Senin, 25 Agustus 2014

Karst Sangkulirang - Mangkalihat Kalimantan Timur Diincar Industri Semen

Karst Sangluriang Diincar Industri Semen

Kawasan Hutan Karst Mangkalihat 

Investor semen mulai melirik Kalimantan Timur sebagai penghasil bahan baku semen. Kawasan Karst Mangkalihat – sangkulirang yang sedang diajukan ke UNESCO sebagai warisan dunia bisa menjadi target bila tidak dikawal.



Program Manager The Nature Conservacy (TNC) Niel Makinuddin mengatakan awal tahun ini 13 investor semen menunggu masuk kaltim. Kawasan Karst ini tengah diperjuangkan agar dapat menjadi salah satu warisan dunia karena memikiki kekayaan yang luar biasa berupa kekayaan arkeologis dan gua – guanya.  Gubernur kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengeluarkan Peraturan Gubernur no 67 tahun 2012 tentang Perlindungan Kawasan Karst. 

Pemprov Kaltim pun sudah mengajukan pada Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral agar segere menetapkan bentang alam Karst yang berada di dua kabupaten berau dan kutai timur  sebagai kawasan lindung. Aturan ini untuk melindungi Sangkulirang dan mangkalihat dan harus dikawal, daerah ini jangan hanya dilihat sebagai batu gamping tetepi ini merupakan kekayaan alam yang memberi kehidupan masyarakat dan paling cocok sebagai kawasan wisata ujar Niel.

Kawasan Karst ini menjadi sumber mata air dan pelindung kampung percontohan program penguranga emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan. Keindahan Karst dan bentang alam kampung hulu Sungai Lesan , Kecamatan Kelay, Berau ini perlahan dikenal turis asing.

Foro Perbukitan Karst di kawasan Mangkalihat

Kepala Kampung Merabu Franly A Oley berharap kawasan Karst Mangkalihat – Sangkulirang benar – benar dilindungi. April lalu Menteri Kehutanan mengeluarkan SK Hutan Desa . Dasar hukum perlindungan ini cukup kuat. Namun aturan ini juga dibarengi kominmen kuat semua pihak.

Sumber Harian Kompas 24 agustus 2014

Read More

Gencarnya Investasi Pabrik Semen di Indonesia (Konflik Sumber Daya - 2)

Ilustrasi Penambangan Karst di Aceh

Di tengah pertumbuhan ekonomi negara indonesia yang mencapai 6% pertahun, kebutuhan akan bahan baku bangunan terutama semen semakin meningkat. Diperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5-6% pertahun, kebutuhan akan semen diperkirakan meningkat sebesar 10 - 12 % pertahun. Hal ini mengakibatkan banyak pengusaha melirik indonesia sebagai salah satu tujuan investasi pabrik semen.

Hal ini diakibatkan karena pembangunan infrastuktur di indonesia semakin berkembang. Berbagai proyek seperti Jalan Tol Trans Jawa, Bandara , Pelabuhan, pembangkit listrik dan pembangunan smelter mineral menjadi prioritas utama pemerintah melalui program MP3EI (Masterplan Percepatan, Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia). 


Berbagai perusahaan mencoba mencukupi kebutuhan bahan baku tersebut dengan mendirikan pabrik pengolahan semen. Perusahaan ini bukan hanya dalam negeri melainkan juga dari luar negeri. Perusahaan terbesar China Anhui Conch Cement bahkan merencanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2015. Selain Anhui terdapat beberapa perusahaan asing lainnya yang tertarik menginvestasikan modalnya di indonesia antara lain China Trio Int engineering co Ltd  yang membangun parik di Tanjung , Kalsel. SDIC China yang membangun pabrik 1 juta ton di Papua. Siam Cement (Thailand) membeli pabrik semen Boral (Jaya Readymix) berkapasitas 1,8 juta ton di Sukabumi. Wilmar (Semen Merah Putih) yang membangun pabrik semen berkapasitas 1,2 juta ton / tahun di Bayah , Banten. PT Jui Shin Indonesia yang berkapasitas 2,5 juta ton di karawang dan Semen Grobogan / Gajah Tunggal (China Triumph Int Co. Ltd.) yang membangun pabrik dengan kapasitas 1.5 juta ton/tahun di Grobogan , Jawa Tengah. 


Hal ini menarik karena sebagian besar merupakan perusahaan asal China. Padahal  China sendiri merupakan negara dengan produksi dan konsumsi terbesar di dunia dengan produksi sebesar 2.21 milyar ton paa tahun 2012 atau sekitar 56% produksi dunia. Menurut penelitian Yu Lei dkk. (MIT press, 2014) industri semen merupakan salah satu penyumbang terbesar polusi udara di China. Saat ini China memiliki kualitas udara terburuk akibat dari pencemaran udara yang salah satunya berasal dari industri semen. Menurut Yu Lei  (2014) polusi yang dikeluarkan oleh industri semen antara lain berupa Sulfur Dioksida (SO2) , Nitrogen Oksida (NOx), Karbon Monoksida (CO, dan debu. Sumbangan polusi paling besar berupa CO2 dan debu yang memiliki kandungan berupa logam berat seperti Cromium (Cr), Nikel (Ni), Timbal (Pb), dan Merkuri (Hg). 


