatasi oleh Samudera Pasifik, sedangkan sebelah barat dan selatan cekungan dibatasi oleh tinggian Pulau Halmahera. Peta anomali gaya berat menunjukan kontras densitas yang dapat dijadikan batas cekungan 

Tektonik Regional


Pulau Halmahera terletak pada komplek tektonik dimana terdapat tiga lempeng utama yang saling berinteraksi. Lempeng-lempeng tersebut terdiri dari Lempeng Laut Filipina, Lempeng Australia, dan Lempeng Eurasia . Dibagian timur laut, Lempeng Laut Filipina bergerak kearah barat. Kemungkinan pusat pemekaran berada di daerah Palung Ayu yang disubdusikan dibawah Halmahera bagian utara, sepanjang jalur pemekaran Palung Filipina di bagian tenggara.

Peta Tektonik Pulau Halmahera

Lempeng Australia yang berada di sebelah selatan bergerak kearah timurlaut. Pergerakan ini mengarah ke Sesar Sorong yang merupakan batas sebelah selatan wilayah Halmahera. Sesar Sorong sendiri merupakan sesar geser mengarah mengiri.
Selama terjadinya proses tumbukan antara Lempeng Australia bagian utara dengan Lempeng Laut Filipina, fragmen-fragmen dari lempeng benua terbagi-bagi dan bergerak sepanjang Sesar Sorong di bagian barat. Batugamping autochtonous Miosen dari Lempeng Australia, kemungkinan diendapkan di lingkungan pemekaran cekungan, yang terbawa dan terbentuk pada pembentukan Cekungan Weda dan Cekungan Tomori di bagian barat. Posisi tektonik dari cekungan selama proses tersebut adalah pada busur belakang dengan lokasi busur magmatik berada pada lengan bagian barat.

Lebih lanjut deformasi sesar mendatar berhubungan dengan zona aktif Sesar Sorong dan ini berhubungan dengan splay yang merupakan suatu sesar berpasangan. Kondisi tersebut mungkin menyebabkan pembukaan dari busur belakang seperti sebuah pull apart basin. Sejarah stratigrafi Halmahera merupakan hasil dari patahan dan pengangkatan sedimen-sedimen hasil fluktuasi genang laut. Sedimen-sedimen tersebut berpotensi sebagai batuan induk, reservoir, dan batuan penutup, yang penting dalam pembentukan dan penjebakan hidrokarbon.

Sedimentasi dan Stratigrafi

Stratigrafi Cekungan Kau Bay diendapkan diatas batuan dasar berumur Jurasik. Litologi batuan dasarnya terdiri dari ofiolit. Sedimentasi cekungan ini diawali dengan pengendapan secara tidak selaras batugamping Formasi Gau pada umur Kapur; batuannya terdiri atas endapan batupasir dan batugamping. Diatas batugamping Formasi Gau diendapkan breksi Formasi Dodogo berumur Paleosen.



Peta Geologi Pulau Halmahera
Pada umur Eosen Awal diatas Formasi Dodogo diendapkan Formasi Paniti. Formasi Paniti ini memiliki endapan berupa batupasir konglomeratan, batulanau, batulempung, batugamping, dan dijumpai pula endapan batubara. Diperkirakan formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
Pada umur Eosen Tengah di Cekungan Kau Bay diendapkan napal Formasi Onof. Kemudian pada Awal Miosen diendapkan secara tidak selaras Formasi Jawali dengan endapannya berupa konglomerat; konglomerat Formasi Jawali berasal dari daerah fluvial. Formasi Subaim diendapkan diatas Formasi Jawali pada umur Miosen Awal – Miosen Tengah. Formasi ini terdiri dari endapan batugamping masif dan perlapisan batugamping koral. Lingkungan paparan laut dangkal menjadi tempat pengendapan formasi ini.
Diatas Formasi Subaim diendapkan Formasi Soolat pada umur Pliosen. Formasi ini terdiri dari endapan batulempung gampingan dan perlapisan batugamping yang pada tempat-tempat tertentu dijumpai berlapis dengan batupasir dan konglomerat.


