Rabu, 25 Desember 2013

Apa itu CBM (Coal Bed Methane) ?

CBM telah dikenal lama oleh para pekerja tambang batubara terutama pada penambangan bawah tanah (underground) sebagai gas tambang. Gas tambang ini sering kali mencelakai pekerja tambang. Gas tambang / CBM ini dianggap sebagai penyebab ledakan dan longsor di dalam tambang batubara.


Saat ini Gas tambang ini dapat dimanfaatkan dan diambil sebagai energi gas. Sehingga gas tambang ini tidak mencelakai para pekerja tambang. Selain itu gas tambang metana yang keluar merusak atmosfer dapat dicegah


CBM juga dikenal sebagai coal seam gas (CSG) atau coal seam natural gas (CSNG). Batubara memiliki lapisan-lapisan berisi gas alam dengan kandungan utamanya metana atau methane (CH4) yang disebut CBM. CBM (Coal Bed Methane) adalah gas metana yang dihasilkan selama proses pembatubaraan dan (tetap) terperangkap dalam batubara. Gas tersebut dapat terbentuk secara biogenik maupun thermogenik (dalam eksplorasi CBM yang dicari adalah thermogenik). Ciri fisiknya gas ini: tak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tapi ketika bercampur dengan udara bisa tiba-tiba meledak (mudah terbakar).


CBM terbentuk bersama air, nitrogen dan karbondioksida ketika material tumbuhan tertimbun dan berubah menjadi batubara karena panas dan proses kimia selama waktu geologi yang sering disebut dengan coalification.
  

Gambar 1. Proses Pembatubaraan



Produksi pada methane dari lapisan batubara dibagi menjadi 3 tipe proyek :


1.            Coal bed methane


2.            Coal mine methane


3.            Enhanced coal bed methane.

Setiap proyek memiliki kesempatan dan persoalan-persoalan yang berbeda




Gambar 2. Tipe Pengembangan CBM

Karakter dari batubara yang baik untuk produksi CBM :

  1. Kandungan gas tinggi :15m3-30m3 per ton
  2. Permeabilitas yang baik : 30mD-30mD.
  3. Dangkal : lapisan batubara < kedalaman 1000m. Tekanan pada kedalaman yang berlebih terkadang sangat tinggi dan telah mengalami penguapan. Hal ini disebabkan tekanan tinggi menyebabkan adanya struktur cleat yang menyebabkan penurunan permeabilitas. 
  4. Ranking batubara : kebanyakan proyek  CBM memproduksi gas dari batubara bituminus, tetapi hal ini dapat mungkin terjadi di Antrasit. Semakin bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous rank, lalu berkurang hingga antrasit. Jadi, dari low rank coal pun sudah punya CBM (umumnya kualitas batubara di Indonesia kita adalah low rank). Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal.

     Pada prinsipnya, sejumlah banyak cbm tersimpan dalam coal matrix secara adsorption, yang arti mudahnya adalah 'gas menempel di dalam pori-pori coal matrix' (ada juga sih cbm sebagai free gas atau gas yang tidak menempel pada coal matrix). Cara terkandungnya cbm ini berbeda dengan cara tersimpannya conventional gas. conventional gas tersimpan secara compressed (sebenarnya sama saja dengan free gas). Jadi, lapisan batubara pada target eksplorasi cbm selain berperan sebagai reservoir, juga berperan sebagai source rock (tidak ada migrasi seperti pada conventional gas). 

     CBM dapat keluar (desorption) dari coal matrix melalui cleat (bidang rekahan dengan merendahkan pressure (air) pada target lapisan. Hubungan antara kuantitas cbm yang tersimpan dalam coal matrix terhadap pressure dinamakan Kurva Langmuir Isotherm (proses tersebut berada pada suhu yang konstan terhadap perubahan pressure). Tekanan tersebut direndahkan dengan cara memompa air (dewatering). Jadi, sejumlah banyak air juga akan diproduksikan dan ini menyebabkan kalau mengeksploitasi CBM akan berhadapan dengan environmental challenge, karena banyaknya air yang diproduksi.