Pencemaran udara yang  terlalu tinggi membuat pemerintah China untuk memperketat aturan tentang produksi semen mulai akhir 2013 dan merencanakan mengurangi produksi semen itu hingga 37 juta ton pada tahun 2015 (Reuters, 27 Desember 2013). Musim investasi semen di China kemungkinan akan berubah akibat kebijakan tersebut dan akan pindah ke Indonesia. Menurut peneliti School of Democratic Economics Hendro Sangkoyo perubahan ini dapat dilihat berupa pengalihan ekonomi. Dengan  membuang ekonomi yang kotor ke luar negeri salah satunya Indonesia. sedangkan negara China memilih untuk mengkonservasi bentang alam kars karena adanya kepentingan perdagangan karbon.

Menurut Rektor Undip Semarang Prof. Sudharto P Hadi dalam kasus Semen Rembang , beliau mendukung pendapat Ketua Badan Geologi Surono. Kalau berada di Zona Cekungan Air Tanah (CAT) jelas tidak boleh ditambang ujar Doktor Ilmu Lingkungan ini. Pendapat ini juga diamini oleh Geolog dari UPN Veteran Jogyakarta , Eko Teguh yang mendukung Badan Geologi. Badan Geologi bukan hanya alat Industri , melainkan alat negara untuk mensejahterakan rakyat dan karena itu harus berpijak kepada pembangunan berkelanjutan. Eko juga mengakatakan bahwa eksploitasi karst yang baik harus mengelola air tanahnya. Karst yang terbentuk jutaan tahun dari batuan karang lautan yang terangkat tidak tumbuh lagi. Berbeda dengan reservoir air tanah yang berasal dari tubuh gunung api yang mengeluarkan material vulkanik.

Menurut Sudharto daya dukung lingkungan mestinya jadi dasar bagi industri semen. Kajian Lingkunga Hidup Strategis harus dilakukan dengan mengintegrasikan aspek lingkungan sejak tahapan awal perencanaan. Khusus untuk Pulau Jawa sudharto mengatakan penambangan karst di pulau Jawa harus dikaji lebih serius karena daya dukung ekologi jaya yang menyusut, kepadatan penduduk yang sangat tinggi sehingga memicu konflik sosial. Dampak lingkungan berkaitan dengan dampak sosial. Ketika sawah tempat bergantung hidup hilang, lalu mata pencarian tergangg pasti ada masalah. Padahal sebagian besar perusahaan semen mengincar Kawasan Karst Di jawa sebagai bahan baku. Karena kedekatannya dengan pasar Jawa menjadi prioritas pembangunan pabrik semen hal ini diakibatkan karena transportasi menjadi biaya paling besar dalam produksi semen yang mencapai 20%. 


Hal ini diamini Hendro yang mengatakan bahwa produksi semen lebih di utamakan untuk memenuhi pasar real estate kota dibandingkan sebagai kebutuhan infrastruktur dasar. Bahkan industri semen mulai menyasar kepada pangsa ekspor. Jika konsisten dengan pembangunan yang adil seharusnya pabrik semen didirikan di tanah Papua, yang harga 1 zak mencapai 1 juta rupiah dibandingkan di Pulau Jawa.

Lalu masih berlanjutkah , Penambangan Karst Di Pulau Jawa ? 


Kawasan Karst Citatah , Cianjur , Jawa Barat


Diolah dari Harian Kompas Edisi 20 Agustus 2014 hal 14 Rubrik Iptek dan Lingkungan Hidup

Read More

Rabu, 20 Agustus 2014

Pabrik Semen Rembang , Untuk Siapa ? (Konflik Sumber Daya - 1 )



Sekitar 2 bulan ini warga daerah Gunem Rembang, Jawa Tengah resah diakibatkan adanya ijin penambangan batu gamping untuk dijadikan pabrik semen. Penambangan ini dilakukan oleh PT semen Indonesia untuk mencukupi kebutuhan pabriknya. Sebagian besar warga ini menolak adanya penambangan di daerah ini karena dikuatirkan akan terjadi kerusakan lingkungan. Warga yang sebagian besar merupakan petani ini mengkuatirkan hilangnya mata air di wilayah ini.


Seperti diketahui bahan baku semen berasal dari batugamping yang menyimpan mata air tanah. Daerah ini dikenal dengan kawasan Karst. Secara umum kawasan karst merupakan hasil geologi dari batuan gamping yang telah terlarutkan oleh air tanah sehingga menjadikan adanya gua – gua bawah tanah. Gua – gua inilah yang menjadikan sumber mata air bagi penduduk sekitar.



Berdasarkan geologi daerah ini merupakan daerah cekungan air tanah Watuputih. Daerah ini merupakan bagian dari daerah resapan /imbuhan air tanah CAT watuputih, akuifer di daerah ini dibawa oleh Formasi Paciran. Pada survei Badan Geologi di daerah ini ditemukan adanya enam gua dengan mata air. Berdasarkan PP No. 43/2008 daerah resapan / imbuhan harus dikonservasi dan dilarang untuk penambangan. Peraturan ini diamini oleh Ketua Badan Geologi Surono yang mengirim surat kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sayangnya  Gubernur Jawa Tengah tidak setuju dengan rekomendasi ini dan menyarankan agar masyarakat yang menolak untuk menggugat ke PTUN. 