Stratigrafi Cekungan Kau bay

Batugamping Formasi Wasile diendapkan pada umur Pliosen. Formasi ini diendapkan selaras diatas Formasi Soolat, dengan batuannya berupa batupasir turbidit dan terdapat pula konglomerat yang menggambarkan bagian dari suatu prograding kipas bawah laut. Pada umur Pleistosen pada Cekungan Halmahera ini diendapkan batugamping terumbu, dan kemudian diendapkan endapan alluvial pada umur Holosen.
Sistem Petroleum
Dalam mempelajari suatu cekungan sangatlah penting untuk diketahui sistem petroleum dari cekungan tersebut. Terbentuknya hidrokarbon di suatu cekungan dikontrol oleh beberapa faktor, tergantung posisinya terhadap batas lempeng. Dengan menggunakan analog dari Cekungan Salawati berikut adalah sistem petroleum untuk Cekungan Kau Bay. 

Batuan Induk 
Batuan induk yang potensial di daerah Kepala Burung diharapkan terbentuk di cekungan Halmahera Selatan. Dua interval batuan induk yang menghasilkan minyak di daerah Kepala Burung Papua berupa serpih pada Formasi Ainim yang memiliki kecenderungan untuk menghasilkan gas dan sedikit minyak. Batuan berumur Jura Awal-Tengah dari Formasi Yefbie yang ekivalen dengan Formasi Kopai dari Kelompok Lower Kembelangan yang mengindikasikan kecenderungan yang lebih banyak menghasilkan minyak dibanding dengan batuan induk Permian; serpihnya memiliki TOC 6,2 % berasal dari material sapropel yang dapat menghasilkan minyak dan gas. Batuan induk Tersier yang ada pada cekungan-cekungan di daerah Kepala Burung melibatkan Grup Upper Kembelangan (Paleosen-Eosen) yang mengandung TOC sekitar 0.6-1.2% yang berasal dari material sapropel dan cenderung menghasilkan minyak. 

Reservoir
Endapan-endapan Formasi Pre-Oha (Paleogen), Formasi Superak (Miosen), Formasi Dufuk (Miosen Akhir), Formasi Subaim (Miosen), dan Formasi Wasille (Pliosen). Batuan reservoirnya terdiri dari batupasir dan konglomerat - batupasir alas serta batugamping.

 Batuan Penyekat
 Serpih yang berasal dari Formasi Soolat, Formasi  Dufuk, Formasi  Akelamo ; intraformasi. 

Jebakan Petroleum
Jebakan hidrokarbon di Cekungan Halmahera Selatan adalah jebakan stratigrafi, struktur dan kombinasi keduanya yang terbentuk pada fase syn-rift dan tereaktivasi pada fase tektonik collision. 




DAFTAR PUSTAKA

Darman, Herman dan Sidi, Hasan, F., 2000, An Outline of The Geology of Indonesia, Ikatan Ahli Geology Indonesia, Jakarta, hal 131-140.
Hall, Robert, 1999, History of Collision in the Halmahera Region, Indonesia,  Proceeding Indonesia Petroleum Association, 27th Annual Convention Proceedings.
Hamilton, W., 1979. Tectonics of the Indonesian Region: United States Geological Survey Professional Paper 1078.
Kartaadipura, Witoelar L., Ahmad, Zainal., dan Reymond, Andre., 1982, Deep-Sea Basin in Indonesia, Proceeding Indonesia Petroleum Association, 11th Annual Convention Proceedings, hal 53 – 81.
LEMIGAS, 2006, Kuantifikasi Sumberdaya Hidrokarbon, Volume II, Bab II Geologi Regional Indonesia Timur, LEMIGAS, Jakarta, hal 19-20.
Letouzey, Jean, Guignard, Jean, Clarens de Philippe, 1983, Structure of The North Banda-Molucca Area From Multichannel Seismic Reflection Data, Proceeding Indonesia Petroleum Association, 12th Annual Convention Proceedings, hal. 143 - 156.
PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification and Exploration Play-types in Indonesia, Volume II, Halmahera Basin, PERTAMINA, Jakarta, hal 229 – 230.