    Gamabr 3. Bidang Rekahan di Bidang Batubara
Read More

Selasa, 24 Desember 2013

Stratigrafi Cekungan Kutai

Stratigrafi di daerah ini juga terdiri dari siklus transgresi dan regresi. Di sini fasa regresi jauh lebih mendominasi. Cekungan ini dimulai Tersier Tua, mungkin Eosen, dengan suatu transgresi yang segera diikuti oleh regresi yang mengisi cekungan ini pada seluruh Tersier dan Kuarter. Data stratigrafi menunjukkan bahwa cekungan diisi dari barat ke timur secara progradasi dengan sumbu ketebalan sedimen maximum, diendapkan pada setiap jenjang Tersier yang bergeser secara progresif ke arah timur menumpang di atas sedimen laut dalam yang tipis dari Selat Makasar.


Gerard dan Oesterle (1973) maupun Schwartz dan lain-lain (1973) mengintepretasikan endapan dalam fasa regresif ini sebagai delta. Di sini fasies prodelta, delta front, delta plain terdapat dalam urutan vertikal secara berganti-ganti dan merupakan nenek moyang Delta Mahakam yang sekarang. Delta tersebut berprogradasi ke arah laut, akan tetapi beberapa kali ditransgresi sehingga memberikan siklus kecil. Salah satu progradasi yang jauh ke timur terjadi di Awal Miosen, dimana kompleks delta mencapai pinggiran paparan. Setiap fasa regresi siklus kecil ini mengendapkan lapisan pasir reservoir. Di muka delta ini terbentuk terumbu pinggiran paparan (shelf-edge-reefs) sebelum lereng kontinen outer shelf. 

Di dalam siklus regresi besar ini dapat dibedakan antara Formasi Pulubalang, Formasi Balikpapan dan Formasi Kampung Baru, yang berumur dari Miosen sampai Pliosen


 Gambar 1. Stratigrafi Cekungan Kutai


1.            Grup Pamaluan

Batupasir kuarsa dengan sisipan batulempung, serpih, batugamping, dan batulanau, berlapis sangat baik. Batupasir kuarsa merupakan batuan utama, kelabu kehitam - kehitaman – kecoklatan, batupasir halus – sedang, terpilah baik, butiran membulat – membulat tanggung, padat, karbon dan gampingan. Setempat dijumpai struktur sedimen silang siur dan perlapisan sejajar, tebal lapisan anatara 1 – 25 m. Batulempung tebal rata-rata 45 cm. Serpih kelabu kecoklatan kelabu tua, pada tebal sisipan antara 10 – 20 cm. Batugamping kelabu, pejal, berbutir sedang – kasar, setempat berlapis dan mengandung foraminifera besar. Batulanau kelabu tua-kehitaman. Formasi pamaluan merupakan batuan paling bawah yang tersingkap di lembar ini dan bagian atas formasi ini berhubungan menjari dengan Formasi Bebuluh. Tebal Formasi ini kurang lebih 2000 meter.

2.            Grup Bebuluh

Batugamping terumbu dengan sisipan batugamping pasiran dan serpih, warna kelabu, padat, mengandung forameinifera besar berbutir sedang. setempat batugamping menghablur, tak beraturan. Serpih kelabu kecoklatan berselingan dengan batupasir halus kelabu tua kehitaman. Foraminifera besar yang jumpai antara lain : Lepidocycilina Sumatroenis, Myogipsina Sp, Operculina Sp, mununjukan umur Miosen Awal – Miosen Tengah. Lingkungan pengendapan laut dangkal dengan ketebalan sekitar 300 m. Formasi Babuluh tertindih selaras oleh Formasi Pulu Balang. 

3.            Grup Pulu Balang

Perselingan antara Greywacke dan batupasir kwarsa dengan sisipan batugamping, batulempung, batubara, dan tuff dasit, Batupasir greywacke, kelabu kehijauan padat tebal lapisan antara 50-100 m. Batupasir kuarsa kelabu kemerahan setempat tuffan dan gampingan tebal lapisan antara 15-60 cm. Batugamping coklat muda kekuningan, mengandung foraminifera besar batugamping ini terdapat sebagai sisipan dalam batupasir kuarsa, dengan tebal antara 10-40 cm. Di sungai Loa Haur, mengandung Foraminifera besar antara lain Austrotrilina howhici, Brelis Sp, Lepidocycilina Sp, Myogipina Sp, menunjukan umur Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan laut dangkal. Batulempung kelabu kehitaman dengan tebal lapisan antara 1-2 cm, setempat berselingan dengan batubara dengan tebal ada yang mencapai 4 m. Tufa dasit, putih merupakan sisipan dalam batupasir kuarsa.