Bagi warga sekitar yang merupakan petani, daerah resapan/ imbuhan ini sangat penting sebagai sumber mata air pertanian mereka. Selama ini  kebutuhan hidup warga sekitar dapat dipenuhi dari pertanian. Dari sekitar 5000  meter persegi dapat ditanami tanaman padi, palawija, dan tembakau secara bergantian sepanjang tahun. Hal ini diutarakan oleh Koordinator aliansi warga rembang peduli pegunungan kendeng  Joko Prianto. Bahkan kalau pembangunan pabrik ini untuk kesejahteraan masyarakat, kesejahteraan apa lagi yang dicari? Semua kesejateraan warga rembang berasal dari tanah dan sumber mata air yang melimpah. Bahkan menurut Joko, orang desa seperti kami paling hanya jadi satpam di pabrik. Lebih baik kami jadi petani di tanah kami sendiri.


Dalam pertemuan terakhir dengan PT Semen Indonesia Ketua Badan Geologi Surono menyarankan agar mencari lahan lain. Daerah Cekungan air tanah (CAT) Watuputih yang memiliki luas 32,26 km persegi sangat sempit sebagai daerah imbuhan / resapan sehingga sangat terpengaruh dengan adanya kegiatan penambangan. Sementara itu menurut Gunretno, petani dan tokoh muda Sedulur Sikep yag sukses menggagalkan rencana pabrik semen di Sukolilo Pati, mengatakan bahwa Indonesia tanpa pabrik semen tida akan ambru tetapi tanpa tanpa pangan pasti ambruk.


Konflik antara pabrik semen dan masyarakat ini bukan merupakan pertentangan antara warga desa yang menolak adanya industrialisasi, tetapi kegagalan pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat dan lingkungan melainkan kepada kepentingan pengusaha dan para pemodal (kapitalis).


Lalu kebijakan pembangunan pabrik semen ini untuk siapa? 





Diolah dari artikel iptek, lingkungan , dan kesehatan. Harian Kompas 19 agustus 2014 hal. 14
Read More

Minggu, 17 Agustus 2014

10 Negara Dengan Cadangan Emas Terbesar di Dunia

Logam mulia emas (Au) terkenal sebagai salah satu alat ukur kekayaan. Dari jaman dahulu sampai sekarang emas (Au) menjadi salah satu alat tukar, penyimpan , dan ukur kekayaan suatu negara.

Logam Mulia Emas (ilustrasi) 


Selain anggaran belanja suatu negara dapat dilihat dari cadangan emasnya. Karena cadangan emas merupakan salah satu penjamin adanya penerbitan mata uang suatu negara. Selain itu , kondisi ekonomi suatu negara dapat dipengaruhi oleh seberapa besar cadangan emas suatu negara. Berikut ini 10 negara di dunia dengan cadangan emas terbesar ;

Peringkat 10


Negara India (sumber)

India menjadi negara dengan cadangan emas terbesar ke 10. Cadangan emas negara India sebesar 557 ton emas. Cadangan ini merupakan salah satu kekayaan negara india dengan persentase 7.6% dibandingkan dengan total kekayaan negara India.

Peringkat 9


Bendera Negara Belanda (sumber)

Berada di peringkat 9 ditempati dengan negara Belanda. Cadangan emas negara ini sebesar 612.5 ton emas. Sebagian besar cadangan emas negara ini berada di luar negeri.


Peringkat 8

Negara Jepang (sumber)
Negara dengan cadangan ke 8 ditempati oleh Negara Jepang. Cadangan negara ini sebesar 765.2 ton emas.


Peringkat 7
Negara Rusia (Sumber)

Negara Rusia menempati peringkat ke - 7 dengan cadangan emas sebesar 1034 ton emas. Jumlah ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Peringkat 6


Swiss menjadi negara ke - 6 dengan cadangan emas terbesar . Cadangan emas negara swiss sebesar 1041 ton emas. Cadangan emas ini merupakan 20 % dari aset negara Swiss.

Peringkat 5

Peringkat ke lima ditempati oleh negara Cina. Cina merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia. Cadangan emas negara ini sebesar 1054 ton emas.

Peringkat 4

Negara ke empat dengan cadangan emas terbesar ditempati Negara Perancis. Cadangan emas Negara Perancis ini sebesar 2435 ton emas yang merupakan 64.3% cadangan negara tersebut.

Peringkat 3

Itali menjadi negara terbesar ke tiga cadangan emas. Cadangan emas negara ini sebesar 2451 ton emas yang merupakan 65.9 % cadangan Negara Itali.

Peringkat 2


Jerman menjadi negara terbesar ke dua dengan cadangan emas sebesar 3387 ton emas. Cadangan emasa negara jerman merupakan 67.1% dari total cadangan negara tersebut.

Peringkat 1




Siapa lagi kalau bukan negara adi kuasa Amerika Serikat. Cadangan emas Negara Amerika ini sebesar 8133.5 ton emas. Cadangan ini merupakan 71% dari total cadangan Negara Amerika.

Logam emas bukan hanya merupakan salah satu logam untuk perhiasan. Tetapi seberapa besar cadangan emas sutau negara merupakan salah satu indikasi seberapa kuat ekonomi suatu negara dari goncangan ekonomi yang terjadi.
.




Read More

Kamis, 07 Agustus 2014

10 Perusahaan Energi dan Tambang Terbaik Indonesia Tahun 2013 Versi Majalah Fortune

Perusahaan energi dan mineral merupakan salah satu penyumbang dalam neraca devisa negara. Terutama ekspor batubara dan mineral. Beberapa perusahaan masuk dalam 100 besar perusahaan terbaik indonesia versi Majalah Fortune. Berikut ini 10 besar perusahaan tersebut :

1. PT. Pertamina


Perusahan BUMN yang mengurusi masalah minyak dan gas ini berada di peringkat pertama 100 besar perusahaan Indonesia. Dengan pendapatan sebesar 740 T naik sebesar 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba BUMN ini mencapai 31 T. Pertamina saat ini gencar dengan akuisisi blok migas. Seperti saat akuisisi blok migas North West Java Basin dan blok migas di negara Aljazair.