Read More

Sabtu, 26 April 2014

Struktur batuan sedimen di Core Logging (Inti Bor)

Struktur batuan sedimen di Core Logging (Inti Bor)

Selain di singkapan struktru sedimen juga dapat dilihat melalau hasil pemboran (core logging) . hasil pemboran  ini sangat penting karena merupakan berururutan sehingga dpaat memudahkan kita untuk menentukan suatu fasies pengendapan batuan. Berikut ini merupakan berbagai macam struktur sedimen di batuan core logging.

Shale Topped Sands (STS)

Nama struktur untuk mendeskripsikan kombinasi beberapa endapan pasir/shale. STS biasanya endapan pasirnya tipis sampai menebal lapisanya. Diatas endapan pasir , langsung berubah menjadi endapan shale . Shale  biasanya kurang dari sepertiga tebal endapan pasir dan jarang tebalanya melebihi komponen pasir. Pasir sangat halus – pasir halus bisanya mendominasi endapan STS fasies ini. Fasies ini umumnya dapat ditemukan di berbagai stratigrafi. Pasir kasar bisanya jarang dan mengindikasikan dekat dengan sumber endapan. Biasanya , lebih kasar butiran pasir umumnya lapisannya tebal. Walaupun begitu perlapisan pasir halus juga dapat ditemui dengan ketebalan yang cukup tebal.

Amalgamated Sands (AMS)



Amalgamated sand didefinisikan sebagai komponen pasir yang berbeda. Biasanya untuk melihat struktur ini butiran pasir yang kasar harus berada diatas butiran pasir halus. Inspeksi yang detil di core atau singkapan dibutuhkan untuk melihat struktur amalgamasi. Pasir bercirikan dengan ukuran medium dan kasar dan kadang – kadang berukuran sangat kasar. Endapan Breksi muncul diantara Amalgamated Sand Fasies. Biasanya 5 – 10 lapisan bergabung membentuk  amalgated sand yang dapat mencapai ketebalan 5 meter. Dasar fasies dari amalgamted sand biasanya berupa batas erosi.

Intraformational Breccia (IFB)


Intraformational Breccia biasnya berupa endapan kasar sampai sangat kasar dengan  lebih besar 10% komponenya berupa shale atau pecahan rijang. Pecahan shale dapat mencapai ketebalan 10 cm dan di dalam core biasanya muncul di antara interbeding pasir dan shale. Pada singkapan 10 cm lebar pecahan shale dapat mencapai beberapa meter dalam panjang.
Pecahan shale berasal dari pecahan yang dekat, shale yang terlitifikasi  biasanya membentuk gerusan dan terdeposisi.  Di alam dhale dihasilkan dari kompaksi dan penegeringan selama proses burial.

CCC


CCC adalah istilah yang berasal dari seri nedapan Bouma. Seri C ini berulag ulang sehingga memmentuk series CCC. Fasies ini membentuk struktur Cross bed dan laminasi pasir sangat halus dan lanau. Fasies ini sangat penting sebagai indikato dari batas channel margin dari suatu fasies. Walaupun dapat dijadikan indikasi suatu fasies . Struktur ini tidak bagus dijadikan suatu marker(penanda) suatu lapisan karena  biasanya tidak menerus.

Ripple Bedded Silts (RBS)


Ripple Bedded Silts adalah suatu unit lapisan tebal dari struktur menghalus keatas (Fining Upwards) dari endapan lanau dan lempung . dasar dari lanau biasanya berbentuk tajam dan batas atas berubah menjadi lempung. Biasanya Lanau berstruktur ripple laminated.

Laminated Shale (LSH)


Laminated shale adalah struktur sedimen yang berupa batuan sepih berbentuk laminasi. Fasies dari laminated shale ini dapat mencapai beberapa meter. Laminated Shale fasies ini diendapkan jauh dari sumber endapan dibandingkan endapan STS (shale topped sands) dan umumnya fasies ini berangsur satu dengan lainnya.

Massive Shale (MSH)

Massive shale fasies ini merupakan endapan e=shale yang tidak memiliki struktur perlapisan. Shale ini biasanya abu – abu gelap hingga hitam dan dapat mecapai ketebalan beberapa meter. Biasanya fasies ini merupakan gradasi dengan fasies LSH atau RBS.