4.            Grup Balikpapan

Perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batulanau, serpih, batugamping dan batubara. Batupasir kuarsa, putih kekuningan, dengan tebal 1-3 m disisipi lapisan batubara dengan tebal 5-10 cm. Batupasir gampingan, coklat, berstruktur sedimen lapisan bersusun dan silang siur tebal, lapisan 20-40 cm mengandung foraminifera kecil disisipi lapisan tipis karbon. Lempung kelabu kehitaman setempat mengandung sisa tumbuhan oksida besi yang mengisi rekahan-rekahan setempat mengandung lensa-lensa batupasir gampingan. Lanau gampingan berlapis tipis serpih kecoklatan berlapis tipis. Batugamping pasiran mengandung Fosil menunjukan umur Moisen Akhir bagian bawah – Miosen tengah bagian atas.

5.            Grup Kampung Baru

Batupasir kuarsa dengan sisipan lempung, serpih, lanau, dan lignit, pada umumnya lunak mudah hancur. Batupasir kuarsa, putih, setempat kemerahan atau kekuningan, tidak berlapis, mudah hancur, setempat mengandung lapisan tipis oksida besi atau kongresi, tuffan atau lanuan, dan sisipan batupasir konglomerat atau konglomeratan dengan komponen kuarsa, kalsedon, serpih, dan lempung, diameter 5 – 1 cm mudah lepas, lempung kelabu kehitaman mengandung sisi tumbuhan, kepingan batubara, koral, lanau kelabu tua, menyerpih laminasi, lignit dengan tebal 1-2 m di duga berumur Miosen Akhir – Plio Plestosen. Lingkungan pengendapan delta laut dangkal, tebal lebih dari 500 m. Formasi ini menindih selaras dan setempat tidak selaras terhadap Formasi Balikpapan.
Read More

Selasa, 17 Desember 2013

Fisiografi Pulau Papua

Pualu papua memiliki bentuk yang menarik, dilihat dari bentuknya pualu Papua diibaratkat berbentuk seperti brunung. Pulau Papua (New Guinea Island) berada pada posisi 130O19’BT – 150O48’BT dan 00O19’LS  – 10O 43’LS. Pulau tersebut memiliki panjang sekitar 2400 km dan lebar sekitar 660 km. Secara umum Fisiografi Pulau Papua dibagi menjadi 3 bagian yaitu (Van, Bemmelen (1949) :


1. Bagian Peninsula Barat (kepala burung), yang terhubung dengan bagian badan utama dari pulau tersebut oleh bentuk leher yang menyempit. Terletak pada 1300 – 1350BT (panjang).
2. Bagian Daratan Utama (badan), yang terletak pada 1350 – 143,50BT (panjang).
3. Bagian Timur (ekor burung), yang terletak pada 143,50 – 1510(panjang).

Bentuk tersebut diyakini akibat adanya tumbukan antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik yang diduga berawal pada awal tersier dan berlangsung hingga sekarang. Wilayah itu dikenal dengan sebutan ”Orogen Melanesia.”



Pada peta diatas, tampak pembagian dari fisiografis regional dari pulau Irian Jaya (New Guinea) yang tampak seperti seekor burung. Pulau ini terbagi menjadi bagian-bagian seperti bagian kepala, leher, badan dan ekor.


Irian Jaya (sekarang Papua) merupakan bagian dari pulau Irian (New Guinea) yang terdiri dari Irian Barat dan Irian Timur (Papua). Struktur tertua di Papua dihasilkan dari pergerakan bumi pada massa palezoikum namun hanya sedikit data yang diperoleh dan kurang memberikan pengaruh pada fasa tektonik pulau itu. Adanya aktivitas tektonik pada Miosen Akhir yang menghasilkan orogen Melanesia, menyebabkan pola struktur pulau tersebut menjadi sangat rumit dan khas. Oleh karena itu, proses orogenesa tersebut telah menentukan fisiografi Papua seperti yang terlihat sekarang (Dow dan Sukamto, 1984; op cit Darman dan Sidi, 2000).
            Keunikan bentuk seperti burung dari pulau itu memberikan konfigurasi pada gaya deformasi yang berbeda secara lengkap dari kerak benua antara Papua barat dan Papua timur.