Selain minyak dan gas pertamina juga mengincar pengembangan pembangkit panas bumi melalui anak perusahaanya Pertamina Geotermal.




2. PT. Adaro Energy Tbk.


Perusahaan tambang penghasil batubara ini menempati peringkat 14 dari 100 perusahaan terbaik indonesia. Sebagaian besar pendapatan PT. Adaro Energy Tbk. disumbang melalui anak perusahaanya PT. Adaro Indonesia dan Kontraktor pertambangan Sapta Indra Sejati (SIS) . Perusahaan yang didirikan Garibaldi Thohir, Teddy Rachmat ,Edwin Soeryadjaya,Sandiaga Uno,dan Benny Soebianto ini menghasilkan pendapatan sebesar 34 T turun sebesar 2%. Hal ini dikarenakan harga komoditas batubara setahun belakangan turun. Laba bersih PT. Adaro diperkirakan sebesar 2,4 T.


3. PT. Indo Tambangraya Megah



Perusahaan tambang batubara ini menempati peringkat 24 dari 100 perusahaan terbaik indonesia. Dengan pendapatan sebesar 1 % bila dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih PT. Indo Tambangraya Megah sebesar 2,3 T.


4. PT. Aneka Tambang (Antam) (Persero) Tbk


Perusahaan BUMN ini memenempati peringkat 52 dari 100 perusahaan terbaik indonesia.

Dengan pendapatan sebesar 11,2 t naik 8 % dibandingkan tahun sebelumnya. Besaran pendapatan ini didukung oleh hasil tambang berupa emas, nikel, dan bauksit. Untuk mineral emas sumbangan terbesar berasal dari Tambang Emas Pongkor dan Cibaliung. Antam juga memiliki 25% PT Nusa Halmahera Minerals yang mengoperasikan tambang emas Gosowong di Maluku Utara. 

Sedangkan Tambang Nikel antara lain berada di Pomala , 
Tapunopaka di Sulawesi Tenggara dan Buli di Maluku Utara.

Sedangkan tambang bauksit antara lain berada di : Tayan, Munggu Pasir, dan Mempawah (Kalimantan Barat). Untuk Laba bersih Antam hanya mendapatkan sebesar 409 Milyar. hal ini dikarenakan Antam fokus dalam pengembangan pabrik smelter, sehingga mengurangi laba bersih Antam.

Beberapa pembangunan pabrik smelter ini antara lain berada di : 

Proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan

Proyek FeNi Buli Halmahera Timur

Proyek Perluasan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP)

Proyek Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah.


5. PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.



Perusahaan BUMN ini bergerak di penambangan dan pemanfaattan Batubara. Lokasi kerja Bukit Asam ini berada di Pulau Sumatra. Perusahaan ini pada tahun 2013 berada di posisi ke 53 dengan pendapatan sebesar 11,2 T turun sebesar 3 % bila dibandingkan tahun sebelumnya. Hampir semua perusahaan batubara mengalami penurunan pendapatan. Hal ini dikarenakan lesunya dan turunnya harga komoditas 

batubara. 

Laba bersih Bukit Asam diperkirakan sebesar 1,8 T.



6. PT. Vale Indonesia Tbk.

Perusahaan asal brasil ini sebelumnya bernama Inco Indonesia yang menguasai pertambangan Nikel di Sorowako , Sulawesi Selatan. Perusahaan ini berada di posisi 64 dengan pendapatan sebesar 9,5 T naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan diperkirakan sebesar 402 M.


7. PT. Medco energy International Tbk.


Perusahaan milik Arifin Panigoro ini berada di posisi ke 65 dengan pendapatan sebesar 9,2 T naik 9 % bila dibandingkan tahun sebelumnya. Laba Bersih perusahaan ini sebesar 131 M.







8. PT. Harum Energy Tbk.

Perusahaan batubara ini berada di peringkat 66 dengan pendapatan sebesar 8,7 T turun 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan ini sebesar 435 M



9. PT. Energy Mega Persada Tbk.


Perusahaan Minyak dan Gas ini berhasil berada di peringkat 68 dengan pendapatan sebesar 8,4 T, naik 37% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih sebesar 1,7 T. Energi mega persada sangat aktif dalam akuisisi blok migas terutama di luar negeri .




10. PT. Timah (Persero) Tbk.

Di peringkat 10 satu - satunya perusahaan mineral timah yang masuk 10 besar perusahaan tambang dan energi terbaik. PT. Timah berada di posisi 84 dengan pendapatan sebesar 5,8 T turun 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih Bumn ini sebesar 515 M. Penurunan pendapatan ini dikarenakan cadangan timah di daratan mulai menipis. diharapkan ke depanya produksi timah akan beralih dari darat ke laut. 