Flame Structures


Shale berada diantara  tumpukan pasir.

Sand Volcanoes


Pasir berada diantara endapan shale.

Load Casts



Stuktur sedimen akibat pembebanan endapan diatasnya dan berupa tidak beraturan.
Read More

Minggu, 06 April 2014

Stratigrafi Cekungan Ombilin


Kolom stratigrafi cekungan Ombilin kali pertama diusulkan oleh Musper (1924), Musper mendefinisikan menjadi tiga formasi : 

(1). Grup Napal; Miosen Bawah awal sampai Miosen Atas akhir (Mergel Afdeeling). 

(2). Grup Batupasir Kuarsa; Oligosen awal sampai akhir (Kwarts Zandsteen).

(3).  Grup Breksi dan Serpih; Paleosen tengah sampai Eosen tengah (Breccie en Mergelschalie Afdeeling).


            Klasifikasi Musper hanya digunakan sampai 1975 ketika Silitonga dan Kastowo mengkompilasi peta geologi lembar Solok skala 1:250.000. 

Pada 1975 Silitonga dan Kastowo menambah dan merubah nama dari klasifikasi Musper. Grup Napal dirubah menjadi Formasi Ombilin Atas tetapi masih mengacu pada umur dan deskripsi litologi yang sama dengan Grup Napal klasifikasi Musper.

Perubahan yang besar dalam penamaan yang diusulkan oleh Silitonga dan Kastowo terjadi pada definisi ulang dari Grup Batupasir Kuarsa. Grup ini berubah nama menjadi Formasi Ombilin Bawah dan dengan kisaran umur yang bertambah (Miosen awal sampai Oligosen akhir). Deskripsi litologi sedikit berubah dengan memasukkan batubara dan sedimen berbutir halus. 

Silitonga dan Kastowo juga merubah nama Grup Breksi dan Serpih menjadi Formasi Brani dan Sangkarewang, perbandingan unit litostratigrafi ini dapat dilihat pada Gambar di bawah

Kolom stratigrafi Cekungan Omilin dalam Silitonga dan Kastowo (1975) 

Kolom stratigrafi Silitonga dan Kastowo (1975) adalah sebagai berikut :

(1).    Formasi Ombilin Atas; Miosen Bawah awal sampai Miosen Atas akhir.
(2).    Formasi Ombilin Bawah; Oligosen awal sampai akhir.
(3).    Formasi Sangkarewang; Paleosen tengah sampai akhir.
(4).    Formasi Brani; Paleosen tengah sampai akhir.

Pada tahun 1981, Koesoemadinata dan Matasak mendefinisi ulang kolom stratigrafi yang digunakan oleh Silitonga dan Kastowo untuk menyesuaikan dengan penamaan stratigrafi internasional. Koesoemadinata dan Matasak memperkenalkan nama formasi baru pada anggota klasifikasinya. Klasifikasi tersebut adalah:

(1).    Formasi Ombilin; Miosen Bawah awal sampai Miosen Atas akhir.
(2).    Formasi Sawahtambang (anggota Rasau dan Poro); Oligosen awal sampai akhir.
(3).    Formasi Sawahlunto; Oligosen tengah sampai akhir.
(4).    Formasi Sangkarewang; Paleosen tengah sampai akhir.
(5).    Formasi Brani (anggota Kulampi dan Selo); Paleosen tengah sampai akhir.

Penamaan ini masih digunakan dalam semua publikasi mengenai cekungan Ombilin yang ada sampai saat ini. Perbedaan utama antara Kastowo dan Silitonga (1975) dan Koesoemadinata dan Matasak (1981) adalah pada definisi ulang dalam Formasi Ombilin Bawah. Koesoemadinata dan Matasak (1981) membagi Formasi Ombilin Bawah kedalam batubara yang berumur Eosen, batupasir dan serpih Formasi sawahlunto, dan batupasir berlapis silang-siur dan beramalgamasi Formasi Sawahtambang.