-          Di Papua Timur, deformasi diihasilkan pada jalur deformasi dengan lebar 300 km, dengan arah barat – timur yang meluas sampai ke Papua Nugini dan mencakup hampir semua pegunungan yang menyusun badan burung. Jalur ini disebut New Guinea Mobile Belt.


-          Di Papua Barat, terdapat penyesuaian kerak sepanjang rekahan kerak utama yang melewati jalur sesar naik (mobile belt).
Read More

Rabu, 11 Desember 2013

Fisiografi Pulau Sumatra

Fisografi Regional

Secarah umum Fisiografi Pulau Sumatra dibagi menjadi beberapa bagian antara lain :

1 . Zona Kepulauan Busur muka : Merupakan kepulauan yang terangkat akibat adanya interaksi lempeng india australia dan lempeng euarasia. Memanjang mulai dari pulau nias, simelue dan tanimbar.

2. Zona Semangko : Merupakan daerah yang memnjang dari utara – selatan akibat dari terbentuknya sesar sumatar / sesar semangko.


3. Zona Jajaran Barisan : Zona Ini memanjang sepanjang sesar semangko

4. Zona dataran Rendah dan berbukit : Fisiografi daerah ini berupa dataran lembah dan terdiri dari cekungan sedimen

5. Zona Pegunungan Tiga Puluh

6. Zona Paparan Sunda 

Fisiografi Pulau Sumatra

Read More

Minggu, 17 November 2013

Potensi Asbes Di Indonesia

1. Pendahuluan 

Asbes merupakan mineral yang terdapat di alam. Asbes adalah istilah umum dari serat mineral yang terdapat di alam dan terdiri dari berberapa jenis seperti amosit, krosidolit, tremolit, antofilit, amfibol dan krisofil. Endapan asbes di Indonesia terdapat di beberapa lokasi, dan untuk pengembanganya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Mengingat hal tersebut, diperlukan informasi yang lengkap mengenai asbes di Indonesia. Kegunaan Asbes antara lain sebagai bahan baku industri, seperti industri barang dari karet, industri bahan bangunan, industri perlengkapan dan komponen kendaraan roda empat. Kebutuhan asebes sebagai bahan baku itu semakin meningkat dan diperlukan pengolahan asbes di Indonesia.

2. Kondisi Geologi Pembentukan Asbes

Asbes merupakan salah satu hasil dari transformasi batuan atau mineral lainnya. Ganesa asbes terbentuk kemungkinan lebih dari satu juta tahun yang lalu sehingga perlu dibedakan antara proses transformasi dengan kegiatan produksi asbes.
Variasi dari formasi asbes tidak terbentuk secara keseluruhan tetapi bersifat relatif dan saling mempengaruhi. Hal ini disebabkan antara lain oleh pergerakan tektonik lokal dan kondisi geologi, keadaan permukaan , rekahan, tekanan, keadaan temperatur, dan faktor intrusi lainnya. Proses transformasi membedakan dua kelompok asbes yaitu proses transformasi metamorfik serpentit dan jenis amfibol. Proses metamorfosa ini memperkaya material dengan SiO2.

Mineralogi
Asbes adalah istilah pasar untuk bermacam macam mineral yang dapat dipisah - pisahkan , sehingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya asbes dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu :
- Golongan Amfibol yaitu mineral Aktinolit, antofilit, amosit , tremolit, dan krosidolit.

- Golongan serpentinit yaitu minerla krisotil yang merupakan hidroksida dari magnesium silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11)H20.

Walaupun sudah jelas mineral asbes terdiri dari silikat kompleks tetapi sebenarnya silikat itu berasal dari molekul molekul Si4O11.