Selamat untuk 10 perusahaan tamabng terbaik versi Majalah Fortune. Semoga kinerjanya semakin meningkat.
Read More

Sabtu, 02 Agustus 2014

Semen Indonesia Investasikan 3,7 T di Pabrik Semen Rembang



PT Semen Indonesia hingga Juli 2014 mengalami kenaikan penjualan di pasar dalam negeri sebesar 0,3 % menjadi 14,42 juta ton dari periode tahun 2013 sebesar 14,37. Penjualan ini ditopang olaeh pabrik semen gresik sebesar 7,8 juta ton naik 4,2 % dibandingkan tahun lalu sebesar 7,49 juta ton. Penjualan tertinggi kedua ditopang oleh semen tonasa sebesar 2,92 juta ton, naik 0,6 % dibandingkan tahun lalu sebesar 2,9 juta ton. Sementara penjualan semen padang sebesar 3,69 juta ton mengalami penurunan sebesar 7,1% dari sebelumnya 3,99 juta ton.

Ditengah gencarnya isu masyarakat ekonomi asia (MEA), Semen Indonesia terus meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini perseroan fokus dalam pembangunan 2 pabrik semen di padang dan rembang  yang masing - masing berkapasitas 3 juta ton / tahun. Investasi perseroan dalam pembangunan pabrik rembang mencapai 3,717 Trilliun. sedangkan untuk pabrik Indarung VI Padang mencapai 3,25 Trilliun. Hal ini menunjukan bahwa pembangunan pabrik cukup efisien dan memiliki prospek yang sangat baik.

Aktivitas produksi di Pabrik Semen Indonesia
 Saat ini , desain kapasitas produksi semen indonesia mencapai 31,8 juta ton. dengan ekspansi pabrik di sejumlah wilayah , desain kapasitas produksi diharapkan mencapai 39,3 juta ton pada tahun 2016 dan menjadi 40,8 juta ton pada tahun 2017.
Read More

Jumat, 18 Juli 2014

Tersesat ke Jalan yang Benar, Geologi

Tersesat ke Jalan yang Benar, Geologi

Tulisan Heru Hendarto , Alumni Teknik Geologi UGM
Geolog mendeskripsi batuan (sumber : freeimages.com)

Geologi? Binatang apa sih itu? Itulah pertanyaan yang banyak ditujukan ke saya dahulu saat nekat mengarsir kolom pilihan jurusan ini saat mengikuti UMPTN. Tak tanggung-tanggung bahkan ibu saya pun meragukan ‘keberadaan’ jurusan ini. “Lha, jurusan apa itu? Nanti kerjanya kayak apa?”, tanya beliau sambil mendelik. Namun maaf saja, tidak seperti sebagian mahasiswa lain yang terdampar di geologi karena blind date, saya sendiri merasa sudah cukup paham binatang apa itu geologi.  Jadi, tidak hanya ekstra telaten mempelajari susunan mata kuliah bermodalkan buku kurikulum kampus yang saya pinjam, saya pun sudah melakukan wawancara dengan beberapa senior yang kebetulan kuliah di geologi. Dengan modal reconnasissance awal itu, mata saya pun lebih terbuka tentang apa-apa yang dipelajari nantinya selama kuliah jika saya masuk ke jurusan itu. Tentu saja, saya juga sudah tahu bahwa hampir semua hitungan yang berat-berat dalam geologi di-convertdan disajikan dalam bentuk tabel dan chart. Jadi, kita tinggal mem-plot-kan saja titik perpotongan dari sumbu-sumbunya dan nilai itulah yang kita ambil. Seberapa akurat kah hasilnya itu? Yah, beda sepuluh-dua puluh persen dalam geologi adalah sah-sah saja, apalagi jika chartyang kita gunakan adalah hasil fotokopian textbookyang kesekian kali turunan sehingga skalanya pun sudah mulur-mulur tidak karuan. Idealnya sih, menurut textbook yang saya baca, seorang geologist adalah seorang yang awalnya juga ahli di bidang biologi, fisika, kimia dan matematika. Dan well, saya tidak ahli di bidang itu satupun kecuali agak sedikit nyangkut di biologi (itu pun banyakan hapalnya di pelajaran reproduksi he). Jadi sebenarnya motivasi saya masuk geologi cukup jelas : “Saya senang naik gunung dan saya tidak jago sama sekali dalam ilmu pasti namun sangat ingin sekali menyandang gelar Sarjana Teknik biar keren”.
Dapat ditebak dengan mudahnya tentu saja, dua semester pertama saya nilainya hancur berantakan. Penyebabnya adalah bertaburannya Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang wajib diambil seperti Fisika, Kalkulus dan Kimia. Belum puas menyiksa mahasiswa dengan mata kuliah kelas berat itu, muncul lagi mata kuliah hasil turunannya seperti Kimia Analis dan Kimia Fisika. Walhasil, para dosen mata kuliah itu pun menjadi musuh bebuyutan kami. Dan stereotypedosen-dosen dari MIPA pun tetap melekat erat di mereka, old-fashioned, kaku, dan tidak komunikatif. Bagaimana tidak namanya old-fashioned, dandanan mereka rata-rata adalah gaya pemuda tahun 70-an; celana cutbrai, kemeja ketat kancing atas dibuka dan tentu saja dengan kacamata setebal pantat botol bertengger di atas hidung. Rina, seorang teman SMA saya yang telah menamatkan kuliah D3-nya di jurusan Kimia Terapan salah satu PTN di Jakarta dan meneruskan ekstensi S1-nya di MIPA sini, nyeletuk : “Busyet dah mahasiswa-mahasiswi di sini, masak pergi kuliah pakai kemeja merah bawahannya celana coklat!”. Saya pun mencoba berkelit, menerangkan bahwa dari segi berpakaian memang kami masih jauh dari namanya modis, maklum ndeso, tapi inilah kampus yang terkenal dengan kesederhanaannya dan lebih mengutamakan otak daripada penampilan. Masih merasa dendam dengan statement teman saya itu, ‘tema perang’ yang sering kami angkat pun berselubung arogansi jurusan (walaupun intinya adalah dasar kaminya saja yang tidak sanggup menghadapi siksaan ganas dosen-dosen mata kuliah dasar itu). Arogansi jurusan ini kadang-kadang juga bisa membuat kami berubah jadi mahasiswa yang menyebalkan. “Mbak-mbak, ngapain sih kuliah 5 tahun cuma untuk belajar gigi saja, gak kelamaan tu Mbak? Kami saja 5 tahun kuliah sudah khatam belajar bumi dan alam semesta, sama isi-isinya lagi!”, demikian goda kami ke seorang mahasiswi Kedokteran Gigi yang kebetulan cukup manis parasnya.
Geologis di lapangan saat mengumpulkan data