Deskripsi litologi dari Formasi Brani dan Sangkarewang digambarkan oleh Koesoemadinata dan Matasak (1981) lebih rinci dibandingkan oleh Kastowo dan Silitonga (1975), tetapi intinya tetap tidak berubah. Perbedaan yang paling besar dari penulis sebelumnya terdapat pada pengenalan Anggota Kulampi dan Selo. Hal ini adalah tipe batuan yang berbeda yang dikenali pada sekitar batas dari cekungan. 

Read More

Selasa, 25 Maret 2014

Potensi Kebencanaan Di Malang Raya

Bencana merupakan hasil interaksi alam dengan manusia. Ketika peristiwa geologi tidak mempengaruhi dan merugikan manusia maka hal tersebut dengan kegiatan alam biasa. Sedangkan peristiwa geologi yang mengakibatkan kerugian bagi manusia disebut bencana alam. Peristiwa geologi ini tidak dapat kita cegah atau tunda tapi hanya dapat kita hindari dan antisipasi sebelum terjadinya peristiwa geologi tersebut. Ilmu ini dinamakan dengan mitigasi bencana. Mitigasi bencana yang baik akan menghasilkan korban dan kerugian yang kecil. Sehingga diperlukan pengetahuan dan pemahaman mitigasi bencana yang baik di masyarakat.
Malang Raya yang terletak di Provinsi Jawa timur selain memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa juga menyimpan potensi bencana geologi. Berbagai potensi bencana mengancam di daerah Malang Raya.
Secara umum geologi daerah malang raya dikelilingi gunung berapi di timur dan baratnya. sedangkan di bagian selatan terdiri dari perbukitan berumur tersier dan laut indonesia selatan. Berbagai kondisi ini mempunyai potensi kebencanaan antara lain :

1. Erupsi Gunung Berapi


Gunung Bromo pada Senin 29 November 2010, diabadikan dari Cemorolawang, Probolinggo. Nampak kolom asap letusan dengan hujan debu mengarah ke Gunung Batok disebelahnya. Sumber : Kompas, 2010 (sumber)

Dikelilingi gunung berapi malang raya rawan terkena erupsi gunung berapi. Di bagian timur terdapat 2 gunung berapi yang aktif yaitu Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Sedangkan di Bagian Barat terdapat Gunung Kawi, Gunung Arjuna, dan Gunung Welirang untungnya ke 3 gunung ini tidak terlalu aktif letusan terakhir gunung arjuna-welirang terjadi di tahun 1952 sampai saat ini gunung tersebut belum menunjukkan aktifitas yang berbahaya. Malah Gunung yang rawan sekali yaitu Gunung Kelud yang terletak di Kabupaten Kediri. Berdasarkan sejarah Gunung Kelud ini yang paling sering terjadi erupsi dan menghancurkan rumah dan bangunan penduduk. Selain dampak letusan langsung daerah Malang Raya juga rawan terhadap banjir lahar yang terjadi setelah letusan gunung api. Banjir lahar ini membawa material hasil erupsi dan melewati sungai yang ada di malang terutama pasir dan lumpur yang bercampur dengan air hujan. Daerah di bagian timur yang perlu diwaspadai antara lain Tumpang , Poncokusumo, Wajak di bagian timur. Sedangkan di bagian barat kecamatan Ngantang, Pujon, Kasembon, dan Kota Batu.

Foto Puncak Gunung Semeru diambil di Kalimati (dok. pribadi)





Foto aliran lahar Gunung Kelud (Sumber)

2. Potensi Tanah Longsor

Daerah Malang Raya yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan merupakan daerah yang rawan terjadi pergerakan tanah. Pada daerah Gunung Berapi pergerakan tanah longsor diakibatkan oleh material endapan gunung berapi yang belum terkonsolidasi dengan baik dan telah terjadi pelapukan yang intensif sehingga memudahkan terjadi longsor. Selain berdasarkan litologi pergerakan tanah ini juga diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi dan pergerakan struktur geologi berupa sesar dan lipatan. Pada daerah pegunungan penebangan dan perubahan fungsi hutan merupakan salah satu penyebab utama selain kondisi geologi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tanah jenuh dengan air sehingga memudahkan terjadinya pergerakan tanah/longsor. 