Beberapa komposisi mineral asbes adalah sebagai berikut :

Antofilit yaitu amfibol ortorombik dengan komposisi mineral (MgFe)II7(OH)2(SiO11)2.
Termolit komposisi mineralnya Ca2Mg5(OH)2(Si4O11)2.
Amosit adalah antofilit yang kaya akan besi atau feroantofilit dengan komposisi MgAlFe3(II)Fe(III)(OH)2(Si4O11)2.
Krosidolit disebut juga blue asbestos karena warna birunya termasuk dalam mineral Riebeckite yaitu suatu amfibol berbentuk monoklin. Komposisi kimianya Na2MgFe5(II)(OH)2 (SiO11)2.
aktinolit yaitu bila oksida datang menggantikan magnesium dari tremolit. Komposisi mineralnya C2(Mg,Fe)5 (OH) 2 (SiO11)2



Sifat Fisika dan Kimia

Sifat yang dimiliki suatu jenis mineral asbes dapat menentukan kualitas dari serabut asbes tersebut.

Sifat Fisika

Tegangan serabut asbes setelah pemanasan dan dalam campuran udara uap. Sifat utama dari asbes ialah penahan panas dan sifat ini tidak sama dengan setiap jenis asbes. Contoh blue asbestos pada suhu biasa lebih konstan kepadatannya daripada krisotil tetapi pada suhu lebih tinggi dari 200 C sebagian tegangan menjadi hilang, sedangkan krisotil sampai suhu 400 C hampir tidak terdapat kehilangan tegangan. Shingga krisotil lebih kuat dari asbestos  sampai suhu 400 C

Hasil Pengujian tegangan material , daya tahan material berat jenis dapat dilihat di bawah ini :

Krisotil berat jenis 2,5 gr/cm2 , tegangan 8-10 x 10.000 psi , panjang 22,4-30 km.
Antofilit berat jenis 3,2 gr/cm2, tegangan 4 , panjang 0,87 km
Amosit berat jenis 3,3 gr/cm2, tegangan 16 - 90 x 1000 psi, panjang 3,3 - 1,9 km
Blue asbestos berat jenis 3,4 gr/cm2, tegangan 1-3 x100.000 psi, panjang 22-66

Panjang daya datah krisotil (km) sama dengan kapas , rami manila, sutera. tegangan jenis dan panjang daya datah blue asbestos hanya dilampui oleh nilon dan kemungkinan rami eropa. Panjang daya tahan krisotil (kg/mm20 hanya dulampui oleh rami , nilon , dan blue asbestos.

Sifat kimia

Mineral asbes dapat dibedakan berdasarkan komposisi kimianya. suatu penelitian kimia analitis telah dilakukan terhadap krisotil Shabani dari Afrika selatan, terdapat perbedaan antara mineral krisotil terhadap serpentin dengan batuan induknya yang terdapat pada dinding atas dan bawah dari krisotil yang batuan sekitarnya tidak memiliki nilai komersial.

Asbes dalam asam pada berbagai suhu dan konsentrasi

Asbes dalam asam seperti HCOOH, H2SO4, H3PO4, HNO3, HCl dan asam citrik pada suhu yang berbeda akan terpengaruh beratnya. Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
Pengaruh asam terhadap krisotil , tidak pernah lebih dari 605 sedangkan untuk blue asbestos  lebih rendah dari 20%. Pada suhu 20 C blue asbestos kurang dipengaruhi oleh asam - asam anorganis dibandingkan dengan asam organis terhadap krisotil pada suhu yang sama. Pengaruh asam citrik buatan dan bukan buatan akan sama besar. Jika beratnya bertambah akan mempengaruhi tegangannya. Di atas 50 C blue asbestos lebih banyak dipengaruhi oleh asam citrik daripada asam formic. Terhadap krisotil asam - asam organis yang mendidih sangat merusak sehingga dalam keadaan panas akan kehilangan tegangan asbes.