Indeks Prestasi saya di semester I hanya mencapai 2,6 lebih sedikit, hanya masuk ke golongan PMDK (Perhimpunan Mahasiswa IP Dua Koma). Selain saya, ada juga beberapa teman bernasib malang yang dikutuk terjerumus masuk ke golongan Nasakom (nasib satu koma). Karena itu pulalah saya menargetkan bahwa paling tidak saya harus lulus nanti minimal mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif 2,75. Membayangkan untuk dapat lulus dan termasuk dalam klan Primagama (Perhimpunan Mahasiswa IP Tiga Koma) bagi saya yang otak pas-pasan ini, rasanya hampir tidak mungkin. Dipastikan penyumbang terbesar jebloknya IP saya di tahun pertama itu adalah nilai-nilai MKDU yang bertaburan dengan nilai sadis C, D dan E. Bahkan pada mata kuliah Kimia Dasar I, yang wajib diambil pada semester pertama, saya sukses untuk tidak lulus dengan dianugerahi nilai E. Penasaran, kesempatan semester pendek tahun berikutnya saya mencoba mengambil ulang mata kuliah itu dan mendapat nilai yang lebih lumayan, D. Masih penasaran lagi (campur emosi), pada semester ganjil tahun ketiga saya kejar lagi Kimia Dasar I itu dan sukseslah dianugerahkan kembali dengan nilai E sebagai penilaian final. Akhirnya, pasrah dengan ketidakadilan yang saya rasakan, nilai D keparat itulah yang digunakan dan termaktub dalam Kartu Hasil Studi saya untuk selamanya.

Teman saya Yadi lebih parah lagi nasibnya, selama menjalani kuliah 5 tahun selama itu pula setiap tahunnya dia mengambil mata kuliah Kimia Fisika. Jadi, MKDU Kimia Fisika sudah berubah statusnya jadi mata kuliah wajib baginya. Sebenarnya, dosen mata kuliah susah ini cukup aneh juga orangnya. Jadi jika beliau memakai ikat pinggang, saking panjangnya ikat pinggang itu seolah-olah membelit tubuhnya sebanyak dua putaran. Ujung ikat pinggangnya berakhir di belakang kanan badan, bukan di samping kiri depan seperti kebanyakan orang-orang. “Mbok yo dipotong ikat pinggangnya, atau beli baru yang pas di badan gitu lho..”, begitu gumun salah seorang teman. Cerita ‘cinta segitiga’ antara Yadi, Kimia Fisika dan dosennya ini langsung merekah berbunga-bunga tepat pada semester pertama. Awalnya Yadi merasa tidak puas dengan nilai C yang diperoleh karena dia merasa bisa mengerjakan dengan baik soal ujiannya. Apalagi si Mulyono yang notabene nyontek plek kerjaannya Yadi, malahan dapat nilai B (saya sendiri untuk mata kuliah ini memperoleh nilai A-thanks god, satu-satunya nilai A dalam MKDU yang saya peroleh tapi saya sendiri tidak dong blas sama sekali akan materi kuliahnya). Penasaran, tiap tahun dia pun mengulang, dan tahun kedua malahan dia mendapat nilai lebih buruk, D. Tambah emosi, dia mengulang lagi di tahun ketiga dan memperoleh nilai yang tetap sama, D. Dia sudah merasa demikian kalapnya ketika mengulang lagi di tahun keempat dan tetap saja mendapat nilai D, hingga dia datangi dosen itu yang ternyata mengaku stress dengan anak geologi karena selalu minta nilai bagus tapi tidak pernah memperhatikan beliau saat kuliah. Sampai-sampai dengan penuh arogan beliau memberikan soal ujian yang dia bilang tidak akan bisa dijawab satu pun oleh anak geologi. Akhirnya dengan penuh dendam membara menyala-nyala di dada, Yadi pun mengulang untuk kali terakhir dan dengan suksesnya ditasbihkan untuk tidak lulus dengan nilai E..! Satu-satunya nilai E yang pernah dia dapat seumur-umur selama kuliah.
Berapa orang kah yang bernasib parah seperti kami itu? Banyak juga sih, namun tetap saja di antara kami muncul beberapa ‘pengkhianat’ yang melejit cemerlang dan lulus dengan nilai A. Ehm, sebenarnya bukan pengkhianat sih, memang mereka dasarnya pintar-pintar kok. Ada seorang teman saya dari Sumatera, sebut saja Satriyo, yang otaknya saking encernya suka menetes kemana-mana kalau dia berjalan. Segala jenis cacing integral yang membingungkan dan menjijikkan bisa dia uraikan dengan cepat dengan hasil yang mengagumkan.  Namun sayangnya, giliran dia menghadapi materi kuliah transportasi butir sedimen, membayangkan perubahan ukuran dan bentuk butir yang terjadi seiring jauhnya jarak transportasi saja sudah kebingungan. Satu logika yang bagi saya begitu gampangnya, berubah menjadi sesuatu yang kompleks bagi dia. Begitu pula sebaliknya yang berlaku, benar-benar dunia geologi yang membingungkan!