Longsor yang terjadi di Kecamatan Pujon , Kabupaten Malang (Sumber)

Daerah yang rawan terjadi pergerakan tanah antara lain kecamatan Pujon, Ngantang, Selorejo, Tumpang, Wajak, Puncokusumo, Pakis, Wonosaari, Sumbermanjing Wetan , Donomulyo, Gedangan, Sumber Pucung, Ampelgading, Tirtoyudo. Daerah ini perlu diwaspadai saat terjadi musim penghujan. Selain potensi banjir bandang juga berupa pergerakan tanah.

3. Banjir Bandang

Walaupun terletak di dataran tinggi wilayah malang termasuk rawan terjadi banjir bandang. Banjir bandang ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan kurangnya daerah serapan di puncak gunung/bukit. Sehingga air hujan melaju di permukaan membuat sungai meluap. Banjir bandang ini diduga akibatnya kurangnya hutan sebagai daerah resapan air. Oleh karena itu perlu ada daerah yang diperuntukkan sebagi hutan lindung, agar daerah bawah / pemukiman aman dari terjangan banjir bandang. Salah satu daerah yang pernah terkena dan rawan terjadinya banjir bandang adalah desa sitiarjo , kecamatan sumbermanjing wetan, kabupaten malang.

Bangunan Gereja di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang yang terkena dampak terjangan banjir bandang (Sumber)

Banjir ini terjadi di tahun 2013. Banjir yang disebabkan meluapnya air sungai Penguluran akibat hujan deras ini merendam 645 rumah, puluhan diantaranya rusak dan satu orang meninggal dunia terseret arus air. 800 keluarga menjadi korban derasnya air, ratusan hektar sawah padi rusak dan ratusan kebun porak poranda serta ratusan hewan ternak lenyap.

Sungai Penguluran di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang (sumber)

Selain daerah malang selatan banjir bandang berpotensi terjadi di daerah pegunungan seperti Kecamatan Pujon , Ngantang, Kota Batu, Poncokusumo, dan Tumpang.
Selain Banjir bandang daerah malang juga terjadi banjir terumata daerah yang dilewati DAS Brantas. Kota Malang juga tidak lepas dari persoalan banjir. Walaupun terletak di ketinggian kota malang juga terkena banjir. Banjir ini disebabkan oleh drainese yang buntu dan tidak dirawat dengan baik, sehingga mengakibatkan terjadi genangan air di jalan dan pemukiman. berikut ini daerah yang sering terjadinya genangan banjir di kota malang :
Kasi Drainase DPU PPB Kota Malang, Darsono, mengatakan, saat ini, ada lima titik wilayah di Kota Malang yang rawan banjir. Antara lain, di Jalan Letjend Sutoyo, Jalan S Parman, dan Ciliwung. Jumlah itu sudah berkurang jika dibandingkan sebelumnya. Pada 2012 ada 22 titik rawan banjir, lalu berkurang tinggal 12 titik. Pada akhir 2013 lalu sudah berkurang lagi tinggal lima titik," katanya. Ia menjelaskan, wilayah rawan banjir seperti di Jalan Ijen dan Jalan Bondowoso, sudah dapat tanggulangi dengan pembangunan drainase. "Tahun ini kami akan melakukan pembangunan drainase lagi untuk mengatasi banjir," ujarnya.Perlu diketahui, Pemkot Malang menganggarkan biaya pengerjaan drainase Rp 48 miliar dalam APBD 2014.Pembangunan drainase itu diharapkan dapat mengatasi banjir di wilayah Kota Malang. Ada 68 titik drainase yang akan diperbaiki pada 2014. Antara lain, di Jalan Sulawesi, Jalan Halmahera, Jalan Suropati, dan Jalan Supriadi.