Cara membedakan asbes dengan cairan Yodium
untuk membedakan jenis asbes yang satu dengan jenis lainnya, dapat dilakukan dengan menggunakan cairan Yodium yang diteteskan pada serabut asbes sampai menghasilkan warna. Dengan melihat reaksi warna Yodium pada gelas objekti diketahui bahwa krisotil sangat cepat diberi warna , kecepatan perwarnaan tidak sama untuk setiap asbes. Pengaruh cairannyodium pada serabut krisotil, memungkinkan adanya suatu sifat tertentu dari asbes. Demikian pula hanlnya , pada serpentin yang masif dan minerl - mineral sejenis seperti Mg silikat. Penelitian menunjukkan bahwa harga brucite atau Mg(OH)2 dan serpentin yang diwarnai cairan yodium serta perlakuan serpentin terhadap cairan yodium dapat diterangkan dengan dehidrasi.

Daya serap serat asbes
Daya serap serat asbes yaitu dengan adsorbsi yodium oleh krisotil. salah satu contoh adalah adsorbsi karbohidrat
Read More

Senin, 04 November 2013

Geologi Pulau Sumba

Pendahuluan

Pulau Sumba memiliki posisi yang khas terkait dengan busur Sunda-Banda yang merepresentasikan sebuah potongan terisolasi dari kerak benua terhadap busur kepulauan vulkanik aktif (Sumbawa, Flores) dalam cekungan muka busur, terletak di bagian utara pada transisi antara Palung Jawa (bidang subduksi) dengan Timor Trough (bidang kolisi). Hal tersebut tidak menunjukkan efek kompresi kuat, berbeda dengan pulau-pulau sistem busur sebelah luar (Savu, Roti, Timor), sedangkan unit magmatik menjadi bagian yang substansial pada stratigrafi Kapur Akhir hingga Paleogen.

Secara batimetri, Sumba merupakan punggungan yang memisahkan cekungan muka busur Savu (kedalaman > 3000 m) di timur dan cekungan muka busur Lombok (kedalaman > 4000 m) di barat. Studi seismik refraksi menunjukkan (Barber et al., 1981) bahwa Sumba merupakan kerak benua dengan tebal 24 km (Chamalaun et al., 1981). Berdasrkan studi tektonik yang dilengkapi data paleomagnetik dan geokimia, beberapa ahli menganggap Sumba merupakan mikrokontinen atau fragmen kontinen (Hamilton, 1979; Chamalaun dan Sunata, 1982; Wensink, 1994, 1997; Vroon et al., 1996; Soeria-Atmadja et al., 1998).

Tiga model geodinamik untuk Sumba telah dikemukakan oleh Chamalaun et al. (1982) dan Wensink (1994) yaitu sebagai berikut: (1) Semula Sumba merupakan bagian dari Kontinen Australia yang telah terpisah ketika cekungan Wharton telah terbentuk, terapung dan bergerak ke arah utara kemudian terperangkap di belakang Palung Jawa bagian timur (Audley-Charles, 1975; Otofuji et al., 1981); (2) Sumba pernah menjadi bagian dari Paparan Sunda yang kemudian terapung dan bergerak ke arah selatan selama pembukaan Cekungan Flores (Hamilton, 1979; Von der Borch et al., 1983; Rangin et al., 1990); dan (3) Sumba merupakan salah satu mikrokontinen atau bagian dari kontinen yang lebih besar di dalam Tethys, yang kemudian terfragmentasi (Chamalaun dan Sunata, 1982).


Stratigrafi

            Stratigrafi Sumba telah banyak didiskusikan oleh beberapa ahli (van Bemmelen, 1949; Laufer dan Kraeff, 1957; Burollet dan Salle, 1982; Chamalaun et al., 1982; Von der Borch et al., 1983; Fortuin et al., 1992; Effendi dan Apandi, 1994; Abdullah, 1994; Fortuin et al., 1994, 1997). Pulau Sumba tersusun dari sedimen tidak termetamorfosis hingga sedikit termetamorfosis berumur Mesozoikum, secara tidak selaras dilapisi oleh endapan berumur Tersier dan Kuarter yang sedikit sekali terdeformasi; ketebalan total mencapai lebih dari 1000 m (van Bemmelen, 1949). Teras-teras terumbu karang yang menutupi tepi bagian yang mengarah ke laut dari Formasi Sumba berumur Neogen, hampir secara kontinu tersingkap ke permukaan di sepanjang pantai barat, pantai utara dan pantai timur Sumba (Hamilton, 1979).