Kristal quartz salah satu pelajaran di geologi (sumber : freeimages.com)
Hiburan kami saat kuliah di semester awal adalah tentu saja mata kuliah-mata kuliah yang berhubungan dengan geologi itu sendiri, seperti Geologi Fisik dan Dinamik, Kristalografi dan Mineralogi serta Petrologi. Saya sendiri hampir selalu mendapat nilai baik untuk mata kuliah kegeologian, minimal B pasti sudah didapat di tangan. Walaupun sebenarnya saya merasa sama bodohnya saat menghadapi MKDU, namun tidak tahu kenapa nilainya selalu muncul lebih baik. Mungkin karena merasa lebih enjoy mengikuti perkuliahan, ah tapi entahlah. Bagaimana mungkin, kami yang bau kencur tidak tahu apa-apa ini sudah disodori oleh berbagai nama dan bentuk mineral serta puluhan jenis batuan yang harus dihapalkan. Mulai dari granit, granodiorit, riolit dari magma asam, hingga magma-magma lain serta berbagai batuan sedimen dan juga batuan metamorf yang merupakan turunan dari semua batuan sebelumnya. Targetnya sih, ini kata dosen mata kuliah Geodinamik, kami harus sudah fasih dengan tipe-tipe dan segala macam rupa batuan umum pada tahun pertama. Jadi misalnya kami sedang berjalan dan kaki tersandung batu, seorang mahasiswa geologi tahun pertama yang baik dan terlatih akan sudah sanggup untuk mengeluarkan makian : “Sompreet…!! Dasar ‘andesit’ sialan…!!”.

Kuliah Lapangan Mahasiswa Geologi (ilustrasi sumber : http://www.fitb.itb.ac.id/)
Bentuk dan warna bebatuan yang kami pelajari tersebut banyak yang serupa sehingga sangat-sangat membingungkan. Kejadian kocak yang saya ingat betul adalah saat dilakukannya tes praktikum Kristalografi dan Mineralogi, dimana kami harus mendeskripsi dan menentukan nama berbagai batuan dalam waktu kurang dari 2 menit. Bebatuan yang demikian banyak dan bermacam-macam jenis itu dijalankan dengan metode rolling ke teman di belakang. Jadi dalam waktu sekitar 1 jam, kami diserbu oleh berbagai bebatuan bermacam ukuran berwarna-warni dari berbagai jenis setiap 2 menitnya. Bunyi ‘tok!’, rasanya terdengar seperti gong kematian bagi kami karena bunyi mistar besi yang dihantamkan ke meja itu adalah penanda kami harus sudah selesai mendeskripsi batuan di tangan dan menyerahkannya ke meja belakang. Nah sialnya, seorang asisten dengan isengnya menyelipkan sepotong beton semen dan pecahan pantat botol di antara tumpukan bebatuan tersebut. Masih ingat persis dengan kejadian saat itu, “Hmm, batuan beku, abu-abu cerah, porfiroafanitik dengan fenokris kuarsa 2%, putih mengkilap, 1-2 mm, euhedral dengan masa dasar 98%, abu-abu cerah, skoriaan?”. “Kok cuma kuarsa ya yang kelihatan? Sedikit banget lagi!”, gumam saya agak kebingungan. “Ah sudahlah, pasti andesit ini!”, dan saya pun pede menuliskannya di lembar deskripsi. Dan tentu saja pecahan pantat botol tadi sukses saya deskripsikan sebagai batuan gelas vulkanik, coklat muda, glassy 100%, translucent. Seingat saya, tidak ada satupun teman yang berhasil mengenali itu sebagai beton dan beling! Sukseslah kami semua se-angkatan tertipu mentah-mentah dalam tes tersebut. Di akhir sesi sang ketua asisten berkata, “Tujuan saya menyelipkan beton dan belingitu bukan hendak menipu adik-adik lho ya. Kami hanya hendak menekankan bahwa deskripsi makroskopis tidak akan akurat tanpa memperhatikan singkapan batuan asalnya di lapangan”. Yeah, whatever the reason lah, yang jelas nilai kami juga tetap dikurangi gara-gara kehadiran dua barang terkutuk itu. Sejujurnya, saya sendiri pernah tertipu mentah-mentah saat mendeskripsi batuan, dan untungnya (sampai tulisan ini dibuat) tidak ada teman satu pun yang mengetahuinya. Saat sesi kuliah dan praktikum ruangan, kami diberi tahu bahwa materi erupsi gunung api yang terlempar ke udara dengan ukuran lanau dan lempung akan mengendap menjadi batuan tuff. Berwarna putih, ringan, mengandung banyak silika dan melampar mengisi cekungan. Salah satu cara empiris identifikasi paling cepat untuk tipe tuff adalah dengan menjilat bebatuan itu. Bila lidah terasa lengket tersedot menempel, berarti itu adalah positif tuff. Di sebuah kesempatan field trip, saya yang merasa menemukan batuan dengan lensa tuff di dalamnya mencoba menjilat kenampakan fragmen putih halus itu. Satu menit lamanya saya menjilat ‘tuff’ jejadian tersebut tanpa merasa lengket apa-apa, hanya untuk menyadari bahwa yang saya jilat itu adalah bercak besar dari kotoran burung yang sudah mengering !