4. Gempa Bumi
Indonesia yang terletak pada 3 lempeng  tektonik yang aktif tidak dapat dihindari akan mengakibatkan pergerakan lempeng. Hasil pergerakan lempeng ini dapat berupa pelepasan energi salah satunya yaitu gempa bumi. Malang raya berbatasan dengan laut indonesia bagian selatan yang berada pada batas lempeng IndoAustralia dan Lempeng Eurasia. Hasil dari tumbukan ini berupa palung subduksi di selatan jawa yang memanjang dari ujungkulon (Jawa Barat) hingga ujung timur nusa tenggara. Hasil subduksi ini mengakibatkan sepanjang daerah ini rawan terjadi gempa bumi akibat subduksi lempeng tersebut. Selain gempa tektonik Malang Raya juga berpotensi terkena gempa Vulkanik akibat aktifitas gunung berapi di sekitarnya. Gempa Vulkanik ini biasanya tidak terlalu bahaya bila dibandingkan gempa tektonik. Karena biasanya diikuti dengan aktifitas magma sehingga dapat diprediksi bila dibandingkan gempa tektonik yang terjadi tiba - tiba.
Daerah yang berpotensi terkena dampak dari gempa ini antara lain sepanjang bagian selatan  malang raya, Daerah dengan kondisi geologi permukaan berupa endapan kuarter gunung api, endapan aluvial dan pantai dan batuan tersier yang telah mengalami pelapukan secara intensif. Daerah ini merupakan daerah yang rawan terkena dampak dari gempa bumi selain karena dekat dengan sumber gempa juga pondasi yang lunak mengakibatkan intensitas gempa akan meningkat. Selain itu adanya sesar aktif di sekitar daerah tersebut juga dapat menimbulkan dampak yang lebih besar.

Masjid Baiturohman yang ambruk akibat gempa bumi di RT2 RW 10 Dusun/Desa Bumirejo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang yang ambruk bagian atapnya akibat gempa bumi dengan kekuatan 5,8 Skala Richter, Senin (8/7/2013)

Berikut ini 2 gempa terakhir yang terjadi di dekat Malang ;
1. Gempa berkekuatan 5,4 Skala Richter (SR) terjadi di Malang, Jawa Timur Minggu (9/3/2014). gempa terjadi pada pukul 20.42 WIB dengan kedalaman 10 kilometer . Posisi gempa berada di 115 km tenggara Kabupaten Malang.

2. Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) terjadi di Malang, Jawa Timur Senin (8/7/2013). gempa terjadi pada pukul 9.13 WIB dengan kedalaman 10 kilometer . Posisi gempa berada di  tenggara Kabupaten Malang.
Lokasi terjadi gempa bumi di Malang 9 Maret 2014 pukul 20:38;28 WIB.(Sumber)

Selain itu catatan gempa yang pernah terjadi di malang yang tercatat antara lain :

Sekitar tahun 1958, lindu hebat hingga skala intensitas VII-VIII MMI mengguncang Malang. Data mencatat, ada 8 korban jiwa kala itu.Selanjutnya, pada 1967 gempa kembali mengobrak-abrik kota apel tersebut. Bahkan kejadian ini kali, terekam hingga skala intensitas VII-IX MMI. Menurut data, 14 orang tewas, 72 luka-luka dan 1.539 rumah rusak berat. Kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Dampit 1.539 rumah rusak, 14 orang tewas, 72 orang luka-luka. Kedua di wilayah Kecamatan Gondanglegi 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, dan 119 bangunan roboh, 402 retak serta 5 masjid rusak

Daerah malang raya yang rawan terjadinya bencana gempa bumi meliputi  Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Turen, Bantur, Tirtoyudo , Sumberpucung ,Dampit, Gondanglegi hingga Donomulyo. Selain daerah yang berbukit daerah malang selatan juga terdapat sesar yang memotong batuan tersier. sehingga menjadi rawan gempa bumi.

5. Tsunami

Tsunami adalah salah satu bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa. Tsunami berasal dari kata jepang yang berarti tsu : pelabuhan sedangkan nami berarti : gelombang. Sehingga dapat diartikan sebagai gelombang yang menerjang pelabuhan. Tsunami dapat disebabkan berbagai hal antara lain aktivitas gunung api bawah laut, longsoran tanah di bawah laut , dan gempa tektonik di laut. Salah satu Tsunami yang terbesar di dunia yaitu gempa tsunami Aceh 2004 dan gempa tsunami Sendai Jepang 2011. 