  1. Seri Mesozoikum

Batuan berumur Mesozoikum tersingkap ke permukaan terutama di sepanjang pantai seperti bagian selatan dari Sumba Barat (Patiala, Wanokaka dan Konda Maloba) dan pada bagian selatan dari Pegunungan Tanadaro (Sungai Nyengu dan Labung). Tipe sedimen berupa batulanau karbonatan dengan batulempung vulkanogenik, terkadang menunjukkan gejala-gejala metamorfisme tingkat rendah, berlapis dengan batupasir, konglomerat, batugambing dan runtuhan vulkaniklastik. Secara keseluruhan terpotong oleh intrusi berumur Kapur Akhir dengan kisaran komposisi dari mikrogabro hingga diorit-kuarsa, dan juga oleh dykes granodioritic serta kalk-alkalin berumur Paleogen. Sedimen menunjukkan struktur slump berskala besar dan perekahan yang kuat. Sedimen tersebut merupakan Formasi Lasipu (Prasetyo, 1981). Kumpulan mikrofosil di dalam beberapa sampel mengindikasikan umur Coniacian hingga Campanian Awal (Burollet dan Salle, 1982); banyak Inoceramus sp. hadir. Material-material detrital salah satunya memberikan kesan asal-muasal dari kontinen, atau lingkungan busur kepulauan; hal tersebut tampak terlihat pada kipas bawah laut berumur Mesozoikum dengan endapan laut dangkal (Von der Borch et al., 1983) atau lingkungan batial laut terbuka (Burollet dan Salle, 1982).

  1. Seri Paleogen

Selama Paleogen, Sumba merupakan bagian dari busur magmatik yang dikarakterisasi oleh seri batuan vulkanik kalk-alkalin (Sumba Barat) dan sedimen laut dangkal. Endapan yang berhubungan termasuk tuf, ignimbrit, greywackes, sisipan batugamping foraminifera, napal, mikro-konglomerat dan batulempung. Batuan tersebut secara tidak selaras dilapisi batuan berumur Mesozoikum dan bergiliran secara tidak selaras dilapisi oleh Seri Neogen.

  1. Seri Neogen

Seismik refleksi lepas pantai menunjukkan sedimen laut dalam berumur Neogen membentuk sikuen sedimenter awal dari cekungan muka busur yang menghilang ke arah punggungan (Fortuin et al., 1992; Van der Werff et al., 1994a, b; Van der Werff, 1995; Fortuin et al., 1997). Kejadian mereka merefleksikan posisi stabil dari Punggungan Sumba di dalam cekungan muka busur sejak inisiasi sistem palung-busur Sunda selama Oligosen Akhir dan Miosen Awal (Silver et al., 1983; Reed, 1985; Barberi et al., 1987). Sedimen Neogen di Sumba memperlihatkan dua fasies yang berbeda: pada bagian barat, mereka direpresentasikan kebanyakan oleh batugamping terumbu, batugamping bioklastik, batugamping chalky dan napal, berlapis dengan napal tufaan, sedangkan sedimen dari bagian timur Sumba didominasi endapan turbidit vulkanik dengan perlapisan kapur pelagic dan batugamping chalky (Fortuin et al., 1994). Pada bagian pusat Sumba, fasies sedimenter tersebut menunjukkan hubungan menjari. Batuan tersebut umumnya tidak terganggu secara tektonik.

  1. Seri Kuarter


Keseluruhan pulau telah mengalami pengangkatan dengan cepat terhadap elevasinya sekarang, seperti yang diindikasikan oleh teras-teras berumur Kuarter yang mencapai ketinggian tidak kurang dari 500 m (Jouannic et al., 1988), dengan kecepatan rata-rata 0.5 mm/tahun pada bagian utara dan tengah Sumba (Pirazzoli et al., 1991). Teras-teras tersebut terdiri dari batupasir, konglomerat, napal dan batugamping terumbu menonjol yang secara tidak selaras dilapisi sedimen berumur Neogen dengan kemiringan relatif tidak curam di sepanjang pantai barat, pantai utara dan pantai timur. Secara lokal, endapan berumur Kuarter diendapkan secara tidak selaras di atas batuan berumur Mesozoikum di sepanjang pantai baratdaya.    
Read More