Profil teman seangkatan saya sebenarnya cukup beragam, yang jelas saya ingat betul saat masuk ada sekitar 82 teman seangkatan dan 11 di antaranya berjenis kelamin cewek (satu orang cewek masih diragukan keaslian jenis kelaminnya karena sangat maskulin dan terbukti dalam beberapa kali tripke lapangan selalu ditegur dengan sapaan ‘mas’ oleh para penduduk). Dahulu memang geologi adalah jurusan yang paling minim cewek, sehingga muncul julukan ‘jurusan 1 banding 3’. Bukan berarti satu cewek berbanding tiga cowok ya, tapi satu cewek dibagi untuk tiga angkatan! Belakangan, tidak tahu kenapa, geologi menjadi jurusan yang mulai banyak digemari cewek sehingga rasio 1 cewek vs 3 cowok bukanlah hal yang aneh lagi. Saat ini, kutukan 1 banding 3 itu saya rasa hanya masih berlaku di jurusan Teknik Mesin yang dalam satu angkatannya bisa memperoleh 2 mahasiswi saja sudah sangat-sangat beruntung. Latar belakang jalur masuk mahasiswa geologi pun bermacam-macam. Jaman saya saat itu cuma ada tiga, jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), Pemilihan Bibit Unggul Daerah (PBUD) dan Pemilihan Bibit Atlet Daerah (PBAD). Nah, teman-teman non-UMPTN ini lah yang paling kasihan. Bukan apa-apa, seringkali mereka terdampar ke geologi tapi tidak tahu seperti apa nanti kuliahnya. Maklumlah, saat kelas dua SMA, mereka hanya mendaftar memilih jurusan tertentu tanpa merasa mendapat informasi yang cukup seperti apa profil jurusan tersebut sesungguhnya. Contohnya ya teman saya si jago kalkulus Satriyo tadi, yang merasa kesulitan mengadaptasikan diri dengan fenomena geologi yang lebih condong ke sifat abstrak daripada eksak. Yang lebih parah lagi, teman-teman non-UMPTN ini juga sering diejek-ejek kapasitasnya sebagai mahasiswa. Mengapa? Yah, karena mereka dianggap tidak ikut merasakan beratnya siksaan UMPTN. Tidak ikut merasakan susahnya dan pusingnya persiapan bimbel, desak-desakan mengantri formulir, hingga bersaing ketat se-antero nusantara memperebutkan kursi yang cuma ‘se-iprit’ jumlahnya itu. Tekanan mental itu, walaupun hanya tersirat, ternyata cukup dahsyat juga efeknya bagi sebagian orang. Saat akhir tahun pertama, beberapa rekan ketahuan mencoba mengambil tes UMPTN. Beberapa yang lulus, dan yang memang dari awal berniat pindah ke jurusan yang lebih bergengsi seperti Teknik Kimia, Teknik Elektro dan Kedokteran Umum pun segera hijrah. Ada juga yang cukup sableng, tampak beberapa rekan hanya mondar-mandir di tangga kampus menenteng-nenteng selembar koran lokal yang memuat nama-nama peserta kelulusan UMPTN. Dengan bangganya mereka men-stabilonamanya di situ dan memamerkan kelulusannya ke teman-teman yang lain. Apakah mereka juga akan pindah jurusan? Oh tidak, mereka ikut tes UMPTN lagi tanpa ada niat sama sekali untuk pindah jurusan. Mereka hanya hanya mau show off ke rekan-rekan lain bahwa sebenarnya mereka yang dulu masuk dari jalur non-UMPTN, sanggup untuk lulus UMPTN dan berhak memosisikan dirinya setara dengan yang lain. Kehilangan beberapa teman di tahun kedua (kami menjadi ber-78), tidak menyurutkan semangat kami melanjutkan kuliah ke semester-semester atas. Tahun kedua itu pulalah arogansi UMPTN vs non-UMPTN mulai mencair dan hilang sepenuhnya ditempa oleh waktu dan beratnya beban materi kuliah geologi yang dengan kompak kami hadapi bersama-sama.

Apakah akhirnya semua dari kami lulus dengan gemilang dan happy ending? Tidak juga sebenarnya, beberapa teman memang ‘menghilang’ di tengah jalan. Ada yang menghilang karena masalah keluarga, ada yang karena kesulitan ekonomi, ada yang sudah memperoleh pekerjaan dan berbagai masalah klasik lain yang umum menimpa mahasiswa ndesoseperti kami. Namun satu yang masih membekas di ingatan kami, seorang teman yang baik hati bernama Irwan Pandu yang berasal dari pulau Obi-Maluku, yang menghilang tanpa kabar selama dua tahun lamanya. Dan sangat mengejutkan saat berita terakhir yang saya terima, dia sudah bergabung ke salah satu laskar keagamaan dan terjun ke salah satu medan konflik di Indonesia kala itu. Benar-benar unik dan lain dari yang lain!

Moral of The Story :


Hidup adalah pilihan, dan jika sudah membuat pilihan, jalanilah sepenuh hati dengan segala konsekuensinya walaupun pahit rasanya.
Read More