Malang sendiri di bagian selatan berbatasan dengan laut indonesia dan memiliki zona subduksi yang dapat berpotensi mengakibatkan terjadinya tsunami. Secara sejarah bencana geologi daerah pulau jawa pernah dilanda Tsunami antara lain :

  1. Banyuwangi (Jawa Timur) 3/6/1994 Gempa terjadi di Banyuwangi dengan kekuatan gempa mencapai 7 skala Richter dan skala intensitas gempa VIII MMI. Akibat gempa menimbulkan bencana di Rajegwesi, Gerangan, Lampon, Pancer, Pulau Sempu, Grajagan, Pulau Merah, Teluk Hijau, Sukamade, Watu Ulo, Teluk Sipelori dan Teluk Tambakan. Efek tsunami mencapai pantai Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek & Pacitan
  2. Pangandaran (Jawa Barat) Gempa dan Tsunami 17 Juli 2006 gempa bumi yang terjadi di kawasan pantai Pangandaran tersebut terjadi pada pukul 15.19 berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR). Pusat gempa tepatnya berada di sebelah selatan Pameungpeuk dengan jarak sekitar 150 km, dan merupakan zona pertemuan dua lempeng benua Indo-Australia dan Eurasia pada kedalaman kurang dari 30 km Gempa bumi juga menyebabkan terjadinya gelombang tsunami yang menerjang pantai selatan Jawa Barat, seperti Cilauteureun, Kab. Garut, Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Pangandaran, Kabupaten Ciamis, pantai selatan Cianjur dan Sukabumi. Bahkan, gelombang tsunami juga menerjang Pantai Cilacap dan Kebumen, Jawa Tengah, serta pantai selatan Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gempa yang diiringi tsunami ini menelan korban ratusan jiwa, ratusan lainnya mengalami cedera, dan puluhan jiwa dinyatakan hilang.  Ratusan rumah mulai dari sepanjang Pantai Krapyak, Kalipucang, Parigi, Cipatujah, dan Kabupaten Tasikmalaya hancur. Demikian pula, hotel-hotel di sepanjang objek wisata pantai barat Pangandaran. 
Dampak Tsunami Pangandaran 2006 (Sumber)

2 contoh gempa dan tsunami ini yang terjadi dan sempat tercatat oleh sejarah. Selain dari itu potensi bencana Stunami di jawa belum pernah tercatatt secara baik  Malang yang terletak di dekat zona gempa juga rawan terjadi Tsunami baik yang berasal dari aktifitas terdekat atau dari daerah lain. Seperti halnya gempa Aceh 2004 yang sampai berdampak di India , Thailand, Sri Lanka, Maladewa dan sebagian Afrika. Oleh karena itu walau bukan di dekat pusat epicentrum gempa tsunami dapat menjalar hingga ratusan kilometer. Daerah yang rawan terutama daerah yang memiliki teluk di bagian pantainya. Teluk ini dapat menambah besar kerusakan akibat energi gelombang terpusat di teluk - teluk tersebut.

 Daerah Malang yang rawan terjadi Tsunami antara lain Pantai Sipelot (Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo), Sendang Biru (Desa Sitiarjo ,Kecamatan Sumbermanjing Wetan), Pantai Pasir Tambakrejo (Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing wetan), Teluk Tambakan (Desa Tambaksari , Kecamatan Sumbermanjing Wetan), Teluk Lenggoksono (Desa Purwodadi , Kecamatan Tirtoyudo), Desa Tegalrejo (Kecamatan Ampelgading),   Teluk Wonorogo (Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan), Teluk Kondang Merak ( Desa Sumberbening , Kecamatan Bantur), Pantai Balekambang, Pantai Ngliyep (Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo).

Pantai Sipelot yang diapit 2 bukit menjadikan daerah ini rawan terkena dampak Tsunami (dok. pribadi). 

 Dari berbagai daerah yang berpontensi sebagai daerah rawan tsunami sebaiknya pemerintah daerah mensosialisasikan tentang bahaya dan potensi tsunami. Selain itu dibutuhkan early warning system bagi penduduk di sekitar tempat tersebut karena sebagian besar daerah tersebut merupakan tempat wisata si malang selatan. Pengetahuan dan antisipasi yang baik dapat meminimalkan jumlah korban dan kerugian akibat bencana.






Read More